Ucapan Idul Fitri

Di Indonesia setiap hari Lebaran (Idul Fitri) tiba semua orang mengucapkan selamat dengan bermacam-macam cara. Ada yang dengan pantun serius, pantun plesetan, ungkapan yang sangat puitis, dll. Nah, bagaimana yang dilakukan Nabi? Hampir semua ucapan yang beredar tidak ada riwayatnya kepada Rasulullah kecuali ucapan: Taqabbalallahu minaa wa minka, yang maknanya, “Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.” Maksudnya menerima di sini adalah menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan. Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar[Fathul Bari 2/446] : “Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata (yang artinya) : Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”. Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : Taqabbalallahu minnaa wa minka. Beberapa shahabat menambahkan ucapan shiyamana wa shiyamakum, yang artinya puasaku dan puasa kalian. Jadi ucapan ini bukan dari Rasulullah, melainkan dari para sahabat. Kemudian, untuk ucapan minal ‘aidin wal faizin itu sendiri adalah salah satu ungkapan yang seringkali diucapkan pada hari raya fithri. Sama sekali tidak bersumber dari sunnah nabi, melainkan merupakan ‘urf (kebiasaan) yang ada di suatu masyarakat, dalam hal ini ya di Indonesia saja. Sering kali kita salah kaprah mengartikan ucapan tersebut, karena biasanya diikuti dengan “mohon maaf lahir dan batin”. Jadi seolah-olah minal ‘aidin wal faizin itu artinya mohon maaf lahir dan batin. Padahal arti sesungguhnya bukan itu. Kata minal aidin wal faizin itu sebenarnya sebuah ungkapan harapan atau doa. Tapi masih ada penggalan yang terlewat. Seharusnya lafadz lengkapnya adalah ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin, artinya semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang). Sedangkan Makna Minal `Aidin wal Faizin menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab dari buku Lentera Hati “Minal `aidin wal faizin,” demikian harapan dan doa yang kita ucapkan kepada sanak keluarga dan handai tolan pada Idul Fitri. Apakah yang dimaksud dengan ucapan ini ? Sayang, kita tidak dapat merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kata `aidin, karena bentuk kata tersebut tidak bisa kita temukan di sana. Namun dari segi bahasa, minal `aidin berarti “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali.” Kembali di sini adalah kembali kepada fitrah, yakni “asal kejadian”, atau “kesucian”, atau “agama yang benar”. Setelah mengasah dan mengasuh jiwa – yaitu berpuasa – selama satu bulan, diharapkan setiap Muslim dapat kembali ke asal kejadiannya dengan menemukan “jati dirinya”, yaitu kembali suci sebagai mana ketika ia baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar. Ini semua menuntut keserasian hubungan, karena – menurut Rasulullah – al-aidin al-mu’amalah, yakni keserasian dengan sesama manusia, lingkungan, dan alam. Sementara itu, al-faizin diambil dari kata fawz yang berarti “keberuntungan” . Apakah “keberuntungan” yang kita harapkan itu Di sini kita dapat merujuk pada Al-Quran, karena 29 kali kata tersebut, dalam berbagai bentuknya, terulang. Menarik juga untuk diketengahkan bahwa Al-Quran hanya sekali menggunakan bentuk afuzu (saya beruntung). Itupun menggambarkan ucapan orang-orang munafik yang memahami “keberuntungan” sebagai keberuntungan yang bersifat material (baca QS 4:73) Bila kita telusuri Al-Quran yang berhubungan dengan konteks dan makna ayat-ayat yang menggunakan kata fawz, ditemukan bahwa seluruhnya (kecuali QS 4:73) mengandung makna “pengampunan dan keridhaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi.” Kalau demikian halnya, wal faizin harus dipahami dalam arti harapan dan doa, yaitu semoga kita termasuk orang-orang yang memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT sehingga kita semua mendapatkan kenikmatan surga-Nya. Salah satu syarat untuk memperoleh anugerah tersebut ditegaskan oleh Al-Quran dalam surah An-Nur ayat 22, yang menurut sejarah turunnya berkaitan dengan kasus Abubakar r.a. dengan salah seorang yang ikut ambil bagian dalam menyebarkan gosip terhadap putrinya sekaligus istri Nabi, Aisyah. Begitu marahnya Abubakar sehingga ia bersumpah untuk tidak memaafkan dan tidak memberi bantuan apapun kepadanya. Tuhan memberi petunjuk dalam ayat tersebut: Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 24:22). Marilah kita saling berlapang dada, mengulurkan tangan dan saling mengucapkan minal `aidin wal faizin. semoga kita dapat kembali mendapatkan jati diri kita semoga kita bersama memperoleh ampunan,ridha, dan kenikmatan surgawi. Amin.

keajaiban 10 Malam TErakhir Ramadhan

lailatul-qadr-660x320Ramadhan memang bulan istimewa. Bulan penuh makna, hikmah dan “keajaiban”. Semua itu tidak terdapat pada bulan yang lain. Sehingga ramadhan diberi julukan sebagai sayyidus syuhur atau penghulunya bulan. Tidak heran, karena di dalam bulan suci itu terkandung kedalaman makna spiritual maupun sosial. Sebuah makna yang menyatukan antara aspek lahiriyah dan bathiniyah, spiritual dan material, serta aspek duniawi dan ukhrawi. Sehingga segala aktifitas di dalamnya memiliki keistimewaan tersendiri dibanding dengan bulan-bulan selainnya. Wajar kalau Rasulullah saw., para sahabat, dan orang-orang saleh terdahulu senantiasa menjadikan ramadhan sebagai momen untuk ‘mengeruk’ sebanyak-banyaknya keuntungan pahala dengan semakin meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadah. Apalagi pada 10 malam terakhir, Rasulullah saw. yang kemudian diikuti oleh para sahabat lebih menggiatkan lagi ibadahnya. Aisyah ra. mengatakan:

« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَجْتَهِدُ في رَمَضَانَ مَا لاَ يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ، وَفِي العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْهُ مَا لا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ».

Rasulullah saw. sangat giat beribadah di bulan ramadhan melebihi ibadahnya di bulan yang lain, dan pada sepuluh malam terakhirnya beliau lebih giat lagi melebihi hari lainnya. (HR. Muslim)

215528_404090602982784_1084584665_nKeajaiban-keajaiban yang terdapat pada 10 malam terakhir bulan ramadhan telah banyak disebutkan di dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Diantaranya, pertama; terjadinya lailatul qadr yang merupakan malam di turunkannya al-Qur’an dan dicatatnya di lauhul mahfudz seluruh perkara yang akan terjadi di muka bumi pada tahun tersebut. Rasulullah saw. mewanti-wanti agar umatnya memperhatikan lailatul qadr pada 10 malam terakhir. Beliau bersabda:

« تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ».

Carilah lailatul qadr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan. (HR. Bukhori)

Kedua; orang yang beribadah shalat pada malam lailatul qadr maka dosanya yang telah lalu akan diampuni. “Dan barangsiapa yang berdiri (shalat sunat) pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Ibnu Abi Dunya dalam Fadhail Ramadhan)

Ketiga; segala kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Apalagi jika bertepatan dengan lailatul qadr maka satu amalan kebaikan pahalanya lebih baik dari amalan kebaikan yang dilakukan selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Allah swt. berfirman:

“malam kemuliaan (lailatul qadr) itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 3)

Sayyid Thanthawi dalam Al-Wasith menjelaskan, lailatul qadr lebih utama dari seribu bulan karena pada saat itu diturunkan al-Qur’an yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dan karena ibadah pada malam itu lebih banyak pahalanya dan lebih besar keutamaannya dari ibadah berbulan-bulan tanpa lailatul qadr.

Keempat: Allah tidak mentaqdirkan selain keselamatan pada malam lailatul qadr itu. Dimana hal ini tidak terjadi pada malam-malam lainnya yang terdapat keselamatan dan bencana. Pada malam itu pula para malaikat menyampaikan ucapan selamat kepada orang-orang beriman sampai terbitnya fajar. Penjelasan tersebut disampaikan An-Nasafi dalam Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil dan Az Zamakhsyari dalam Al Kasysyaf, ketika keduanya menafsirkan ayat ke 5 dari surat al Qadr.

dua1Dan masih banyak lagi keajaiban-keajaiban lainnya yang menegaskan keutamaan dan kelebihan bulan ramadhan khususnya pada 10 malam terakhir. Semua itu tentu akan semakin mengokohkan keimanan seorang mukmin dan lebih mendekatkan dirinya dengan Allah swt. karena berbagai ayat tersebut tentu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kemahahebatan dan keagungan-Nya. Dan bahwa Allah swt. sangat mencintai dan menyayangi hamba-Nya sehingga Dia sediakan satu bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang utama yang bisa dijadikan kesempatan oleh hamba-hamba-Nya untuk menambah pundi-pundi pahala untuk bekal hidup kelak di akhirat.

Menggapai Keajaiban

Berbagai kegiatan ibadah bisa dilakukan untuk mengisi ramadhan terutama pada sepuluh malam terakhir bulan suci itu. Dengan kegiatan itu kita akan menggapai keajaiban-keajaiban yang ada di dalamnya. Dan kita akan meraihnya secara penuh jika ada kesungguhan untuk melaksanakannya. Rasulullah saw. dan para sahabat ra. telah mencontohkan aktifitas ibadah yang penting dilakukan pada saat malam-malam tersebut diantaranya adalah:

I’tikaf. Yaitu diam di masjid dengan niat yang khusus dan disertai ibadah. Imam Nawawi dalam kitab An-Nihayah mengartikan i’tikaf sebagai menetapi sesuatu dan menempatinya. Maka orang yang menetap di masjid dengan melaksanakan ibadah di dalamnya disebut orang yang beri’tikaf. Rasulullah saw. biasa melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir ramadhan. Ibnu Umar ra. Berkata:
« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ »

Rasulullah saw. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. (HR. Mutafaq ‘alaih)

Memperbanyak bersedekah. Ibnu Abas ra. berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ، صَلىَّ الله عليه وسلم، أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا َيكوُنْ ُفِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ.

Rasulullah saw. adalah orang yang sangat dermawan kepada siapapun, dan pada bulan ramadhan beliau lebih dermawan lagi saat Jibril menemui beliau. (HR. Mutafaq ‘alaih)

Memperbanyak membaca al-Qur’an. Karena pahala membacanya akan dilipatgandakan melebihi pahala pada bulan selain ramadhan. Selain itu bulan ramadhan adalah bulan dimana al-Qur’an diturunkan pertama kali. Oleh karenanya para ulama terdahulu lebih banyak mengkhatamkan al-Qur’an dibulan ramadhan. Imam Syafi’i biasa mengkhatamkannya sebanyak 60 kali pada bulan ramadhan lebih banyak dari bulan lainya yang hanya satu kali dalam sehari semalam. Malaikat Jibril senantiasa mendatangi Rasulullah saw. pada bulan ramadhan untuk membacakan al- Qur’an kepada beliau. Ibnu Abas berkata: Jibril menemui Rasulullah saw. pada setiap malam dibulan ramadhan kemudian ia membacakan Qur’an kepada beliau saw. (HR. Mutafaq ‘alaih)
Melakukan ibadah umrah. Rasulullah saw. bersabda: “Umrahlah kamu pada bulan ramadhan, karena umrah pada bulan ramadhan sebanding dengan melaksanakan ibadah haji” (HR. An-Nasai)

Memperbanyak berdo’a. Dari Aisyah ra. ia berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana jika suatu malam aku mengetahui bahwa itu malam lailatul qadar, apa yang harus aku baca? Beliau bersabda, bacalah;
« اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنّي »

Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf, Engkau menyukai permintaan maaf maka ampunilah aku. (HR. Tirmidzi)

Memperbanyak shalat sunnah.
« مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

Barangsiapa yang bangun (untuk shalat) pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Mutafaq ‘alaih)

Meraih Cinta Allah

Segala amal nafilah atau ibadah sunnah yang kita lakukan dengan penuh ketulusan akan mendekatkan kita dengan Allah swt. dengan itu kita akan mendapatkan cinta-Nya. Cinta Allah kepada seorang hamba adalah anugrah yang tidak terhingga. Karena ia akan menjadi orang yang paling diperhatikan Allah. Ia pun akan senantiasa diliputi kasih dan sayang-Nya yang akan mendatangkan kepada kebahagiaan yang tiada bandingannya. Allah akan selalu membimbing setiap langkahnya sehingga ia tidak akan terpeleset ke jurang kenistaan. Seluruh tubuhnya akan terjaga, karena Allah akan mengendalikannya. Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah, Allah swt. berfirman:

« وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حَتَّى أحِبَّهُ ، فَإذَا أَحبَبتُهُ كُنْتُ سَمعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشي بِهَا ، وَإنْ سَأَلَني أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ »

Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan tangannya yang ia memegang dengannya, dan kakinya yang ia melangkah dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya dan jika meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan memberi perlindungan kepadanya. (HR. Bukhori)

Jika kita sudah tahu kehebatan sepuluh malam terakhir dan keutamaan yang ada di dalamnya maka apalagi yang membuat kita tidak tergerak untuk bersungguh-sungguh mendapatkannya? Masihkah kebiasaan berdesak-desakan di pasar dan pusat-pusat perbelanjaan akan terus kita lakukan? Padahal ada kegiatan yang seharusnya diprioritaskan dari hanya sekedar mempersiapkan hari raya dengan pakaian yang serba baru dan makanan yang beraneka ragam. Sementara ladang pahala yang lewat di hadapan kita dibiarkan berlalu tanpa perhatian. Mungkin kesempatan ini hanya tinggal sekarang diberikan Allah kepada kita. Kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu kembali dengan ramadhan? Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk meraih cinta-Nya. Amin

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/keajaiban-10-malam-terakhir-ramadhan.htm#.UfekdtKjy1U

BerBakti Kepada Kedua Orang Tua

doanakulamaAda setumpuk bukti, bahwa berbakti kepada kedua orang tua –dalam wacana Islam- adalah persoalan utama, dalm jejeran hukum-hukum yang terkait dengan berbuat baik terhadap sesama manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah cukup menegaskan wacana ‘berbakti’ itu, dalam banyak firman-Nya, demikian juga RasulullahSallallahu ’Alaihi Wa Sallam dalam banyak sabdanya, dengan memberikan ‘bingkai-bingkai’ khusus, agar dapat diperhatikan secara lebih saksama. Di antara tumpukan bukti tersebut adalah sebagai berikut:
Allah Subhanahu Wata’alamenggandengkan’ antara perintah untuk beribadah kepada-Nya, dengan perintah berbuat baik kepada orang tua:
“Allah Subhanahu Wata’ala telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)
Allah Subhanahu Wata’alamemerintahkan setiap muslim untuk berbuat baik kepada orang tuanya, meskipun mereka kafir “Kalau mereka berupaya mengajakmu berbuat kemusyrikan yang jelas-jelas tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, jangan turuti; namun perlakukanlah keduanya secara baik di dunia ini.” (Luqmaan : 15)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Ayat di atas menunjukkan diharuskannya memelihara hubungan baik dengan orang tua, meskipun dia kafir. Yakni dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. Bila mereka tidak membutuhkan harta, bisa dengan cara mengajak mereka masuk Islam..”
Berbakti kepada kedua orang tua adalah jihad.
Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam, Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Taat kepada orang tua adalah salah satu penyebab masuk Surga.
Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallambersabda, “Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang sempat berjumpa dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk Surga.” (Riwayat Muslim)
Beliau juga pernah bersabda:
“Orang tua adalah ‘pintu pertengahan’ menuju Surga. Bila engkau mau, silakan engkau pelihara. Bila tidak mau, silakan untuk tidak memperdulikannya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkomentar, “Hadits ini shahih.” Riwayat ini juga dinyatakan shahih, oleh Al-Albani.) Menurut para ulama, arti ‘pintu pertengahan’, yakni pintu terbaik.
Keridhaan Allah Subhanahu Wata’ala, berada di balik keridhaan orang tua.
“Keridhaan Allah Subhanahu Wata’alabergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah Subhanahu Wata’ala, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua.”
Berbakti kepada kedua orang tua membantu meraih pengampunan dosa.

Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam sambil mengadu, “Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sebuah perbuatan dosa.” Beliau bertanya, “Engkau masih mempunyai seorang ibu?” Lelaki itu menjawab, “Tidak.” “Bibi?” Tanya Rasulullah lagi. “Masih.” Jawabnya. Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam bersabda, “Kalau begitu, berbuat baiklah kepadanya.”Dalam pengertian yang ‘lebih kuat’, riwayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu, dapat membantu proses taubat dan pengampunan dosa. Mengingat, bakti kepada orang tua adalah amal ibadah yang paling utama.

Perlu ditegaskan kembali, bahwa birrul waalidain (berbakti kepada kedua orang tua), lebih dari sekadar berbuat ihsan (baik) kepada keduanya. Namun birrul walidain memiliki nilai-nilai tambah yang semakin ‘melejitkan’ makna kebaikan tersebut, sehingga menjadi sebuah ‘bakti’. Dan sekali lagi, bakti itu sendiripun bukanlah balasan yang setara untuk dapat mengimbangi kebaikan orang tua. Namun setidaknya, sudah dapat menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur.

Imam An-Nawaawi menjelaskan, “Arti birrul waalidain yaitu berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.”
Al-Imam Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa birrul waalidain atau bakti kepada orang tua, hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tiga bentuk kewajiban:
Pertama: Menaati segala perintah orang tua, kecuali dalam maksiat.
Kedua: Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua, atau diberikan oleh orang tua.
Ketiga: Membantu atau menolong orang tua, bila mereka membutuhkan.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (DQ. Al-Isra: 23-24)
Ini adalah perintah untuk mengesakan Sesembahan, setelah sebelumnya disampaikan larangan syirik. Ini adalah perintah yang diungkapkan dengan kata qadha yang artinya menakdirkan. Jadi, ini adalah perintah pasti, sepasti qadha Allah. Kata qadha memberi kesan penegasan terhadap perintah, selain makna pembatasan yang ditunjukkan oleh kalimat larangan yang disusul dengan pengecualian: “Supaya kamu jangan menyembah selain Dia…” Dari suasana ungkapan ini tampak jelas naungan penegasan dan pemantapan.
Jadi, setelah fondasi diletakkan dan dasar-dasar didirikan, maka disusul kemudian dengan tugas-tugas individu dan sosial. Tugas-tugas tersebut memperoleh sokongan dari keyakinan di dalam hati tentang Allah yang Maha Esa. Ia menyatukan antara motivasi dan tujuan dari tugas dan perbuatan.
Perekat pertama sesudah perekat akidah adalah perekat keluarga. Dari sini, konteks ayat mengaitkan birrul walidain (bakti kepada kedua orangtua) dengan ibadah Allah, sebagai pernyataan terhadap nilai bakti tersebut di sisi Allah:
Setelah mempelajari iman dan kaitannya dengan etika-etika sosial yang darinya lahir takaful ijtima’I (kerjasama dalam bermasyarakat), saat ini kita akan memasuki ruang yang paling spesifik dalam lingkaran interaksi sosial, yaitu Birrul walidain (bakti kepada orang tua).
“Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”
Dengan ungkapan-ungkapan yang lembut dan gambaran-gambaran yang inspiratif inilah Al-Qur’an Al-Karim menggugah emosi kebajikan dan kasih sayang di dahati anak-anak.
Hal itu karena kehidupan itu terdorong di jalannya oleh orang-orang yang masih hidup; mengarahkan perhatian mereka yang kuat ke arah depan. Yaitu kepada keluarga, kepada generasi baru, generasi masa depan. Jarang sekali kehidupan mengarahkan perhatian mereka ke arah belakang..ke arah orang tua..ke arah kehidupan masa silam..kepada generasi yang telah pergi! Dari sini, anak-anak perlu digugah emosinya dengan kuat agar mereka menoleh ke belakang, ke arah ayah dan ibu mereka.
Sebelum masuk ke inti pembahasan, ada catatan penting yang harus menjadi perhatian bersama dalam pembahasan birrul walidain; ialah Islam tidak hanya menyeru sang anak untuk melaksanakan birrul walidain, namun Islam juga menyeru kepada para walidain (orang tua) untuk mendidik anaknya dengan baik, terkhusus dalam ketaan kepada Allah dan Rasulul-Nya. Karena hal itu adalah modal dasar bagi seorang anak untuk akhirnya menjadi anak sholih yang berbakti kepada kedua orangtuanya. Dengan demikian, akan terjalin kerjasama dalam menjalani hubungan keluarga sebagaimana dalam bermasyarakat.
Gaya bahasa yang digunakan al-Quran dalam memerintahkan sikap bakti kepada orang tua ialah datang serangkai dengan perintah tauhid atau ke-imanan, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia“ . Dalam artian setelah manusia telah mengikrakan ke-imanannya kepada Allah, maka manusia memiliki tanggungjawab kedua, yaitu “Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”.
Jika kita bertanya, mengapa perintah birrul walidain begitu urgen sehingga ia datang setelah proses penghambaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala?? Al-Quran Kembali menjawab
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا
“Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”(Al-Ahqaf: 15)
Ketika orangtua berumur muda, kekuatan fisik masih mengiringinya, sehingga ia bertanggungjawab untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Namuun saat mereka berumur tua renta, dan anaknya sudah tumbuh dewasa berbaliklah roda tanggungjawab itu.
Para pembantu mungkin mampu merawatnya, menunjukkan sesuatu yang tidak lagi bisa dilihatnya, mengambilkan sesuatu yang tidak lagi bisa diambilnya dan mengiringnya dari suatu temnpat ke tempat lain. Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa diberikan oleh pembantu, ialah cinta dan kasih sayang. Hanya dari sang buah hatilah rasa cinta dan kasih sayang dapat diraihnya.
Kedua orang tua secara fitrah akan terdorong untuk mengayomi anak-anaknya; mengorbankan segala hal, termasuk diri sendiri. Seperti halnya tunas hijau menghisap setiap nutrisi dalam benih hingga hancur luluh; seperti anak burung yang menghisap setiap nutrisi yang ada dalam telor hingga tinggal cangkangnya, demikian pula anak-anak menghisap seluruh potensi, kesehatan, tenaga dan perhatian dari kedua orang tua, hingga ia menjadi orang tua yang lemah jika memang diberi usia yang panjang. Meski demikian, keduanya tetap merasa bahagia!
Adapun anak-anak, secepatnya mereka melupakan ini semua, dan terdorong oleh peran mereka ke arah depan. Kepada istri dan keluarga. Demikianlah kehidupan itu terdorong. Dari sini, orang tua tidak butuh nasihat untuk berbuat baik kepada anak-anak. Yang perlu digugah emosinya dengan kuat adalah anak-anak, agar mereka mengingat kewajiban terhadap generasi yang telah menghabiskan seluruh madunya hingga kering kerontang!
Dari sinilah muncul perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dalam bentuk qadha dari Allah yang mengandung arti perintah yang tegas, setelah perintah yang tegas untuk menyembah Allah.
Usia lanjut itu memiliki kesan tersendiri. Kondisi lemah di usia lanjut juga memiliki insprasinya sendiri. Kataعندكyang artinya “di sisimu” menggambarkan makna mencari perlindungan dan pengayoman dalam kondisi lanjut usia dan lemah. “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka…” Ini adalah tingkatan pertama di antara tingkatan-tingkatan pengayoman dan adab, yaitu seorang anak tidak boleh mengucapkan kata-kata yang menunjukkan kekesahan dan kejengkelan, serta kata-kata yang mengesankan penghinaan dan etika yang tidak baik. “Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Ini adalah tingkatan yang paling tinggi, yaitu berbicara kepada orang tua dengan hormat dan memuliakan.
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan…” Di sini ungkapan melembut dan melunak, hingga sampai ke makhluk hati yang paling dalam. Itulah kasih sayang yang sangat lembut, sehingga seolah-olah ia adalah sikap merendah, tidak mengangkat pandangan dan tidak menolak perintah. Dan seolah-olah sikap merendah itu punya sayap yang dikuncupkannya sebagai tanda kedamaian dan kepasrahan .Itulah ingatan yang sarat kasih sayang. Ingatan akan masa kecil yang lemah, dipelihara oleh kedua orang tua. Dan keduanya hari ini sama seperti kita di masa kanak-kanak; lemah dan membutuhkan penjagaan dan kasih sayang. Itulah tawajuh kepada Allah agar Dia merahmati keduanya, karena rahmat Allah itu lebih luas dan penjagaan Allah lebih menyeluruh. Allah lebih mampu untuk membalas keduanya atas darah dan hati yang mereka korbankan. Sesuat yang tidak bisa dibalas oleh anak-anak.
Belaian anak saat orang tua telah berumur lanjut ialah kenikmatan yang tak terhingga. Wajarlah kiranya al-Quran memberikan pengkhususan dalam birrul walidain ini saat kondisi mereka tua renta, yaitu:
1. Jangan mengatakan kata uffin (ah)
2. Jangan membentak
3. Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
4. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka dengan penuh kesayangan
5.Dan do’akanlah mereka.
Kata uffin dalam bahsa Arab berati ar-rafdu (menolak). Jadi janganlah kita mengatakan kata-kata yang mengandung makna menolak, terkhusus dalam memenuhi kebutuhan mereka. Karena pada umur lanjut inilah kebutuhan mereka memuncak, hampir pada setiap hitungan jam mereka membutuhkan kehadiran kita disisinya.

Sedemikian pentingnya perintah birrul walidain ini, sehingga keridhoan mereka dapat menghantarkan sang anak kedalam surga-Nya. Rasulullah saw bersabda “Barang siapa yang menajalani pagi harinya dalam keridhoan orang tuanya, maka baginya dibukakan dua pintu menuju syurga. Barang siapa yang menjalani sore keridhoan orang tuanya, maka baginya dibukakan dua pintu menuju syurga. Dan barang siapa menjalani pagi harinya dalam kemurkaan orangtuanya, maka baginya dibukakan dua pintu menuju neraka. Dan barang siapa menjalani sore harinya dalam kemurkaan orangtuanya, maka baginya dibukakan dua pintu menuju neraka ”.(HR. Darul Qutni dan Baihaqi)
Dengan demikian merugilah para anak yang hidup bersama orang tuanya di saat tua renta namun ia tidak bisa meraih surga, karena tidak bisa berbakti kepada keduanya. Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallammengatakan tentang ihwal mereka
عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِالْجَنَّةَ ».
“Dari Suhaili, dari ayahnya dan dari Abu Hurairah. Rosulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam bersabda : ”Merugilah ia (sampai 3 kali). Para Shahabat bertanya : ”siapa ya Rosulullah?Rosulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam bersabda :“Merugilah seseorang yang hidup bersama kedua orang tuanya atau salah satunya di saat mereka tua renta, namun ia tidak masuk surga” (HR. Muslim).
Terkait cara berbakti kepada orang tua, memulai dengan perkataan yang baik. Kemudian diiringi denganmeringankan apa-apa yang menjadi bebannya. Dan bakti yang tertinggi yang tak pernah dibatasi oleh tempat dan waktu ialah DOA. Do’a adalah bentuk bakti anak kepada orang tua seumur hidup-nya. Do’alah satu-satunya cara yang diajarkan Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallambagi anak-anak yang pernah menyakiti orangtuanya namun mereka meninggal sebelum ia memohon maaf kepadanya.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi, Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallambersabda : “Bahwasanya akan ada seorang hamba pada hari kiamat nanti yang diangkat derajatnya, kemudian ia berkata “Wahai tuhanku dari mana aku mendapatkan (derajat yang tinggi) ini??. Maka dikatakanlah kepadanya “Ini adalah dari istighfar (doa ampunan) anakamu untukmu” (HR.Baihaqi)
Adapun doa yang diajarkan, ialah sebagaimana termaktub dalam al-Quran :
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرً
“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (Al-Isra’: 24).
Itulah ingatan yang sarat kasih sayang. Ingatan akan masa kecil yang lemah, dipelihara oleh kedua orang tua. Dan keduanya hari ini sama seperti kita di masa kanak-kanak; lemah dan membutuhkan penjagaan dan kasih sayang. Itulah tawajuh kepada Allah agar Dia merahmati keduanya, karena rahmat Allah itu lebih luas dan penjagaan Allah lebih menyeluruh. Allah Subhanahu Wata’ala lebih mampu untuk membalas keduanya atas darah dan hati yang mereka korbankan. Sesuat yang tidak bisa dibalas oleh anak-anak.
Al Hafizh Abu Bakar Al Bazzar meriwayatkan dengan sanadnya dari Buraidah dari ayahnya:
“Seorang laki-laki sedang thawaf sambil menggendong ibunya. Ia membawa ibunya thawaf. Lalu ia bertanya kepada NabiSallallahu ’Alaihi Wa Sallam, “Apakah aku telah menunaikan haknya?” Nabi Sallallahu ’Alaihi Wa Sallammenjawab, “Tidak, meskipun untuk satu tarikan nafas kesakitan saat melahirkan.”

