I B U …

Menghormati Ibu, Menghormati Allah Juga

20111222-ibuRasulullah sudah yatim sejak dilahirkan, karena ayahnya wafat ketika ia masih dalam kandungan ibunya. Dalam usia enam tahun, kepedihannya bertambah setelah ibunya wafat menyusul ayahnya. Muhammad kecil diasuh oleh kakek, kemudian berpindah lagi kepada pamannya, Abu Thalib. Meskipun hanya beberapa tahun berada dalam dekapan ibunya, Rasulullah merasakan benar kasih sayangnya. Kenangan manis bersama ibunda sangat membekas, melahirkan sifat kasih dan hormat, terutama  kepada  kaum  ibu.  Kepada  ibu-ibu  yang  pernah  menyusuinya,  beliau  memberikan penghormatan dan penghargaan yang setingi-tingginya.

Dalam Sunah Abu Daud, diriwayatkan dari Abu Thufail ra, katanya: “Aku pernah melihat Nabi saw sedang membagikan daging di al-Ji’ranah, tiba-tiba ada seorang perempuan datang sampai dekat kepada Nabi saw, lalu beliau menghamparkan mantelnya untuk perempuan itu. Maka ia duduk di atasnya. Lantas aku bertanya, `siapakah perempuan itu?’ Para sahabat menjawab, `ia adalah ibu beliau yang pernah menyusuinya.’

Islam memberikan perhormatan dan kedudukan yang amat tinggi kepada para ibu, sampai sampai disebut bahwa “surga berada di telapak kaki ibu”. Seseorang yang menghormati ibunya akan ditempatkan di surga, sementara anak yang mendurhakai ibunya akan ditempatkan pada posisi yang hina.

Adalah  Umar  bin  Khaththab  seorang  anak  yang  sangat  hormat  kepada  ibunya,  sampai  dalam masalah yang sekecil-kecilnya. Dalam hal makan, misalnya, ia tidak pernah makan mendahului ibunya.  Ia  bahkan  tak  berani  makan  bersama-sama  dengan  ibunya,  sebab  ia  khawatir  akan

mengambil  dan  memakan  hidangan  yang  tersedia  di  meja,  sementara  ibunya  menginginkan

makanan tersebut. Baginya, seorang ibu telah mendahulukan anaknya selama bertahun-tahun ketika sang anak masih kecil dan lemah.

kemuliaan-wanitaKasih  ibu  tak  pernah  terbalas  oleh  apapun  juga.  Yang  bisa  dilakukan  anak  hanyalah memberi penghormatan dan pelayanan, terutama ketika mereka sudah tua dan dalam keadaan lemah. Dalam hal ini Rasulullah mengingatkan kaum muslimin, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau

bersabda:

Dari Abu Hurairah ra, katanya, Rasululah saw bersabda, “Hidungnya harus direndahkan ke tanah, hidungnya harus direndahkan ke tanah, hidungnya harus direndahkan ke tanah.” Beliau ditanya: “Ya Rasulullah, siapa?” Jawabnya, “Orang yang mendapatkan kesempatan baik untuk membantu kedua orang  tuanya  di  masa  tuanya,  baik  salah  satunya  maupun  kedua-duanya,  tetapi  ia  gagal mendapatkan dirinya masuk surga.”

Dengan alasan apapun, orang tua, terutama ibu harus mendapatkan penghormatan dan pelayanan yang utama. Sesibuk apapun, sesulit apapun, ibu harus tetap dihormati dan dilayani. Ketika ia memanggil, maka pangilannya harus segera dijawab. Yang menghalangi panggilan ibu untuk tidak dijawab hanya satu, yaitu ketika seseorang sedang menjalankan shalat fardhu. Di luar itu, semua panggilan ibu harus dijawab. Misalnya, seorang yang sedang mengerjakan shalat sunnah, tiba-tiba sang ibu memanggil, maka panggilan ibu hendaknya dipenuhi terlebih dahulu. Shalat sunnah untuk sementara dibatalkan, untuk memenuhi panggilan ibu.

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi anak mengabaikan panggilan ibunya. Ketika sang ibu menahan rindu kepada anaknya, sedang ia menelpon agar anaknya pulang, maka anak yang shalih akan mengusahakan dengan segenap daya untuk memenuhi panggilannya. Apalagi jika sang ibu sedang sakit atau sedang membutuhkan bantuan.