Dalam ayat lain Al-Quran mengajar doa yang begitu indah, ialah doa yang mencakup bagi kita, orang tua dan keturunan kita :
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Ya Allah.., tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al-Ahqaf : 15). Wallahu a’lam. (kutipan:http://abdullah-syauqi.abatasa.co.id)

Saksikan video dibawah ini : Cerita tentang Huwaish

KeIstimewaan dari SUJUD

sujud2Banyak dari kita umat muslim yang kurang mengetahui betapa bermanfaat dan bergunanya melakukan sholat 5 waktu, namun kita terkadang lebih memilih meninggalkan sholat untuk urusan-urusan dunia, baca selengkapnya tips jitu mengatasi malas sholat.dan ternyata sholat sangat membantu meningkatkan kesehatan tubuh kita salah satu gerakan sholat yang dapat membantu meningkatkan kesehatan adalah sujud,mau tau manfaat dari sujud dalam sholat

 Berikut adalah manfaat sujud 

1. Mengalirnya darah ke otak

Aliran getah bening dipompa kebagian leher dan ketiak. Posisi jantung diatas otak menyebabkan darah yang kaya akan oksigen

sujud-dan-otak1

bisa mengalir maksimal ke otak. Karena itu lakukan sujud dgn tuma’ninah agar darah mencukupi kapasitasnya ke otak. (Dr. Fidelma, neurolog dari Amerika)

2.Memacu kecerdasa otak

 Apabila otak mendapatkan pasokan darah dan kaya oksigen, maka dapat memacu kerja sel-selnya. Dengan kata

leftbrain

lain, sujud yang tuma’ninah dan terus menerus dapat memacu kecerdasan. (Prof. Sholeh, risetnya telah mendpt pengakuan dari Harvard Univesity, AS)

 3. Menjaga Oragan-organ

organ-tubuh-manusiaMelatih kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada, dimana terjadi kontraksi pada otot tersebut. Kebiasaan sujud mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali/fiksasi.

 4.Mencegah radiasi 

radiasi-ponsel-terhadap-otak Radiasi yang g ditimbulkan oleh teknologi listrik dapat memberikan efek samping dan membahayakan organ² tubuh, terutama otak. Dimana kalau dibiarkan akan menimbulkan penyakit kejang otot, radang tenggorokan, mudah lelah, stress,migrain, hingga pikun di usia dini.Nah ketika sujud, kelebihan ion² positif yang ada di dalam tubuh kita akan mengalir ke bumi, karena bumi adalah tempat ion2 negatif. Maka terjadilah proses netralisasi radiasi listrik dan magnet tersebut.

 sujud-sahwi-dalam-solat1Sujud yang sempurna adalah dengan menempelkan 7 anggota badan (dahi,hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki) ke bumi.(Dr. Muhammad Dhiyaa’uddin Hamid, dosen jurusan Biologi dan ketua department radiasi makanan pd Lembaga Penelitian Tekhnologi Radiasi)

Pesan & Nasehat

  • Suatu kaum atau seseorang yang hidupnya penuh kebencian dan permusuhan tak akan pernah tenang, terhormat dan berjaya selain hina dan menderita.
  • Jika kita memelihara kebencian dan dendam, maka seluruh waktu dan pikiran yang kita miliki akan habis dan kita tidak akan pernah menjadi orang yang produktif.
  • Masalah paling besar bangsa ini bukanlah karena kurangnya tanah lapang, namun karena kurangnya hati-hati yang lapang71a92b1e-f426-4e98-8b05-ae94777fd2f2
  • Kekurangan orang lain adalah ladang pahala bagi kita untuk memaafkannya, mendoakannya, memperbaikinya, dan menjaga aibnya.
  • Ketika kita merasa berjasa sedang orang lain merasa terhinakan, itu pertanda kita tengah gagal. Sukses itu juga diukur lewat kebersamaan.
  • Bertekadlah bahwa hidup yang sekali-kalinya ini tidak akan pernah merampas hak kebahagiaan dan ketenangan orang lain.
  • Bukan gelar atau jabatan yang membuat orang menjadi mulia. Jika kualitas pribadi buruk, semua itu hanyalah topeng tanpa wajah
  • Karakter kepemimpinan itu adalah mempengaruhi. Saat ini kita butuh orang yang pandai mempengaruhi ke jalan kebaikan
  • Mari kita bangun bangsa ini dengan fondasi kekuatan ruhiyah, sebab kekuatan ini memiliki sandaran yang teguh, kokoh dan kuat.
  • Perubahan zaman akan menghancurkan kita kalau ilmu dan wawasan kita tidak berubah lebih cepat daripada perubahanitu.
  • Ciri seorang pemimpin yang baik akan nampak dari kematangan pribadi, buah karya, serta integrasi antara kata dengan perbuatannya.
  • Seseorang tidak mendapatkan dari apa yang dia harapkan, tetapi akan mendapatkan dari apa yang dia kerjakan.
  • Banyak hal yang bisa dilakukan dengan kecerdasan, tapi cerdas tanpa hati nurani lebih berbahaya karena bisa membuat kejahatan yang lebih dahsyat.
  • Pastikanlah setiap perkataan harus melalui proses pertimbangan yang matang. Jangan sampai tergelincir dengan mengatakan sesuatu dusta.
  • Orang yang ikhlas tidak pernah terkecoh apalagi merindukan pujian. Sebab ia yakin pujian hanyalah sangkaan orang kepada kita belum tentu benar.
  • Hakikat orang miskin bukanlah mereka yang tidak mempunyai harta dan kekayaan, image-4e020e57d17c7-0000365801melainkan mereka yang tidak mempunyai iman dan ilmu.
  • Jika orang lain takut tidak punya uang, maka orang yang dinaungi hidayah takut kalau ia tidak mempunyai rasa jujur, rasa syukur dan jiwa besar.
  • Jika kita belum bisa membagikan harta, kalau kita tidak bisa membagikan kekayaan, maka bagikanlah contoh kebaikan.
  • Kesombongan bukanlah saat kita senang memakai pakaian bagus, namun kesombongan adalah tatkala kita meremehkan orang lain dan menolak kebenaran.
  • Termasuk diantara bakti kita kepada orang tua adalah bersungguh sungguh mendidik keturunan kita menjadi orang yang mulia.
  • Alangkah jeleknya sifat orang yang suka mengeluh atas segala kondisi yang dia alami. Dalam hatinya nampak tidak ada rasa syukur.
  • Kita harus bersabar tidak hanya dalam kesempitan, tetapi juga dalam kelapangan.
  • Barang siapa yang ingin dunia harus dengan ilmu, ingin akhirat harus dengan ilmu, ingin dunia dan akhirat harus dengan ilmu.
  • Sungguh bahagia apabila setiap manusia saling berlomba melayani,membantu,menghormati dan membahagiakan saudaranya.
  • Jangan pernah menyuruh orang lain sebelum menyuruh diri sendiri, jangan pernah melarang orang lain sebelum melarang diri sendiri.
  • Kekuatan doa akan jauh lebih efektif ketika dibarengi dengan kegigihan diri untuk melakukan perbaikan sikap hidup.
  • Seni yang paling baik dalam bersilaturahmi adalah banyak-banyak untuk mengingat dan mengakui kekurangan dan kesalahan sendiri.
  • Waspadalah ketika ibadah sudah mulai malas dan maksiat mulai sering dilakukan, karena itu adalah pertanda mulai memudarnya perhatian Allah kepada kita.
  • Pastikan kita sudah bersedekah hari ini, baik dengan materi, dengan ilmu, tenaga, atau minimal dengan senyuman yang tulus.
  • Tidak pernah ada koreksi yang paling aman selain koreksi dari keluarga sendiri karena mereka adalah darah daging kita.
  • Kemerdekaan hakiki adalah bila kita tidak diperbudak keinginan dipuji, dihargai, dihormati, dibalas budi oleh orang lain. Kemerdekaan adalah milik orang yang ikhlas.
  • Diri ini akan sengsara bila selalu menginginkan orang lain menilai lebih dari kenyataan, jadilah manusia merdeka yang berani tampil apa adanya.
  • Waspadalah terhadap barang mahal, bagus dan mewah, karena akan memperbudak diri kita, takut rusak,hilang, minimal diperbudak ingin pamer.
  • Orang yang sibuk membangun topeng akan selalu dijajah topengnya sendiri. Orang yang membangun pribadi tak gentar kehilangan topeng.
  • Semakin banyak keinginan duniawi semakin mencuri pikiran, waktu tenaga dan kebahagiaan kita padahal kebahagiaan dan kecukupan adalah milik orang yang bersyukur.
  • Semakin sedikit keinginan duniawi untuk kepuasan diri, semankin banyak keinginan duniawi untuk beramal, niscaya semakin tenang dan mulia hidup ini.
  • Para pembohong akan dipenjara oleh kebohongannya sendiri, orang yang jujur akan menikmati kemerdekaan dalam hidupnya.
  • Jujur kepada diri tak berharap orang lain menilai lebih dari kenyataan, adalah kunci ketenangan diri. Jangan gadaikan diri dengan menipu diri.
  • Dengan membiasakan diri hidup mewah, secara tidak langsung kita telah memancing kecemburuan orang lain.
  • Bersikaplah ramah karena ia lebih memudahkan urusan. Tanpa keramahan setiap urusan akan terasa kaku dan menegangkan.
  • Berhati hatilah jika kita zhalim kepada orang lain yang sedang berusaha taat di jalan Allah, hal itu bisa mengundang kemurkaanNya.
  • Jangan menyalahkan siapapun jika hidup kita terpuruk. Pada dasarnya, semua itu terjadi karena kita zhalim terhadap nikmat Allah. (dikutip dari :Nasehat AA.Gym_MQ)

Sukses Bulan Ramadhan

Sukses Menuai Berkah di Bulan Ramadhan

Alangkah beruntung bagi siapapun yang mengisi Ramadhan dengan amalan unggulan. Dia menyadari betul akan dilipatgandakannya amalan sehingga sangat disayangkan jika detik-detiknya tanpa dzikir, menit-menitnya tanpa tilawah, jam demi jamnya tanpa sedekah, dan hari-harinya tanpa silaturahmi.

Rumusan awal yang bisa dijadikan pondasi kesuksesan menuai berkah ini dengan benar, sesuai aturan. Seperti aturan dalam berbuka. Selapar dan sehaus apapun jika adzan maghrib belum tiba, hidangan yang ada di depan mata belum halal untuk disantap walaupun hari sudah gelap. Pun dalam sahur. Jika waktunya tiba untuk memberhentikan makan, walaupun masih lapar, tetap tidak bisa dipaksakan untuk meneruskan selain harus menghentikan segera. Karena jika diteruskan bisa membatalkan puasa. Begitu halnya aturan beribadah harus istiqamah atau terus-menerus. Seseorang yang mempunyai targetan khatam selama ramadhan. Tanpa harus bersusah-susah membacanya tiap hari, maka ia cukup menamatkannya dalam satu hari. Ini tidak sesuai dengan tuntunan. Karena Allah lebih menyukai amalan yang sedikit tapi terus-menerus daripada besar tapi sebentar.

Selain diperoleh dari ibadah maghdah, keberkahan Ramadhan dapat diperoleh dari kepedulian kita terhadap sesama. Kita dituntut untuk bisa merasakan apa yang orang lain alami. Rasa lapar, haus yang mungkin baru kita rasakan di saat shaum sekarang, itu berbeda dengan yang dialami orang lain yang sehari-harinya justru harus menahan lapar dan haus. Itupun tidak mudah didapat selain harus bersimba keringat atau meminta-minta menjual rasa malu demi sebungkus nasi atau segelas air. Berkahnya dari sedekah dengan dilipatgandakannya pahala sepuluh sampai tujuh puluh. Subhanallah perdagangan diluar biasanya. Yang tadinya satu kebaikan dibalas dengan satu kebaikan, ini diganti dengan berlipat-lipat.

Anehnya, tidak semua orang menyadarinya. Kebersahajaan hidup yang menjadi titik awal kepedulian, sering dihiraukan maka yang terjadi kepedulian terabaikan. Bersahaja bukan berati pelit dalam mengeluarkan biaya sehari-hari. Tapi bersahaja menggunakan sebaik-baiknya harta yang kita miliki untuk kemaslahatan. Seperti halnya bersedekah yang tidak akan rugi bagi siapapun yang mengeluarkannya. Seperti halnya hadits rasul ”Sedekah itu tidak menjadikan seseorang miskin selain bertambah, bertambah, dan bertambah”.

Ridha Atas Ketentuan Allah

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk selalu yakin dengan pertolongan-Nya. Mengapa? Karena keyakinan berbanding lurus dengan pertolongan-Nya. Semakin berprasangka baik atas ketentuan Allah, maka Allah pun dengan mudah menolong kita.

Tidak ada musibah satu pun yang menimpa kecuali dengan seizin Allah. Setiap tetesan air hujan terjadi atas izin-Nya. Terpeleset, terjadi dengan izin-Nya. Makan ikan durinya melintang ditenggorokkan, akan terjadi dengan seizin Allah. Yang jadi masalah, kita ridha tidak? Oleh karena itu, kita harus menghadapi semuanya dengan penuh keimanan. Ketika diuji cepat taati Allah, taati rasul-Nya.

Pertolongan Allah tidak harus sesuai yang kita inginkan. Allah tahu persis apa yang dibutuhkan kita saat ini. Maka, kita tidak perlu marah ketka keinginan kita belum terkabul atau ketika kejadian terjadi tidak sesuai dengan yang kita inginkan, karena bisa jadi itu yang terbaik bagi kita. Contohnya, suatu saat mobil yang kita tumpangi bannya meletus sehingga tidak memungkinkan meneruskan perjalanan. Kita berharap ada orang yang mau memberi tumpangan atau yang meminjamkan dongkrak. Ternyata, tidak ada sama sekali. Maklum saja, kita berada di hutan yang jarang dilewati kendaraan. Hari beranjak malam, mau tidak mau harus menginap di mobil. Pada saat itu, mungkin kita akan marah kesal. Merasa diri paling sengsara. Kita tidak pernah berpikir ada maksud dibalik ujian itu. Padahal, bisa jadi itu adalah kasih sayang Allah.

Maka, ketika ditimpa musibah kita dianjurkan untuk berinfak. Saat kita menolong orang lain melalui uang yang kita berikan, maka Allah pun dengan mudah menolong kita. Allah mengisyaratkan orang yang beruntung itu yang terpelihara dari kekikiran, dan dari sifat mementingkan diri sendiri. Bayangkan, kesulitan datang kita tetap menolong orang lain. Itulah yang mendatangkan pertolongan Allah SWT. Oleh karena itu, mengapa setiap pagi dianjurkan untuk berinfak. Rupanya hal itu yang akan menjadi penolak bala, pembuka pertolongan Allah, dilipatgandakan rezeki, dan hikmah dari setiap kejadian akan tersingkap.

Dengan demikian, nikmati setiap ujian sebagai kasih sayang Allah. Syukuri setiap kejadian dengan penuh keimanan. Yakini bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan diri kita. Wallahu a’lam bishshawwab.

Cerdas Menyikapi Kematian

Akhir-akhir ini negara kita kembali ditimpa bencana. Pesawat yang hilang beberapa minggu lalu, sampai kini belum ditemukan. Isu beredar memberi isyarat puluhan orang meninggal. Banjir, gempa, wabah flu burung pun turut menambah keprihatinan bangsa. Dan, tak sedikit yang meninggal karenanya. Namun, perlu kita yakini, setiap bencana tidak akan terjadi begitu saja.

Sebagai orang yang beriman, harus menyadari bahwa semua yang terjadi atas izin Allah SWT. Manusia, alam, kehidupan, termasuk kematian ada dalam genggaman-Nya. Memang sulit untuk tetap menyadarinya. Namun, kita harus terus berlatih, menyadarkan diri bahwa bencana kematian, adalah hal manusiawi yang berlaku bagi siapa saja.

Bagi sahabat yang sedang dirundung duka atas kepergian saudaranya, jangan sampai berlarut-larut. Sebaliknya kita harus menjadi ladang amal untuk terus mendoakan mereka. Karena mereka lebih membutuhkan doa ketimbang perasaan sedih. Apalagi meninggal di dunia tidak  berarti putus peluang untuk bertemu lagi. Seharusnya ini menjadi motivasi bagi kita agar kian produktif dalam hidup. Sebagai bekal untuk kehidupan yang lebih kekal.

Kita juga harus belajar untuk tidak membenci orang yang sepertinya menjadi jalan kematian saudara kita. Sikap arif itu lebih baik. Di satu sisi, memang bencana, di lain sisi itu ketentuan Allah.

Semoga Allah memberi kemampuan bagi kita untuk senantiasa menjadi orang yang cerdas. Orang yang senantiasa mengingat mati dan mempersiapkan bekal untuk mati. Dan, semoga kita diberi kesanggupan untuk menyingkap setiap hikmah dibalik bencana. Wallahu a’lam bishshawwab.

 Syarat Amal Diterima

Terkadang kita merasa cukup dengan apa yang kita lakukan. Shalat, zakat, puasa atau sedekah dirasa bisa menjadi bekal d ihari perhitungan. Namun, jangan dulu berbangga karena bisa jadi shalat yang kitategakkan, zakat atau sedekah yang kita keluarkan, dan puasa yang kita lakukan, tidak ada nilainya di sisi Allah. Lalu, hal apa yang menjadi amalan kita diterima?

Pertama, niat yang ikhlas. Ikhlas mengandung arti bersih dari segala maksud-maksud pribadi, bersih dari segala pamrih dan riya, dan bersih dari segala yang tidak disukai Allah SWT. Manusia yang ikhlas, gerak perilakunya sama sekali tidak dipengaruhi oleh ada tidaknya penghargaan. Orientasi hidupnya jelas dan tegas. Langkahnya pasti dan penh harapan. Ia akan tetap bersemangat untuk berbuat kebaikan saat dipuji atau pun dicaci. Tak ada kata frustasi dalam hidupnya, jiwanya merdeka, karena hanya Allah yang menjadi tujuan hidupnya.

Kedua, amal yang benar. Bersyukurlah kita punya pedoman hidup yang jelas yaitu Al-Quran. Segala gerak sudah ada panduannya. Baik berhubungan dengan Alllah, manusia, tumbuhan, sampai binatang ada etikanya. Subhanallah, kita patut berbangga menjadi seorang muslim. Setidaknya jika kita taat maka sudah dipastikan amalan yang kita lakukan dicatat malaikat.

Ketiga, tawakal. Tawakal artinya berpasrah diri. Maksudnya menyerahkan semua urusan pada sang Pemilik Urusan. Namun, jangan dulu pasrah begitu saja pada ketentuan-Nya tapi harus diiringi dengan ikhtiar dan doa. Seperti orang yang mau ujian. Nilai baik tidak diperoleh begitu saja dengan hanya berprasangka baik kepada guru tapi harus diawali dengan usaha dan doa.

Dengan demikian, saudaraku, dengan niat yang ikhlas, amal yang benar dan diakhiri tawakal semakin memperjelas kita untuk lebih berhati-hati dalam  beramal. Jangan sampai amalan kita tertolak karena kurangnya ilmu. Wallahu a’lam bishshawwab.

 Mengukur Kemampuan Diri

Salah satu hal penting dalam manajemen diri adalah ketka kita mampu mengukur keterampilan diri sendiri. Artinya, kita mampu dengan jujur menilai diri sendiri. Ketika ditawarin pekerjaan baru, perlu dipertimbangkan apakah sesuai dengan kemampuan diri atau tidak. Seandainya tidak, lebih baik tidak diterima. Dan, jika iya, jangan ditunda-tunda. Mencobanya bukan suatu kesalahan.

Dalam mengukur diri pun jangan sampai kebablasan. Percaya diri yang berlebihan dapat membuat seseorang menjadi ceroboh, tidak mau mendengar pendapat orang lain, tidak memerlukan pemikiran orang lain.

Perasaan minder pun salah satu ciri seseorang salah dalam mengukur diri. Biasanya perasaan minder akan menyebabkan seseorang sering mendramatisasi kekurangan dirinya, seakan-akan kekurangannya lebih dominan. Padahal sebenarnya dia mempunyai kemampuan, tetapi justru tenggelam oleh rasa mindernya.

Terlalu percaya diri akan menimbulkan masalah, kurang percaya diri juga akan menimbulkan masalah. Dari sini bisa disimpulkan bahwa orang yang tidak mengenal dirinya dengan tepat, maka dia hanya akan menimbulkan masalah ketika berinteraksi dengan lingkungannya.

Dengan demikian, diperlukan kemampuan untuk melihat diri dengan jujur. Pujian yang diberikan kepada kita memang terkadang dapat memberikan motivasi, tetapi jika tidak realistis akan berakibat kurang baik. Justru cacian merupakan feedback dari perbuatan yang kita lakukan. Cacian juga terkadang tidak rrealistis tetapi bisa menjadi masukan terhadap kekurangan kita walaupun cara menyampaikannya kurang etis. Itulah sebabnya kita harus terampil mengukur kemampuan diri secara proporsional, agar memiliki pengembangan diri yang baik.

Semoga kita benar-benar menjadi orang yang selalu dapat membaca situasi dengan cermat, karena tanpa kemampuan membaca situasi kita biasanya salah dalam menempatkan diri. Bukankah keadilan itu juga berarti kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Wallahu a’lam bishshawwab.

 Hikmah Dibalik Derita

Orang-orang yang dibesarkan dalam kondisi berkekurangan dalam hidupnya biasanya punya kemampuan untuk maju. Ia akan meraih kesuksesan karena jerih payahnya. Ibarat pohon atau tumbuhan yang tumbuh di padang pasir; batang dan dahannya kokoh dan  kuat. Berbeda dengan tumbuhan yang hidup di daerah pegunngan; batang dan dahannya lembek dan mudah patah.

Begitu juga dengan orang-orang yang terbiasa dalam kesulitan dan derita, jiwanya pasti akan lebih kuat dan tabah dalam hidupnya. Ia akan biasa dan tidak lagi mengeluh ketika musibah datang kepadanya kecuali musibah yang besar. Mereka yang menderita biasanya tergerak untuk melakukan ikhtiar agar bisa memenuhi semua kebuuhannya.

Sebab, dengan ikhtiar yang dilakukannya itu menjadi sebuah bukti bahwa ia tidak menggantungkan dirinya ke makhluk dan benda-benda, tapi langsung kepada Allah SWT. Itulah sebabnya Rasulullah SAW sangat menganjurkan umat Islam untuk ikhtiar secara maksimal. Ikhtiar tersebut merupakan bukti ia memanfaatkan segala potensi dan kemampuan yang diberikan Allah SWT kepadanya.

Inilah salah satu bukti syukur. Inilah sebuah ajaran yang indah dari Islam bahwa manusia harus yakin dengan kemampuan dirinya dan menyerahkan segala persoalan hanya kepada Allah Yang Maha Menguasai kehidupan kita. Allah Maha Tahu semua kebutuhan dan keinginan kita. Semua yang tampak dan tersembunyi Allah ketahui.

Karena itu, untuk menggapai yang diinginkan dan kita butuhkan perlu diusahakan dengan kerja keras, tekun, ulet dan pantang menyerah. Selain harus ikhtiar, kita pun dianjurkan tawakal. Mereka yang tidak tawakal hidupnya akan dirasuki berbagai kekecewaan, menderita batin, senantiasa was-was atau takut, dan kehilangan rasa nikmat.

Karenanya, seorang muslim yang baik tidak akan menyia-nyiakan setiap kejadian dan peristiwa yang dialaminya. Ia akan berupaya mencari hikmah di balik setiap kejadian. Setiap kejadian adalah pendidikan. Apapun bentuknya, itu merupakan cara Allah mengingatkan dan menyadarkan betapa pentingnya memahami nilai agama-agama dalam kehidupan kita. Ingatlah, Allah SWT merupakan sumber atas segala masalah yang menyangkut kehidupan kita. Saudaraku berharaplah kepada Allah Yang Maha Mengetahui agar senantiasa memudahkan urusan kita.

 Waktu Terbaik Seorang Hamba

Sebaik-baik saat hidup kita adalah saat di mana kita merasa sangat membutuhkan Allah. Ketika kita merasa tidak berdaya, tidak berarti apa-apa. Sesungguhnya itulah saat terbaik seorang hamba.

Maka, jika ada yang bertanya, apakah rezeki yang paling besar? Jawabannya adalah saat kita diberikan taufik, menjadi orang yang tidak berdaya di mata Allah. Orang seperti ini merasa segala ilmu, pengalaman, kemuliaan yang boleh jadi didapatkannya, tidak berarti apa-apa di sisi Allah. Yang ada hanyalah rasa malu kepada Allah.

Sebaliknya, ketika kita merasa bisa, merasa mampu. Menganggap diri memiliki ilmu, pengetahuan, amal shaleh, maka itulah hijab yang membuat kita terhalang dari pertolongan Allah. Karena saat paling mustajabnya doa adalah ketika ita mengaku tidak berdaya apa-apa, hina, kotor, bahkan merasa tidak mempunyai kebaikan sedikit pun yang bisa dipersembahkan kepada Allah. Sekaligus, ia juga mengakui karunia Allah yang sangat besar, banyak, tak terhitung yang senantiasa dilimpahkan kepadanya. Sejatinya, pada waktu seperti itulah saat terbaik seorang manusia.

Dan jika tidak. Jika merasa diri memiliki semuanya, Allah akan memberikan ’bonus’ yang akan merusak dirinya. Pertama, akan dicabut ketenangan hati dari diri. Selalu resah dan gelisah. Tidak pernah tenang menghadapi apa pun. Bagaimanakah orang seperti ini akan menikmati hidupnya?

Bonus kedua, setiap menghadapi sebuah masalah, akan berbuah masalah baru. Atau masalah lainnya yang juga pelik. Segala upaya yang dikerahkan untuk menyelesaikan masalah tidak berhasil, karena tidak dituntun Allah. Sungguh menyedihkan orang seperti ini, hidupnya tidak pernah tenang karena tidak bisa menyelesaikan masalahnya.

Jadi bila ingin menikmati hidup bahagia, belajarlah terus merendahkan diri di hadapan Allah. Merasa diri tidak memiliki apa pun, semuanya hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa serta merta diambil Allah. Dan juga harus merasa diri hina, banyak melakukan dosa dan tidak memiliki amal shalih, sehingga senantiasa menjadi motivasi untuk terus beramal terbaik. Itulah saat terbaik seorang hamba yang sangat disukai Allah. Kalau sudah demikian, pasti akan tersingkap hijab seorang hamba dan allah, niscaya hanya kebahagiaan hidup yang akan dirasakan seorang hamba itu.

Semoga kita dimampukan Allah menjadi orang yang senantiasa malu, merunduk kepada Allah. Sangat malu, tidak ada apa-apanya. Karena, tidaklah ada orang yang merendahkan diri dan hatinya kecuali akan diangkat derajatnya oleh Allah. InsyaAllah.

 Menyiasati Tipu daya Setan

Setan, Allah ciptakan untuk menyesatkan manusia. Apakah manusia akan taat terhadap perintah Allah, atau taat pada perintahnya. Jika taat pada Allah maka gagal lah usahanya, dan jika taat pada dirinya, maka berhasilah dia menjadi temannya. Maka wajar jika setan lebih suka memburu orang-orang beriman yang mendekatkan diri kepada Allah SWT dibanding manusia yang menjadi temannya.

Banyak jalan yang dilakukan setan dalam menyesatkan manusia, diantaranya, pertama, dengan membisiki hawa nafsu manusia agar senang pada pujian, penghargaan. Sehingga orang yang berhasil dikelabuinya, akan berupaya sekuat tenaga agar ia dihormati dan dihargai orang lain. Kedua, melalui panca indera. Dia bisikan mata untuk melihat pemandangan yang indah namun penuh maksiat. Telinga dia ajak mendengarkan yang mudharat daripada yang manfaat. Mulut, lebih suka membicarakan orang lain daripada dzikir, dan lain-lain. Strategi ketiga melalui sikap malas dalam beribadah kepada Allah. Seperti, lalai shalat tepat waktu dengan dalil jauh, enggan tahajud karena dingin dan mengantuk, atau membaca al-Quran.

Sesungguhnya, tipu daya setan tersebut dapat dihindari dengan berlindung kepada Allah SWT. Caranya, pertama, ketika ada pujian dari orang lain kepada kita. Kembalikan pujian itu kepada Allah karena Dialah yang Maha hebat, dan kita hanyalah hamba yang bisa sukses jika ada ridha dari-Nya. Untuk itu waspadalah. Jika orang memuji kita, sesungguhnya pujian itu semu.

Kedua, untuk menghindari godaan setan yang merasuk melalui panca indera, bisa disiasati dengan menempatkan panca indera sesuai haknya, yaitu sesuai dengan yang dianjurkan Allah SWT. Mulut, mata, telinga, tangan dan kaki kita Allah berikan untuk digunakan sebaik-baiknya, untuk beribadah kepada Allah.

Ketiga, sikap malas dengan melakukan hal yang sebaliknya dari yang dikehendaki setan. Jika malas tahajud, lawanlah. Bangun, wudhu dan shalat tahajjud segera. Begitu pula yang lainnya. Dengan begitu, lama-kelamaan kegiatan yang awalnya sulit kita kerjakan, akan menjadi kebiasaan yang gampang kita lakukan. Jangan lewatkan dzikir dan doa.

Saudaraku, janganlah takut kepada setan terkutuk. Ia hanya membisiki akan mampu mempengaruhi, manusia, bukan menerkam atau membunuh kita. Yang membuat kita tidak berdaya adalah ketika kita menuruti bisikannya begitu saja. Berusaha dan berdoalah semoga Allah SWT melindungi diri kita dari godaan setan yang terkutuk. Wallahu a’lam bishshawwab.

 Ikhlas, Kunci Kesuksesan

Setiap orang pasti menginginkan kesuksesan dalam hidupnya, maka dengan bersandar kepada Allah, keinginannya itu akan mudah diraih. Tidak hanya itu diperlukan juga sikap ikhlas karena dengan sikap ini yang menjadi sandaran dalam hidup hanyalah Allah bukan suami, teman, atasan maupun jabatan.