Dalam satu hadits yang amat panjang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasululah menceritakan:

“… Juraij adalah seorang ahli ibadah, lalu ia membuat biara agar ia dapat lebih tenang beribadah. Tiba-tiba datang ibunya sedang ia masih tengah melakukan shalat, lalu sang ibu memanggil: `hai Juraij!’ Kemudian Juraij berkata (dalam hati), `Wahai Rabbi, kupenuhi panggilan ibuku atau aku tetap melaksanakan shalat?’ Maka ia pun melanjutkan shalatnya, sampai ibunya berpaling. Esok harinya, sang ibu datang kembali sedang ia masih dalam keadaan shalat, kemudian sang ibu memanggil, `Hai Juraij!’  Maka  berkalah  ia  (dalam  hatinya),  `Ya  Tuhanku,  ibuku  atau  shalatku?’  Maka  ia  pun melanjutkan shalatnya. Kemudian pada esok harinya sang ibu datang kembali, sedang ia masih shalat, lalu sang ibu memanggilnya, `Hai Juraij!’ Ia pun berkata (dalam hatinya), `Ya Allah, ibuku atau shalatku?’ Ia pun melanjutkan shalatnya. Maka ibunya berdo’a, `Ya Allah, janganlah Engkau matikan

ia sebelum ia melihat wajah pelacur!” Maka kesohorlah nama Juraij di kalangan Bani Israil sebagai seorang ahli ibadah.”

“Kemudian ada seorang pelacur yang terkenal kecantikannya bersumpah, jika kalian setujui, aku akan menggodanya. Lalu perempuan itu menampakkan diri di hadapannya tetapi sama sekali Juraij tidak memperhatikannya. Kemudian  pelacur  itu  mendatangi seorang pengembala kambing yang

tinggal di biara Juraij untuk digodanya sehingga terjadilan perbuatan mesum sampai ia hamil. Setelah

perempuan itu melahirkan, ia berkata `Anakku ini adalah hasil hubunganku dengan Juraij.’ Maka orang-orang berdatangan ke tempat Juraij, kemudian ia diturunkan dari biaranya, kemudian biara itu dihancurkan.

Juraij bertanya, “Mengapa kalian berbuat seperti ini?”

Orang-orang itu menjawab,  “Sebab engkau  telah  berbuat mesum dengan pelacur itu hingga ia melahirkan anak dari hasil hubungan gelapnya denganmu!”

“Mana bayi itu?” tanya Juraij kemudian bertanya kepada si bayi, “Hai bayi, siapakah ayahmu?” Aneh bin ajaib tiba-tiba bayi itu bisa berkata, “Si Fulan, seorang pengembala kambing.”

Atas kejadian itu masyarakat merangkul Juraij, menciumnya, serta mengelus-elus badannya seraya mereka berjanji, “Kami akan membangun biaramu dari emas.” Juraij berkata “Tidak, kembalikan saja

sebagaimana semula terbuat dari tanah liat.” Maka merekapun kembali membangun biaranya… (HR.

Bukhari dan Muslim)

Nukilan hadits panjang dalam Shahih Bukhari dan Muslim itu merupakan pelajaran bagi ummat Muhammad agar mereka senantiasa menghormati dan memenuhi panggilan ibunya. Sekalipun untuk tujuan ibadah, mengabaikan panggilan ibu merupakan kesalahan yang bisa fatal akibatnya. Jika seorang ibu sampai sakit hati, lalu ia berdo’a, maka do’a itu langsung menuju ke `Arsy dan diterima Allah. Untung jika do’anya baik, tapi kalau sang ibu berdo’a untuk kecelakaan anaknya, maka bisa fatal akibatnya.

Juraij adalah contohnya, sekiranya ia sejenak menemui ibunya, membatalkan shalat sunnahnya, fitnah itu tak akan pernah sampai dialaminya. Akan tetapi karena ia mengabaikan panggilan ibunya, maka fitnah sebagaimana yang diharapkan ibunya akhirnya menimpanya. Untungnya si bayi mendapat mu’jizat berupa kemampuan untuk berkata sehingga bisa menunjuk seseorang sebagai ayahnya. Jika tidak, bukan saja biaranya yang dirusak massa, tapi juga dirinya.

Kisah Juraij  di atas mengingatkan kita  pada seorang  sahabat yang bernama al-Qomah. Ketika sakaratul maut ia menghadapi masalah besar, seolah Malaikat mempermainkan nyawanya. Merasa iba terhadap nasib al-Qomah, Rasululah kemudian memanggil ibunya agar ia mau datang menemui anaknya dan memaafkan kesalahan. Setelah sang ibu memaafkan, maka lancarlah kematiannya. Dalam ajaran Islam, tidak bersegera memenuhi pangilan ibu sudah tercatat sebagai dosa, bahkan sekadar berkata “uf” kepada orang tua, sudah tergolong perbuatan durhaka. Apalagi membentak, apalagi melakukan kekerasan kepadanya. Durhaka kepada orang tua, terutama ibu merupakan dosa besar setelah syirik kepada Allah. Bahkan dosa ini tergolong dosa yang tak terampuni. Dalam Sya’bul Iman dikisahkan bahwa Abu  Bakrah ra,  berkata,  Rasulullah saw bersabda: “Semua dosa akan diampuni oleh Allah ta’ala di antaranya yang Dia kehendaki, kecuali perbuatan durhaka kepada kedua orang tua. Sesunguhnya perbuatan ini dapat mempercepat kehidupan pelakunya sebelum ia mati.”•

 Copyright© Suara Hidayatullah, 2002

Contact:  webmaster