Adapun keutamaan dari ikhlas itu sendiri diantaranya: pertama, tenang. Karena yang dituju keridhaan Allah, maka setiap gerak langkahnya tidak dipengaruhi oleh ada tidaknya pujian. Seperti halnya seorang karyawan tidak akan mengurangi keikhlasan dalam bekerja di kala tidak ada atasan. Juga tidak akan melihat besar kecilnya gaji. Dia meyakini betul pahala dari Allah lebih besar. Kedua, jiwanya akan semakin kuat. Dia tidak peduli dengan ringan tidakya suatu beban, rumit tidaknya pekerjaan. Dia meyakini betul setiap beban adalah ujian yang harus dihadapi. Bahkan di kala menghadapi suatu permasalahan yang berat dijadikan sebagai tantangan yang akan memperkuat jiwanya. Ketiga, menikmati amal. Setiap detik yang dia lalui sebagai bukti penghambaan kepada sang Khalik. Maka hatinya terpaut akan kebesaran Allah. Keempat, amalnya tanpa sia-sia. Sekecil apapun amalan yang dilakukan, baginya akan meringankan dosa. Seperti halnya meringankan duri di jalan. Walaupun dianggap kecil, bagi dia berpahala besar.

Keikhlasan tidak hanya diukur pada saat pelaksanaannya saja tapi juga sebelum dan sesudahnya. Terkadang kita menilai keikhlasan seseorang pada saat pelaksanaannya saja. Lupa bahwa meluruskan niat sebelum beramal, dan evaluasi setelahnya akan mempengaruhi sejauh mana keikhlasan dia dalam berbuat. Jadi, seseorang yang lulus di awal belum tentu lulus di tengah, lulus di tengah belum tentu lulus di akhir.

Dengan memperhitungkan sepenuhnya bahwa Allah lah yang dituju, akan semakin tenang, akan memperkuat jiwa, menikmati setiap amalnya. Denan demikian, semakin sukses hidup kita maka semakin bahagia, tenang dalam hidup. Semoga kita digolongkan sebagai orang yang ikhlas, sehingga kesuksesan dalam hidup mudah diraih. Wallahu a’lam bishshawwab.

 Selamat Dunia Akhirat dengan Lima ’At’

Kehidupan akan terus bergulir seiring dengan bergulirnya waktu. Saat ini kita berada di alam dunia, suatu saat kita pun akan berada di alam akhirat. Dengan demikian, keselamatan dunia dan akhirat akan menjadi tujuan utama di saat kita masih hidup. Untuk menghantarkan keselamatan itu, kita kenal dengan rumus lima at.

Pertama, tekad yang kuat. Besar kecilnya keberhasilan cita-cita bergantung pada tekadnya. Jika tekadnya kuat, dapat dipastikan apa yang dicita-citakan akan mudah di raih. Pun cita-cita ingin selamat dunia dan akhirat, tekad yang disertai amalan pun harus terus dipancangkan. Hal yang sekiranya tidak membawa keselamatan segera tinggalkan.

Kedua, perbanyak taubat. Dapat dipastikan setiap orang tidak lepas dari dosa. Maka langkah awal untuk menyelamatkan diri segera utuk bertaubat. Jangan ditunda-tunda. Jangan sampai kita mati dalam keadaan belum taubat. Naudzubillah.

Ketiga, hindari maksiat. Terkadang kita memaknai maksiat jika berbuat mesum. Padahal, tidak selamanya seperti itu. Sadar ataupun tidak kita pun sering mengalaminya. Seperti melihat orang yang bukan muhrim. Menatapnya dengan penuh ketakjuban. Yang pada akhirnya menjerumuskan pada aksi kejahatan. Untuk itu, segera hindari.

Keempat, tingkatkan taat. Tidak ada jalan lain bagi kita untuk terus mendekatkan diri pada ketaatan selain taat pada aturan yang sudah Allah siratkan dan pada apa-apa yang Rasul anjurkan.

Kelima, tebarkan manfaat. Dalam sabdanya Rasul berfirman bahwa sebaik-baik manusia adalah yang banyak manfaatnya. Memberi manfaat bagi orang pahalanya tidak hanya bisa diraih di dunia tapi juga di akhirat. Ketika kita mengajari teman yang belum bisa ngaji, dapat dipastikan pahala itu akan terus mengalir meskipun sudah meninggal.

Dengan demikian, dengan tekad yang kuat, memperbanyak taubat, menghindari maksiat, meningkatkan taat, dan menebarkan manfaat bisa menjadi jalan keselamatan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kemampuan bagi kita untuk menjalaninya. Amiin. Wallahu a’lam bishshawwab.

 Hidup Bersahaja

Hidup bersahaja bagi sebagian orang tak mudah dilakukan terlebih bagi yang diberi kelebihan harta. Wajar! Karena dengan harta semua kebutuhan dapat tercukupi. Dan akan sangat wajar jika konsep bersahaja diterapkan. Namun, jangan sampai konsep bersahaja menjadikan diri aman sendiri dan melupakan kaum dhuafa.

Begitu pula dengan orang miskin, walaupun tidak berharta, namun ingin kelihatan berpunya. Orang seperti ini pun tak kalah menderitanya. Ia akan tersiksa dengan hidup yang lebih besar pasak daripada tiang, dan tentu ia akan nista dan menjadi bahan cemoohan di mata orang-orang yang tahu keadaan sebenarnya.

Yang paling mulia adalah orang yang walaupun berharta tetapi berhasil hidup bersahaja. Sebenarnya ia mampu untuk hidup mewah dan memenuhi segala kehendaknya, namun ia menahan diri untuk memenuhi sesuai kebutuhan saja. Hartanya ditabungkan untuk akhirat. Orang seperti inilah yang dapat bersikap zuhud terhadap dunia, yang hanya yakin akan jaminan Allah.

Baginya, dunia tak lebih berharga dari keyakinan kepada Allah. Ia melihat dunia biasa-biasa saja, hanya sebuah persinggahan dan sarana, jalan untuk meraih kehidupan yang lebih kekal kelak. Seperti halnya tukang parkir, ia tidak pernah sombong dengan begitu banyaknya mobil yang selalu berganti-ganti, mobil mewah atau sederhana setiap saat lalu lalang di depannya. Bahkan, saat mobil-mobil itu meninggalkan lahan parkirnya, ia sungguh tidak peduli, biasa-biasa saja dan tidak pernah smapai stress atau memengaruhi kepribadiannya. Mengapa demikian? Tak lain karena ia tidak merasa memilikinya, hanya merasa dititipi saja. Bukankah wajar jika sang pemilik mengambil barang yang telah dititipkannya beberapa waktu lalu. Dan orang yang dititipi tentu tidak pantas marah atau kecewa ketika hal itu terjadi karena barang tersebut memang bukanlah miliknya.

Seharusnya, seperti inilah sikap kita terhadap dunia, harta yang ada bukan milik kita, hanya titipan dari Allah, yang suatu saat nanti pasti akan diambil kembali oleh-Nya. Dan, jika suatu saat hal itu terjadi, kita tidak kecewa karena kita tetap yakin dengan jaminan Allah. Semoga kita diberikan kekuatan utnuk bersikap zuhud melihat dunia, proporsional sesuai keperluan saja, tanpa berkeinginan memiliki yang sesungguhnya hanya titipan semata. Wallahu a’lam bishshawwab.

 Menjadikan Shalat Khusyu

Setiap hari melakukan shalat. Namun, masih saja sulit untuk bisa khusyu. Mengapa? Bisa jadi shalat tidak dinikmati, hanya dijadikan penggugur kewajiban. Atau, tidak tahu makna setiap gerakan dan arti setiap bacaan. Maka tak aneh bila shalat tidak dapat mengubah dirinya.

Sayangnya, dari 24 jam jatah waktu kita sehari, waktu yang kita sisihkan untuk shalat masih sangat sedikit. Jauh sekali dari yang dicontohkan Rasulullah SAW. Beliau sangat menikmati waktu shalatnya. Hingga dalam salah satu riwayat diceritakan, jika beliau shalat terutama saat sendirian, kakinya sampai bengkak-bengkak, subhanallah. Shalat betul-betul dijadikan muara untuk mendapatkan ketentraman dengan Allah SWT. Dampak kekhusyuannya telah menjadikan beliau seorang pemimpin yang disegani.

Untuk itu, mulailah gali ilmu tentang shalat. Kini telah banyak pelatihan shalat khusyu. Banyak beredar buku pedoman shalat. Setelah ilmunya diperoleh, ciptakan situasi yang kondusif tempat, waktu, pakaian, pikiran dan perasaan betul-betul nyaman untuk bisa khusyu. Ikuti apa yang dibaca dalam shalat oleh hati dan pikiran. Hadirkan Allah di hati kita sehingga kita menyembah-Nya seolah-olah kita melihat-Nya. Terakhir, lupakan ingatan-ingatan akan duniawi.

Demikian, saudaraku. Mari kita evaluasi diri. Sudah seberapa khusyu shalat kita. Semoga dengan shalat khusyu menjadikan kita tenang dalam menjalani kehidupan, senantiasa husnudzhan dengan apapun yang Allah berikan, baik itu rezeki maupun musibah. Wallahu a’lam bishshawwab.

 Balasan Lebih dengan Berbuat Lebih

Ramadhan adalah bulan ’serba lebih’ dilebihkannya balasan pahala di luar bulan-bulan biasanya. Siapapun yang penuh keikhlasan dalam mengerjakannya, dapat dipastikan ”balasan lebih” dia raih.

Balasan itu hanya dapat dia raih dengan perjuangan dan kesungguhan. Bagi siapapun yang ingin mendapatkan sesuatu yang lebih, maka harus berbuat yang lebih. Tiada yang untung ladang enteng. Jika ingin rezeki banyak, sedekahnya harus lebih banyak. Dulu yang sedekahnya cukup dengan menyisihkan 2,5% maka ditingkatkan menjadi lima atau sepuluh persen. Jika ingin merasakan nikmatnya bermunajat, maka jangan jadikan tarawih hanya sebagi rutinitas ibadah tapi juga sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah SWT. Pun pada sepuluh hari terakhir. Jika ingin derajat taqwa maka jangan jadikan masjid hanya sebagai peralihan tempat tidur saja, tapi isi saat i’tikaf itu dengan berbagai amalan. Begitupun saaat berdo’a. Jika ingin mendapat rahmat, ampunan Allah, tidak asal do’a, tapi hadirkan hati dan ketidakberdayaan diri akan ke-Mahakuasaan Allah Azza wa Jalla. Mental seperti itu perlu kita miliki karena tanpa perjuangan sedekah, tarawih, do’a dan ibadah-ibadah lain tidak akan berbuah.

Selain perjuangan, diperlukan juga kesungguhan. Kesungguhan dapat berarti keseriusan yang disertai dengan mengerahkan segala kemampuan. Di bulan Ramadhan ini, seandainya kita bisa mengoptimalkan ibadah kenapa harus setengah-setengah. Kalau kita bisa mengkhatamkan satu juz, kenapa hanya lima lembar; kalau kita bisa menahan kata-kata kenapa harus bicara hal-hal yang tidak berguna; kalau kita bersedekah dengan sepuluh kurma, kenapa yang diberikan hanya empat kurma; kalau kita bisa bersilaturahmi kenapa berdiam diri; kalau tidak ada yang bisa diberi kenapa tidak senyum berseri. Bagi siapapun yang bersungguh-sungguh dengan amalan maka Allah pun lebih sungguh-sungguh dengan balasan pahala.

Dengan demikian, dengan perjuangan dan kesungguhan yang lebih, kita akan mendapatkan yang lebih. Semoga kita bisa mengisi Ramadhan dengan sebaik-baiknya sehingga Allah SWT berkenan menunutn kita menjadi ’orang yang berlebih’.

 Tiga Unsur Kredibilitas

Semoga Allah memberi kenikmatan harga diri melebihi rasa nikmat pada harta, pangkat dan jawaban. Karena ada orang yang mobilnya berharga, rumahnya berharga, namun dirinya, pribadinya tidak punya harga diri. Oleh karena itu, kita bekerja tidak cukup agar mendapatkan harta melainkan agar ’terbentuk’ harga diri.

Ketika kita memandang hidup di dunia, kita memang harus bekerja sekuat tenaga. Seperti yang tersirat dalam hadits ”kita berawal duniawi seolah-olah akan berumur panjang”. Tetapi, kita juga harus sadar, esok tidak menjamin kita masih ada. Maka dengan mengingat kematian menjadikan kita tunduk pada dunia. ”orang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan mempersiapkan diri menghadapinya”.

Dalam bekerja pun sama. Walaupun banyak aturan yang diberlakukan, jika tidak disertai ilmu, akan timbul banyak masalah. Dengan demikian, kredibilitas menjadi syarat utama dalam mengatasinya. Ada tiga unsur yang menjadikan seseorang itu dikategorikan kredibel.

Pertama, adalah jujur, terpercaya sampai mati. Orang yang jujur itu adalah orang yang merdeka, tidak takut dengan siapa pun, ia bebas mengatakan, berbuat hal yang benar. Sedang, orang yang banyak berdusta, hidupnya pasti terpenjara.

Kedua, orang yang kredibel juga adalah orang yang cakap. Dengan dasar ilmu, orang-orang akan puas dengan apa yang dikerjakannya. Begitupun Rasulullah SAW, semua orang yang bertemu beliau puas, janjinya ditepati, jujur, amanah. Seharusnya, kita senantiasa dapat menambah keilmuan tentang pekerjaan yang kita geluti, agar kualitas amal yang kita berikan kian meningkat.

Ketiga, kredibilitas diperoleh dari pengembangan inovasi. Zaman terus berubah. Andai kita tidak berubah, lambat bergerak, kita akan tertinggal, terpingirkan oleh orang yang kreatif, dan inovatif.

Untuk itulah, jujur, ilmu, dan inovasi menjadi modal utama dalam mencetak pribadi yang kredibel. Wallahu a’lam bishshawwab.

Menjadi Pribadi Unggul

Memiliki pribadi unggul adalah dambaan setiap orang. Namun tidak semua orang dapat mengetahui dan memahami jalan menuju ke sana. Kadangkala kita merasa unggul menurut penilaian kita, tanpa amal nyata. Padahal, sebenarnya, pribadi unggul hanyalah dimiliki oleh seseorang yang berprestasi, yang mampu menorehkan karya nyata.

Pribadi unggul sudah ada di diri uswah kita, Rasulullah SAW. Ia unggul karena telah menorehkan prestasi yang begitu jelas, melalui risalah, akhlak dan etos kerjanya. Seharusnya kita pun sanggup untuk mencontohnya dalam setiap ucap, gerak dan langkah kita. Namun, karena merasa diri cukup dengan apa yang telah diperbuatlah, menjadikan kita terjebak akan kepuasan yang semu, yang sebenarnya masih jauh dari keunggulan. Untuk itu, ada tiga aspek yang menghantarkan seseorang mewujudkannya.

Pertama, kemampuan mengoreksi sikap mental. Disini diperlukan sikap ulet untuk terus mengoreksi kesalahan, memperbaikinya, dan mencoba untuk terus meningkatkan kemampuan. Setiap kesalahan berusaha untuk terus memperbaikinya. Kedua, berada dalam lingkungan yang kondusif. Hal ini disebabkan karena faktor lingkungan sangat berpengaruh pada pribadi seseorang. Pilihlah lingkungan yang sekiranya bisa memacu kita untuk terus melakukan kebaikan, dan tinggalkan lingkungan yang sekiranya bisa menjebak kita dalam kelalaian. Ketiga, perbanyak silaturahim. Silaturahim akan menjadi cermin diri. Betapa banyak manfaat yang bisa didapat. Selain dapat memanjangkan umur, meningkatkan ukhuwah, juga mendatangkan rezeki. Dan yang terpenting mendatangkan ilmu. Dengan bertegur sapa, menjadi peluang bagi kita untuk mendapatkan asupan ilmu.

Mudah-mudahan dengan ketiga potensi luar biasa ini, kita diberi kemampuan untuk menjadi pribadi unggul, pribadi yang mampu berprestasi, yang siap menghadapi setiap tantangan dalam proses nenuju keunggulan hakiki, insyaAllah.

Menata Kehormatan Diri

Hidup ini hanya sebentar. Jika waktu yang tak lama ini tidak membawa ketentraman, alangkah ruginya. Langkah awal menuju ketentraman itu berasal dari kemampuan menata harga dirinya. Tidak sedikit orang yang hari-harinya gundah gulana akibat perbuatannya kepada orang lain.

Untuk itu, langkah awal yang harus dilakukan di antaranya, membangun tekad untuk menjadi seorang muslim jujur dan terpercaya. Usahanya dengan tampil apa adanya. Apa yang kita miliki, itulah adanya. Jangan malu dengan perangkat rumah seadanya. Itu lebih baik daripada mengaku punya rumah mewah namun tidak terbukti. Apalah jadinya jika yang kita lebih-lebihkan tidak terbukti. Bukannya kehormatan yang didapat melainkan kenistaan.

Langkah kedua, biasakanlah untuk tepat waktu. Jangan sampai harga diri kita tersita gara-gara terlambat masuk kantor atau lupa membayat utang. Memalukan bukan? Alangkah lebih baik jika kita datang ke kantor lebih awal. Atau, kita bayar utang sebelum dari waktu yang disepakati. Menomorsatukan kewajiban itu lebih baik.

Langkah ketiga, jangan pernah berbuat licik dan serakah. Percayalah, tidak akan pernah beruntung dengan berbuat dzalim selain akan mendatangkan nista di dunia dan akhirat. Lalu bersikaplah transparan. Jangan terbiasa menyembunyikan apapun yang tidak layak disembunyikan. Dan, jangan melakukan sesuatu dengan diam-diam padahal orang lain berhak mengetahuinya karena itu akan memancing seseorang berprasangka buruk kepada kita.

Demikian saudaraku, semoga dengan terus mendekat pada-Nya kita kian tertuntuntun untuk menata kehormatan diri. Wallahu a’lam bishshawwab.

Hidup Bahagia Awal Kesuksesan

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kebahagiaan. Karena bahagia ini yang akan menghantarkan kita pada kesuksesan. Menurut penelitian, orang yang hari-harinya diliputi kebahagiaan, hidupnya lebih optimis dibanding orang yang biasa-biasa. Yang cenderung pesimis. Dan, kesuksesan hanya dimiliki oleh orang-orang yang optimis.

Adapun yang menjadi indikasi seseorang mudah mencapai kesuksesan karena beberapa sebab. Pertama, kuatnya iman. Dapat dipastikan seseorang yang kuat imannya kuat pula tekadnya. Sebesar apapun persaingan tak menjadikan dirinya gentar. Kedua, tidak bergantung pada makhluk. Dia meyakini betul dengan bergantung pada makhluk maka kekecewaan yang terjadi. Di ’musim pemutihan’ atau musim PHK misalnya. Seseorang yang berjiwa optimis tidak terlalu menghiraukan apakah dirinya kena PHK atau tidak. Yang jelas, bagaimana caranya untuk tetap bekerja sebaik mungkin

Ketiga, tampil apa adanya atau just the way you are. Orang yang tampil apa adanya orientasi nya bukan pada penilaian makhluk melainkan pada Allah SWT. Mau dipuji atau tidak dipuji tetap bahagia. Keempat, jangan sebel sama orang lain. Rasa tidak suka pada orang lain pasti pernah dialami setiap orang. Bagaimana rasanya? Justru tambah sengsara. Mau bertegur sapa malas karena sebel. Mau ada kepentingan pun lebih baik dibatalkan karena sebel. Ujung-ujungnya sengsara yang terasa. Maka benarlah musuh satu terasa banyak dibandingkan dengan teman seribu.

Kelima, mudah maafkan. Orang yang bahagia hidupnya penuh dengan kelapangan. Setiap ada perlakuan yang tidak mengenakkan dari orang lain serta merta memaafkan. Karena percuma, mau dibuat sebel juga sudah terjadi. Keenam, menjauhkan diri dari dosa. Ini sudah menjadi kewajiban bagi kita selaku muslim. Karena dosa inilah yang akan mengurangi amalan. Syukur-syukur kalau ada sesuatu yang mendatangkan pahala jika tidak, kita tekor.

Nah, untuk itu saudaraku, mari kita hiasi hidup yang sebentar ini dengan kebahagiaan. Kuatkan iman, jauhkan diri dari bergantung pada makhluk, tampil apa adanya, jangan sebel sama orang lain, mudah maafkan, dan menjauhkan dari dosa. Semoga Allah tetap menggolongkan kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Amiin. Wallahu a’lam bishshawwab.

 Mengendalikan Diri di Bulan Suci

Ramadhan merupakan bulan pengendalian diri. Bulan yang setiap amal tidak lepas dari pencatatan Allah. Maka sudah menjadi keniscayaan bagi kita untuk menjaga diri dari perbuatan tercela.

Saudaraku, sesungguhnya Allah sangat berkuasa atas sesuatu. Tiak ada sesuatu yang terjadi tanpa seizin-Nya. Maka hati-hatilah mata, tangan, pikiran, mulut, hati kita jangan sampai lepas kendali. Karena mudah bagi Allah untuk mengambilnya kembali.

Mata kita arahkan untuk melihat hal yang bermanfaat. Pun dengan pikiran. Kita ajak untuk tetap ada dalam rel kebenaran, tidak menyimpang pada maksiat. Juga hati, ini harus benar-benar dijaga, karena hati lintasan kedua setelah pikiran, sekaligus menjadi lanjutan pada tindakan. Bisa kita bayangkan seandainya hati ini ’liar’, tidak kita jaga banyak bencana yang terjadi. Dan pada akhrinya hati akan keras yang berujung pada mati. Na’udzubillah.

Hal lain yang perlu dikendalikan yaitu lisan. Lisan yang setiap tutur katanya membawa pengaruh, dapat dipastikan tetap terjaga. Hindari ghibah atau mengumpat. Apalagi di bulan Ramadhan sangat rentan sekali. Pun telinga, perlu kita kendalikan. Hindari dari sesuatu yang tidak membawa manfaat. Musik, obrolan yang tidak berguna, hindari sejauh mungkin. Juga dengan tangan. Jika tidak kita gunakan dengan sebaik-baiknya, maka akan membawa petaka. Hal yang terkecil, semisal usil, sangat mudah untuk menjadi konflik.

Saudaraku, tidak ada yang menjadikan kita sengsara selain kita sendiri. Nikmat yang kita dapat akan bertambah jika kita syukuri. Dan nikmat akan menjadi azab jika kita pakai untuk maksiat. Untuk itu saudaraku, sebelum Allah yang Maha Memiliki mengambil mulut, pikiran, lisan, mata, hati dan tangan kita, mari kita gunakan apa yang ada dalam diri dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bishshawwab.

 Sukses dalam Bekerja

Orang yang sukses dalam bekerja adalah orang yang selalu berusaha menjadi lebih baik, terus memperbaiki kualitas diri dan amalnya. Untuk itu, agar aktivitas bekerja kita bernilai ibadah dan kebaikan, ada beberapa prinsip yang harus kita jalankan, antara lain;  selalu luruskan niat. Kita mencari nafkah halal untuk menafkahi anak istri, keluarga dan membantu orang lain. Jangan pernah terbersit untuk bekerja hanya untuk duniawi semata, kita akan rugi. Niatkan dalam hati, bekerja adalah bagian dari ibadah. Sehingga dalam mengerjakan amanah pun kita tetap berusaha bersikap, berbuat sesuatu yang diridhai Allah.

Kedua, dikatakan sukses dalam bekerja apabila nama bagus, citranya baik. Koruptor adalah contoh orang yang dapat harta banyak, namun nama hancur. Sehingga, kita harus mengevaluasi diri, bagaimana citra kita kalau kita bekerja? Karena jika citra bertahan lama, sedang uang akan cepat habis.

Ketiga, ketika kita bekerja, kita juga dapat menambah wawasan. Upayakan diri untuk terus meng-upgrade diri, menambah keilmuan, pengetahuan tentang pekerjaan yang diamanahkan kepada kita. Begitupun ketika kita sudah tidak bekerja lagi, pensiun, ilmu dan pengalaman selama bekerja dapat menjadi amal jariyah yang manfaat bagi sebanyak orang.

Keempat, dengan bekerja, kita pun harus menambah banyak saudara, menjadi ajan g silaturahmi. Bukan malah sebaliknya, menambah musuh.

Kelima, kian banyak orang lain yang diuntungkan dengan bisnis kita. Kian merata pendistribusian keuntungan bagi orang banyak. Inilah yang disebut dengan sebaik-baik manusia, yaitu orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Semoga Allah senantiasa memampukan kita menjalankan setiap amanah yang dititipkan kepada kita, bernilai ibadah sekaligus manfaat untuk sebanyak mungkin ummat. Amiin. Wallahu a’lam bishshawwab. (dikutip dari :ustad.AA Gym)

Kewajiban Puasa

MANUSIA DAN KEWAJIBAN PUASA

Berkaitan dengan kewajiban berpuasa, manusia dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:

 Wanita Haidh Dan Nifas

Mereka diharamkan berpuasa, wajib berbuka, dan wajib pula menggan­ti (mengqadha’) di hari yang lain sebanyak hari yang ia tidak berpuasa.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Kami haidh pada zaman Rasulullah SAW, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ sholat. (HR Bukhari dan Muslim).

 Orang Sakit

sakitOrang yang sakit, mendapatkan rukhshah (kemurahan dan keringanan) untuk berbuka. Sakit yang dimaksud, menurut jumhur ulama’ adalah sakit yang membahayakan dan bertambah parah jika berpuasa, atau dikhawa­tirkan memperlambat kesembuhan.

Firman Allah SWT: Allah SWT menghendaki kemudahan pada kalian, dan tidak menghenda­ki kesulitan. (QS Al Baqarah [2]: 185).

Ayat ini menunjukkan bahwa maksud dari rukhshah adalah menghin­dari masyaqqot (kepayahan, kesulitan) dan bahaya, padahal ada sebagian penyakit yang tidak bisa sembuh kecuali dengan berpuasa.

Dengan alasan inilah jumhur ulama’ berpendapat : Wanita hamil dan menyususi. Jika wanita hamil mengkhawatirkan atas keselamatan dirinya, anaknya, atau diri dan anaknya sekaligus, ia berbuka dan tidak berpuasa, karena keduanya seperti orang yang sakit.

Sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah SWT menanggalkan separoh dari puasa dan sholat bagi orang yang bepergian, dan juga dari wanita hamil dan menyu­sui. (HR Abu Daud, At-Tirmidzi, AN-Nasa-i dan Ibnu Majah, dengan sanad jayyid).

Masalahnya adalah mereka (wanita hamil dan menyusui) wajib meng­qadha’ atau harus bagaimana ? Para ulama’ berbeda pendapat dalam hal ini, dan dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menurut imam Syafi’i dan Ahmad: Jika hanya mengkhawatirkan anaknya saja, lalu ia berbuka, maka wajib mengqadha’ dan membayar fidyah, yaitu memberi makan setiap hari yang ia tidak berpuasa sebanyak satu mud (6 ons) kepada fakir miskin, dari makanan yang ia biasa makan dalam kondisi biasa.

Jika keduanya mengkhawatirkan dirinya saja, atau diri dan anaknya sekaligus, maka keduanya hanya wajib mengqadha’ saja.

Menurut Abu Hanifah: Bagaimanapun juga alasan kekhawatirannya, keduanya hanya wajib mengqadha’ saja, dengan alasan keduanya satu hukum dengan orang yang sakit.

Khusus

Jika seorang wanita setahun hamil dan tahun berikutnya menyusui, lalu tahun depannya lagi hamil lagi, begitu seterusnya, maka ia hanya wajib membayar fidyah saja. (Yusuf Al Qardhawi, Fatawa Mu’ashirah juz 1, hal: 301), karena kapan saatnya ia harus meng­qadha’, kalaupun ada, maka sangatlah memberatkan dan Allah SWT SWT tidak menghendaki untuk memberatkan, wAllahu a’lam.

Orang Tua Renta Dan Pikun

tua-rentaOrang tua renta yang tidak mampu atau keberatan untuk berpuasa, begitu juga yang pikun, ia membayar fidyah sebanyak satu mud (6 Ons) kepada fakir miskin, dan berbuka (tidak berpuasa).Firman Allah SWT: Dan atas orang-orang yang kepayahan berpuasa, fidyah, memberi makan satu mud untuk orang miskin. (QS Al Baqarah [2]: 184).

Ibnu Abbas, ayat ini untuk orang tua (Bukhari).

 Musafir

Bagi orang yang bepergian dalam jarak tempuh yang diperbolehkan mengqoshor sholat, ia boleh berbuka, dan kalau ia berbuka maka wajib mengqadha’ di hari yang lain.

Firman Allah SWT: Barang siapa sakit, atau dalam bepergian, maka mengganti di hari-hari yang lain. (QS Al Baqarah [2]: 184, 185).

Manakah yang lebih afdlol baginya? puasa atau berbuka ?

sang-musafirPara ulama’ berbeda pendapat dalam masalah ini:Kami sependapat dengan Umar bin Abdul Aziz, Mujahid dan Qotadah, yang mengatakan, yang afdlol adalah yang lebih mudah dan ringan antara puasa, dan berbuka dengan resiku wajib mengqadha’ menurut pandangan musafir itu. Pendapat inilah yang dianut Ibnul Mundzir (Al Majmu’ juz 6, hal : 266).

Mukallaf (baligh dan berakal sehat) yang tidak termasuk dalam kategori di atasMereka ini wajib berpuasa, dan tidak boleh menggantinya dengan fidyah.

Firman Allah SWT:Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu ber­puasa, sebagaimana telah diwajibkan atas ummat sebelummu, agar supaya engkau bertakwa. Pada beberapa hari tertentu. (QS Al Baqarah [2]: 183-184).

 Puasa anak kecil

Dalam shahih Bukhari:

puasa anak kecilDari Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata: Rasulullah SAW mengir­im utusan pada pagi hari tanggal 10 Muharrom ke perkampungan Anshor: “barang siapa pagi ini berbuka, maka selesaikanlah sisa harinya, dan barang siapa berpuasa, maka berpuasalah”, Rubayyi’ berkata: “maka kami berpuasa, dan melatih anak kecil kami berpua­sa, dan kami berikan kepada mereka mainan dari bulu, jika mereka menangis minta makan, kami berikan mainan itu sampai tiba waktu berbuka”. (Bukhari hadits no: 1960).

 Kapan Mulai Berpuasa ?

Puasa Ramadhan dimulai pada tanggal satu dari bulan tersebut, tidak boleh diawalkan atau diakhirkan.

Sabda Rasulullah SAW:

Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali ia seseorang yang biasa berpuasa pada hari itu (senin, kamis, puasa Daud dsb), maka berpuasalah. (HR Bukhari, no: 1914).

Untuk menetapkan satu Ramadhan dapat dilakukan dengan dua cara, sesuai dengan petunjuk dan ajaran Rasulullah SAW, yaitu:

Dengan melihat hilal tanggal satu Ramadhan, jika hilal tidak dapat dilihat, maka:

Menyempurnakan hitungan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Tentunya awal Sya’ban hendaknya ditetapkan juga dengan melihat hilal.

Rasulullah SAW tidak menerima penetapan awal bulan dengan hitun­gan.

Sabda Rasulullah SAW:

Berpuasalah karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal, jika hilal tidak terlihat oleh kalian, sempurnakan hitungan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. (HR Bukhari, no: 1909).

Sabda beliau yang lain: Kami ummat ummi, tidak bisa menulis dan berhitung, bulan adalah demikian, dan demikian, maksudnya: terkadang dua sembilan, terka­dang tiga puluh. (HR Bukhari, no: 1913).

Jadi jika ada informasi bahwa bulan sudah terlihat, dan informasi itu dapat dipertanggungjawabkan, maka kita wajib berpuasa, meski­pun kalender mengatakan belum tanggal satu Ramadhan, dan bila kita mendapat informasi yang bisa dipertanggungjawabkan bahwa bulan sudah dapat dilihat (Syawal), maka kita berbuka, meskipun kalender atau lainnya mengatakan lain.

 Yang Tidak Merusak Puasa ?

1.   Tetesan obat dan celak, jika rasanya tidak sampai di kerong­kongan.

2.   Berbekam (mengkop untuk mengeluarkan darah), yang dibekam dan yang membekam tidak batal puasanya.

3.   Jika masuk kedalam mulut sesuatu yang tidak bisa dihindari, seperti lalat, nyamuk, debu jalan, tebaran tepung, dan semacamnya waktu menyapu atau bekerja.

4.   Asap kayu, adapun menghisap rokok hukumnya haram dan membatal­kan puasa.

5.   Mencium minyak misik, mawar, bunga dan wewangian, selama tidak berasap, tetapi makruh.

6.   Mencium bau makanan.

7.   Suntik dengan segala macamnya, selama bukan suntikan makanan, jika memungkinkan mengakhirkan suntikan sampai malam, itu lebih baik.

8.   Masuk fajar masih dalam keadaan junub, lalu mandi setelah fajar, atau junub di siang hari, hendaklah ia mandi, dan tidak batal puasanya, begitu juga yang bersih dari haidh. Akan tetapi seorang yang junub hendaklah segera mandi untuk sholat di awal waktu.

9.   Mandi dan berenang, selama air tidak masuk kerongkongan.

10. Menelan ludah dan lendir, selama belum mau dimuntahkan, kalau sudah mau dimuntahkan lalu ditelan tidak boleh menurut madzhab Syafi’i.

11. Muntah tidak sengaja.

12. Membersihkan telinga dengan kayu atau kapas dan meneteskan obat ke dalamnya, selama tidak sampai ke kerongkongan.

13. Makan dan minum karena lupa.

14. Masuknya sisa makanan yang terselip pada gigi tanpa sengaja.

15. Mencium (isteri), bermesraan (selain jima’), memandang, dan berfikir, selama tidak mengeluarkan sesuatu, akan tetapi makruh.

16. Berkumur, selama tidak ada air yang ditelan dengan sengaja, begitu juga gosok gigi, lebih baik gosok gigi sebelum fajar tiba.

17. Mencicipi makanan, atau melembutkan sesuatu dengan mulut untuk anak kecil, selama tidak ditelan, dan tidak ada sesuatu yang masuk ke perut, akan tetapi makruh.

Kasus Yang Sering Ditanyakan ?

 Bagi yang bersetubuh dengan istrinya di siang Ramadhan, ia wajib mengqadha dan membayar kaffaroh, secara urut yaitu:

–     Memerdekakan budak, kalau tidak mampu

–     Berpuasa dua bulan berturut-turut, kalau tidak mampu

–     Memberi makan enam puluh orang miskin.

Dan menurut madzhab imam Malik, yang sengaja membatalkan puasan­yapun terkena hukum seperti ini.

Qadha’ Ramadhan tidak disyaratkan terus menerus.

Boleh bagi wanita mengupayakan pengakhiran haidh, dengan syarat terjamin aman atas kesehatannya, dan kondisi normal lebih aman dan baik, Islam memberikan Rukhshah (keringanan) kepa­danya.

Bagi yang punya hutang puasa dan belum terbayar (terqadha) sampai datang lagi puasa berikutnya, ia tetap wajib mengqadha’ diluar bulan Ramadhan, tidak boleh berpuasa apapun pada bulan selain puasa Ramadhan tersebut, dan lebih baik lagi ia juga membayar fidyah disamping mengqadha’.

 Beberapa Adab Berpuasa

1.   Selama berpuasa hendaklah ia meninggalkan segala bentuk ma’­siat, karena puasa adalah larangan untuk sesuatu yang mubah, sudah semestinya yang aslinya haram lebih dilarang lagi.

2.   Hendaklah ia pada siang Ramadhan menyibukkan diri dengan berbagai bentuk ketaatan, seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya, dan janganlah ia menggunakan waktunya untuk bermain, bercanda, gaple, catur dan semacamnya, kalau terasa capek atau bosan dengan sesuatu tidur saja.

3.   Bersegera berbuka jika telah jelas maghrib tiba.

4.   Berdo’a saat berbuka, khususnya dengan do’a ma’tsur, yaitu:

 اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَبِكَ ءَامَنْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ، وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ، اَللَّهُمَّ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ، اِغْفِرْ لِيْ

 Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan atas rizqi-Mu aku berbuka, rasa dahaga telah sirna, nadi-nadi darahku telah basah, dan pahala telah dikukuhkan insya Allah, ya Allah, Dzat yang Mahaluas pengampunan-Nya, ampunilah saya.

5.   Janganlah berbuka sampai kekenyangan, bukankah puasa untuk memberi rasa fakir dan lapar ?!, sunnahnya berbuka dengan kurma yang masih segar (ruthob), atau kurma, atau air, lalu sholat maghrib, baru makan besar.

6.   Disunnahkan mengakhirkan sahur, yang sunnah masih ada waktu antara sahur dan sholat subuh sepanjang bacaan lima puluh ayat.

7.   Dianjurkan waktu Ramadhan memperbanyak shadaqah dan infaq.

8.   Dianjurkan pula memberi buka kepada orang yang berpuasa, karena ia mendapatkan pahala seperti yang didapat oleh yang berpuasa, tanpa mengurangi pahalanya.

9.   Pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan disunnahkan untuk I’tikaf dan mengencangkan semangat untuk beribadah.

Semoga Allah SWT memberi kesempatan kita untuk bertemu Ramadhan, diterima puasa kita, sholat kita, dan seluruh amal baik kita, serta diampuni seluruh dosa kita, sehingga kitapun terbebas dari neraka, aamin.

Hal Yang Membatalkan Puasa & Hal Yang Harus di Lakukan

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

puasaHal-hal yang membatalkan puasa dibagi dalam dua kelompok:

1.   Membatalkan Puasa dan wajib dibayar dengan puasa pula (qodlo’) saja, yaitu:

a.   Masuknya sesuatu ke dalam perut melalui rongga/lubang tubuh seperti makan, minum, menelan ludah yang sudah keluar dari mulut, suntikan melalui qubul atau dubur, tertelannya air kumur karena berlebihan dalam berkumur.

b.   Muntah yang mengandung adanya unsur kesengajaan seperti karena memasukkan jari ke dalam mulut. Adapun muntah karena tidak sengaja atau diluar kemauan maka tidak membatalkan puasa.

c.   Bersetubuh baik yang halal (suami istri) apalagi yang haram, naudzu billah.

d.   Keluar mani dengan unsur kesengajaan. Misalnya dengan onani, masturbasi dan sebagainya. Adapun yang tidak sengaja seperti hanya terlihat gambar atau bermimpi maka tidak membatalkan.

e.   Mengira sudah maghrib lalu berbuka, padahal belum maghrib.

f.    Murtad, seperti halnya gila, jiak orang ini masuk Islam kembali, maka terjadi perbedaan pendapat apakah wajib membayar puasa atau tidak.

g.   Haidl dan nifas.

f.    Gila, dalam hal ini ada perbedaan pendapat apakah dia wajib membayar qodlo puasanya atau tidak.

Keterangan : Seseorang yang membatalkan puasa karena sebab yang diharamkan, misalnya makan karena disengaja, onani dan sebagainya diwajibkan melakukan imsaak, menahan diri seperti layaknya orang yang berpuasa, dan dia tetap mendapat dosa. Adapun orang yang batal puasanya karena haidl, nifas dan gila maka hal itu tidak terkena dosa.

 2.   Hal-hal yang membatalkan puasa dan wajib dibayar dengan puasa (qodlo’) plus denda.

Bersetubuh (jima’). Orang yang puasa Ramadhan lalu bersetubuh di siang hari, maka batal puasanya, wajibmelakukan imsak sebagaimana orang yang berpuasa, wajib membayar puasa (qodlo’), dan wajib membayar kafaarat, yaitu puasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu wajib memerdekakan budak, dan jika tidak mampu maka wajib memberi makan kepada 60 orang miskin.

 HAL-HAL YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN (Sunnah-sunnah Puasa)

1.     Sahur, dan melakukannya sepagi mungkin menjelang subuh, sekitar 15 menit (50 ayat) sebelum adzan subuh.

2.     Menyegerakan berbuka, begitu masuk waktu maghrib langsung berbuka meskipun hanya minum saja.

3.     Berdo’a setelah berbuka. Anjuran berdo’a sebelum makan dan sesudah makan tetap berlaku seperti halnya di luar Ramadhan.

4.     Memberikan buka puasa kepada orang lain.

5.     Melakukan segala hal kebaikan, dan meninggalkan segala hal yang melalaikan dari dzikrullah, meskipun tidak termasuk haram. Seperti memperbanyak membaca Al Qur’an dan mengurangi menonton TV atau ngobrol yang tidak berfaidah.

 LAIN-LAIN

1.     Orang yang sedang junub/hadast besar di malam hari, ketika subuh belum mandi, maka puasanya tetap sah. Namun jangan sampai tidak sholat subuh.

2.     Orang yang makan dan minum atau bersetubuh dalam keadaan lupa, maka puasanya tidak batal. Teapi saat ingat, kegiatan ini harus di-stop.

3.     Keluarnya darah karena di tubuh orang yang berpuasa, adalah tidak membatalkan puasa.

4.     Keluarnya mani karena bermimpi tidak membatalkan puasa.

5.     Mendahulukan sholat maghrib kemudian berbuka adalah hal yang tidak baik.

6.     Makan dan minum adalah tidak membatalkan wudlu seseorang. Karenanya setelah berwudlu seseorang tetap boleh makan sahur atau berbuka, asal masih pada waktunya.

7.     Melakukan maksiat seperti ghibah, mencuri, menyebar fitnah dan lain-lain tidak membatalkan status hukum puasa. Tetapi dapat membatalkan pahala puasa, namun ia wajib berpuasa selayaknya orang berpuasa.

8.     Mencium istri tidak membatalkan puasa, tetapi sebaiknya dihindari untuk menjaga hal-hal yang lebih khusus yang dapat membatalkan puasa.

9.     Mencicipi makanan tidaklah membatalkan puasa. Tetapi sebaiknya dihindari dan berhati-hati supaya jangan sampai tertelan.

10.   Berkumur saat berpuasa tidak boleh berlebihan (mubalagah), jika berlebihan dan tertelan airnya, maka dapat membatalkan puasa.

11.   Gosok gigi saat berpuasa memang disunnahkan sebelum dzuhur. Adapun setelah dzuhur sampai maghrib sebaiknya tidak dilakukan untuk menghindari masalah khilafiyah. Jika ingin melakukan gosok gigi, sebaiknya dilakukan sebelum fajar dan setelah maghrib untuk berhati-hati dari kemungkinan tertelannya pasta gigi yang dapat membatalkan puasa.

 Diantara amalan shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Adalah :

1.     Berilmu yang benar tentang shiyam dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya; “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi penghapus dosa-dosa yangpernah dilakukan sebelumnya. (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi)

2.     Tidak meninggalkannya; walaupun sehari dengan sengaja tanpa alasan  yang dibenarkan oleh syariat Islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa tidak berpuasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alas an rukhshoh atau sakit, maka itu (merupakan dosa besar) yang tidak dapat ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup.” (HR. At Turmudzi)

3.     Bersungguh-sungguh; dalam melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SWA : “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukannya. (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud).

4.     Hati-hati; menjauhi hal-hal yang dapt merusak nialai shiyam. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan menpraktekkannya, maka tidak ada nialinya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum“ (HR. Bukhori dan Muslim). Pada hadist yang lain “Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar nebinggalkan makan dan minum,melainkan meninggalkan hal yang sia-sia (tidak benilai) dan kata-kata bohong.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah)

5.     Sahur; disunnahkan mengakhirkan waktu dan melakukan sahur dengan makanan yang insya Allah berkah (al ghoda’ al mubarok). Dalam hal ini Rasulullah SAW. Pernah bersabda: “Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad).

6.     Iftor; atau berbuka puasa. Rasulullah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan ummat adalah manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan iftor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Sebagaimana sabda beliau : “Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai-Nya, ialah mereka yang menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Ahmad dan Turmudzi) Bahkan beliau mendahulukan iftor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengkal) atau tamr (kurma) atau air saja (HR. Abu Daud dan Ahmad).

7.     Berdo’a; stelah seharian berpusa,kemudian berbuka puasa, sebagai rasa syukur, dianjurkan berdo’a. Bahkan Rasulullah mensyariatkan agar orang-orang yang berpuasa  banyakmemanjatkan do’a, sebab do’a mereka akan dikabulkan Allah SWT “Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah orang-orangyang berpuasa hingga mereka berbuka.” (HR. Ahmad dan Turmudzi) 

Persiapan Menyambut Ramadhan

MENYAMBUT  RAMADHAN

ramadhanBulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia, bulan tarbiyah untuk mencapai derajat yang paling tinggi,  paling  mulia yaitu derajat taqwa. “Hai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa “ (2:183)

“Seungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling taqwa. “ (QS.49:13)

Persiapan Menyambut Ramadhan imagesPredikat taqwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Ia baru akan diperoleh manakala seseorang melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan itu dengan berbagai kegiatan yang baik dan mensikapinya dengan benar.

 1.        Persiapan Ruh dan Jasad

Dengan mengkondisikan diri pada bulan Sya’ban kita telah terbiasa berpuasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat dan tubuh sudah terlatih berpuasa. Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan kondisi ruh dan iman telah membaik yang selanjutnya dapat langsung menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini dengan berbagai amal dan kegiatan yang dianjurkan, dan di sisi lain tidak terjadi lagi gejolak fisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang yang pertama kali berpuasa seperti lemah, badan terasa panas, dsb. Rasulullah SAW menganjurkan agar memperbanyak puasa Sunnah di bulan Sya’ban ini dengan mencontohkannnya langsung : “Beliau tidak meninggalkannya”. Demikian dalam Riwayat Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa “Beliau melakukan puasa Sunnah bulan Sya’ban sebulan penuh, Beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan. “

Anjuran tersebut dikuatkan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, katanya :”Ya Rasulullah, saya tidak melihat Kamu berpuasa pada bulan-bulan lain sebnayak puasa di bulan Sya’ban ini. Beliau menjawab : itulah bulan yang dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkatnya amal perbuatan kepada ALLAH Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amal-Ku diangkat sedang Aku dalam keadaaan berpuasa. “ (HR. Nasa’i)

 2.        Persiapan Materi

Bulan Ramadhan merupakan bulan muwasat (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada oarng lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.

Rasulullah pada bulan Ramadhan ini sangat dermawan, sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah kepada masyarakat sampai merata. Lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda sekitarnya.

Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.

 3.        Persiapan Fikri (Persepsi)

Minimal persiapan persepsi ini meliputi dua hal yaitu :

1.     Mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaan bulan Ramadhan.

2.     Dapat memanfaatkan dan mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang secara logis dan kongkrit mengantarkannya mencapai ketaqwaan.

 Keutamaan Bulan Ramadhan

Mencermati khutbah rasulullah saw dalam menyambut ramadhan, setidaknya kita menempatkan bulan ramadhan dalam beberapa keutamaan berikut, diantaranya :

Bulan Kaderisasi Taqwa, Bulan Diturunkannya Al-Quran 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.(QS.2:183)  “Bulan Ramadhan-yang pada bulan itu Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk buat manusia dan penjelasan tentang petunjuk itu dan sebagi pemisah (yang haq dan bathil)”

 Bulan Paling Utama, Bulan Penuh Berkah

“Bulan yang paling utama adalah bulan Ramadhan dan hari yang paling uatama adalah adalah hari Juma’at. (HR. Thobroni)  “Dari Ubadah bin Shamit, bahwa Rosulululloh-pada suatu hari, ketika Ramadhan telah tiba, bersabda : Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah pada bulan itu Allah akan memberikan naungan-Nya kepad kalian, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan danDia kabulkan do’a. Pada bulan itu Allah Ta’ala aka melihat kalian yang berpacu melakukan kebaikan, para Malaikat beerbangga  dengan kalian dan perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat rahmat Allah Azza Wajalla “. (HR.Thobroni).

Bulan Ampunan Dosa , Bulan Peluang Emas Melakukan Ketaatan

“Antara sholat lima waktu, dari Juma’at, dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapuskan  dosa-dosa apabila dosa-dosa besar dihindari “. (HR. Muslim)  “Barang siapa yang melakukan ibadah di malam bulan Ramadhan, karena iman dan mengharapkan ridho Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.“ (Muttafaq Alaih) “Apabila Ramadhan datang maka pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaithon-syaithon dibelenggu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Bulan Dilipat Gandakannya Amal Sholeh

“Setiap  amal bani adam dilipat gandakan pahalanya, saatu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman : Kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai yang melindungi dari neraka. Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi dari parfum misik. Apabila orang bodoh berlaku jahil kepada seseorang kamu yang tengah berpuasa, hendaknya ia katakan : aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa “. (HR. Tirmizi)

Khutbah Rasulullah menyongsong bulan suci Ramadhan sebagai bulan ibadah, sabar, santunan, infaq, dan do’a :

“Dari Salman R.A. katanya : Rasulullah berkhutbah di tengah-tengah kami pada akhir Sya’ban, sabdanya : Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaungi kalian. Bulan yang didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Bulan yang padanya Allah mewajibkan berpuasa. Qiyamullail disunnahkan . Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan tujuh puluh kali kewajiban di bulan lainnya.

Ramadhan adalah bulan sabar, sabar itu balasannnya syurga. Bulan santunan, bulan ditambahkannya rezeki orang mu’min. siapa yang memberikan makanan untuk berbuka kepada seseorang yang berpuasa, balasannya ampunan terhadap dosa-dosanya, dirinya dibebaskan dari neraka, dan dia mendapatkan pahala sebesar orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut.

Sahabat berkomentar, kata mereka : Ya Rasulullah, tidak setiap kami memiliki makanan untuk berbuka yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa, sabda Rasulullah SAW : Pahala tersebut akan diberikan Allah sekalipun yang diberikan untuk berbuka bagi yang berpuasa hanya satu buah kurma, ataau seteguk air, atau sesendok susu asam.

Bulan Ramadhan awalnya rahmat, tengahnya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka, siapa yang memberikan keringanan bagi hamba sahayanya pada bulan itu akan Allah ampuni dosanya, dan dia dibebaskan dari neraka.

Pada bulan itu perbanyaklah empat hal, dua diantaranya membuat kamu diridhoi Robbmu dan dua yang lainnya suatu yang sangat kamu butuhkan.

Dua yang membuat kamu diridhoi Robbmu adalah: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan kamu meminta ampunan kepadanya. Sedangkan dua hal lainnya yang sangat kamu butuhkan adalah: Kamu meminta syurga kepada Allah dan kamu minta dilindungi dari neraka.  Siapa yang memberikan minum kepada orang yang berpuasa, Allah akan memberikan minuman kepadanya dari telagaku yang tidak akan menjadikan haus sampai dia masuk syurga “. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Ramadhan Bulan Jihad, Bulan Kemenangan

Sejarah mencatat, bahwa pada bulan suci Ramadhan inilah beberapa kesuksesan dan kemenangan besar diraih umat Islam, yang sekaligus membuktikan bahwa Ramadhan bukan bulan malas dan lemah, tapi merupakan bulan kuat, bulan jihad, bulan kemenangan.

Perang Badar Kubro yang diabadikan dalam al-Qur’an sebagai “ Yaumul Furqon “ dan umat Islam saat itu meraih kemnangna besar, terjadi pada tanggal 17 bualn Ramadhan. Dan ssaat itu pula gembong kebathilan Abu Jahal, terbunuh.

Pada bulan Ramadhan pula Futuh Makkah terjadi yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai  “ Fat-han Mubiinan “, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun delapan (8) Hijrah.

Serangkaian peristiwa besar lainnya juga terjadi pada bulan Ramadhan, seperti beberapa pertempuran dalam perang tabuk terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 Hijjrah, menghancurkan berhala Uzza tanggal 25 Ramadhan tahun 8 Hijrah, dihancurkannya berhala Latta pada bulan Ramadhan tahun 9 Hijrah.

Peperangan Ain Jalut yang dapat menaklukkan tentara mongol terjadi pada tanggal 25 Ramadhan tahun 658 Hijrah. Dan ditaklukkannya Andalusia di bawah pimpinan Tarik bin Ziyad pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijrah.

PUASA (SHAUM)

Shaum atau shiyam berarti al-imsaak yakni menahan diri. Adapun dalam istilah fiqh, shaum berarti “menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, berhubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menurut syar’i nya, puasa atau shaum berarti mencegah diri dari hal-hal yang membatalkannya pada waktu yang telah ditentukan, dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Sebagaimana Allah berfirman : “Dibolehkan kamu makan dan minum hingga terbit fajar kemudian teruskanlah puasa hingga malam hari.” QS.Al Baqarah:187

 Imam Al Ghazalli dalam Ihya Ulumuddin   membagi shaum dalam tiga tingkatan :

1.   Shaumnya orang awam, yaitu seperti pengertian shaum dalam ilmu fiqh, yaitu menahan diri dari hal-hal yangmembatalkan shaum seperti makan,minum dan sebagainya.

2.   Shaum khawash; Yaitu menahan mata, mulut, telinga tangan dan kaki serta seluruh anggota badan dari segala kemaksiatan dan dosa. Seseorang yang menahan diri dari makan dan minum, tetapi masih berbohong, mengumpat, mencuri, korupsi, bahkan makan yang digunakan untuk sahur dan bukanya adalah makanan yang haram, tidak menahan pandangan dari hal-hal yang terlarang, dan sebagainya. Maka sebenarnya dia belum melakukan shaum. Itulah yang disinggung rasulullah SAW bahwa banyak sekali orangyang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa di sisi Allah kecuali haus dan lapar.

3.   Shaum khawashshul khawash; Yaitu menahan hati dari keinginan-keinginan duniawi dan menahan diri dari memikirkan hal-hal yang duniawiyah. Menahan hati dan pemikiran dari selain Allah SWT. Hati dan fikirannya hanya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT secara totalitas.

SIAPA SAJAKAH YANG WAJIB BERPUASA DI BULAN RAMADHAN ?

(Syarat Wajib Berpuasa).

Setiap orang yang memenuhi syarat-syarat di bawah ini,maka ia termasuk orang yang wajib berpuasa.

  1. Muslim atau beragama Islam. Bila seseorang berpuasa sebelum Islam, maka puasanya tidak sah. Dan bagi yang baru masuk Islam, maka tidak wajib baginya “qadha” puasa semasa kekafirannya. Sebagaimana Allah berfirman : “Katakanlah kepada orang-orang kafir, juka mereka berhenti (dari kekafirannya), maka diampunilah dosa-dosa mereka yang telah lalu.” QS.Al Anfaal:38
  2. Dewasa atau baligh. Anak yang belum dewasa belum wajib berpuasa. Namun puasanya tetap sah jika dilakukan. Rasulullah SAW. Bersabda dalam hal ini : “Tiga orang dilepaskan dari taklif (kewajiban) dan tanggung jawab, ya’ni orang gila hingga sembuh (sadar), orang tidur hingga terjaga dan anak-anak hingga baligh (dewasa).” HR. Abu Dau, Ahmad dan Tirmizi

Sungguhpun demikian anak-anak hendaklah dididik berpuasa sesuai dengan kemampuannya, sebagai latihan agar saat dewasanya nanti sudah terbiasa, sebagaimana hadist: “Dan kami suruh anak-anak kami yang kecil berpuasa” HR. Bukhari Muslim

  1. Berakal, dengan demikian orang yang tidak berakal atau gila tidak diwajibkan berpuasa.
  2. 4.     Kuasa atau sanggup, dari segi fisik. Orang yang sakit atau lanjut usia dan tidak mampu melakukan puasa tidak diwajibkan berpuasa. Sebagaimana firman Allah : ”Dan Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan” QS. Al Hajj:78

Namun bagi mereka yang tidak mampu, wajib menggantinya di saat ia mampu. Bagi mereka yang lanjut usianya dan tidak mampu, diwajibkan membayar “fidyah” sebagaiman firman Allah: “Dan wajib atas mereka yang berat menunaikannya (jika tidak berpuasa) membayar fidyah” QS. Al Baqarah:184

  1. Tidak sedang berudzur; adapun udzur yang dibenarkan adalah sebagai berikut:
    1. Bepergian jauh atau musafir, tetapi jika seseorang musafir itu melakukan shaum di bulan Ramadhlan, maka itu lebih baik, dan jika tidak shaum, maka dia wajib menggantinya setelah bulan Ramadhan.
    2. Sakit; yang kalau dia berpuasa akan terancam jiwanya, atau kalau ia berpuasa semakin parah sakitnya atau semakin lama sembuhnya.
    3. Wanita yang sedang haidl atau nifas; Dia bahkan tidak boleh shaum dan harus membayarnya setelah Ramadhan.
    4. Wanita hamil atau menyusui; hampir sama dengan musafir, sebaiknya berpuasa kalau memang tidak membahayakan diri atau janinnya. Dan apabila tidak puasa, maka wajib membayarnya dengan puasa pula setelah Ramadhan, bahkan dalam mazhab Syafi’i,  dia wajib membayar puasa plus fidyah (memberi makan orang satu miskin / hari) apabila ia mampu berpuasa tetapi khawatir keselamatan janin/anaknya. Kesalahan yang  sering terjadi adalah wanita hamil/menyusui hanya membayar fidyah saja dan tidak mau membayar puasanya, ini adalah kesalahan besar.
    5. Sangat lanjut usia dan tidak mungkin berpuasa.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN (RUKUN) ORANG YANG BERPUASA ?

1.   Niat Puasa; Untuk puasa Ramadhan, niat bisa dilakukan setiap malam (niat untuk puasa esok harinya) atau menurut Imam Malik, dapat juga dilakukan satu kali saja pada permulaan Ramadhan.

2.   Imsak; Yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Baca artikel terkait : khotbah Rasulullah Tentang Ramadhan, Hal-Hal yang Membatalkan Puasa dan Hal yang Harus di lakukan

KHOTBAH RASULULLAH SAW

KHOTBAH RASULULLAH SAW

DALAM MENYAMBUT BULAN RAMADHAN YANG PENUH BERKAH

Wahai manusia !

970726_525944587452950_319254510_n

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat.Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang-orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.a! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabb-mu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Kasihilah anak yatim niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu-waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah ‘Azza wa Jallaa memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih. Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

 Wahai manusia!

Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)mu maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah! Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang- orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al ‘alamin.

 Wahai manusia!

Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang-orang mu`minin yang berpuasa di bulan ini maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.  (Sahabat-sahabat bertanya, “Ya, Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian”. Rasulullah meneruskan:) Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma.  Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.

 Wahai manusia!

Siapa yang membaguskan akhlaqnya di bulan ini ia akan berhasil melewati shirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya  di hari Kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.

Barangsiapa melakukan  shalat fardlu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardlu di bulan yang lain.

Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan.

Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat al Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam al Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia!

Sesungguhnya pintu-pintu syurga dibukakan bagimu maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.  Amirul Mukminin karamallahu wajha berkata,

“Aku berdiri dan berkata, ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini ?” 

Jawab Nabi’

“Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah..

Alhamdulillaahi rabbal ‘aalamiin.  (dikutip dari :\\ Ikhsan Pallawa, S.Pdi\Judul :Menggapai Kemuliaan  Ramadhan)