6 Hari Puasa Syawal

 Dalil tentang Puasa Syawal

  Dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup’.” [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At- Tirmidzi 1164]

 Hukum Puasa Syawal

 53Hukumnya adalah sunnah: “Ini adalah hadits shahih yang menunjukkan bahwa berpuasa 6 hari pada Syawal adalah sunnah. Asy-Syafi’i, Ahmad dan banyak ulama terkemuka mengikutinya. Tidaklah benar untuk menolak hadits ini dengan alasan-alasan yang dikemukakan beberapa ulama dalam memakruhkan puasa ini, seperti; khawatir orang yang tidak tahu menganggap ini bagian dari Ramadhan, atau khawatir manusia akan menganggap ini wajib, atau karena dia tidak mendengar bahwa ulama salaf biasa berpuasa dalam Syawal, karena semua ini adalah perkiraan-perkiraan, yang tidak bisa digunakan untuk menolak Sunnah yang shahih. Jika sesuatu telah diketahui, maka menjadi bukti bagi yang tidak mengetahui.” [Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’, 10/389]

 Hal-hal yang berkaitan dengannya adalah:

  1. 1.       Tidak harus dilaksanakan berurutan.

“Hari-hari ini (berpuasa syawal-) tidak harus dilakukan langsung setelah ramadhan. Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah ‘Id, dan mereka boleh menjalankannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal, apapun yang lebih mudah bagi seseorang. … dan ini (hukumnya-) tidaklah wajib, melainkan sunnah.” [Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’, 10/391]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Shahabat-shahabat kami berkata: adalah mustahab untuk berpuasa 6 hari syawal. Dari hadits ini mereka berkata: Sunnah mustahabah melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya atau menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga diperbolehkan,

karena dia masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu Dawud.” [Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab] Bagaimanapun juga bersegera adalah lebih baik: Berkata Musa: ‘Itulah mereka telah menyusul aku. Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbi, supaya Engkau ridho kepadaku. [QS Thoha: 84]

 2. Tidak boleh dilakukan jika masih tertinggal dalam Ramadhan

 “Jika seseorang tertinggal beberapa hari dalam Ramadhan, dia harus berpuasa terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan 6 hari puasa Syawal, karena dia tidak bisa melanjutkan puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal, kecuali dia telah menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih dahulu.” [Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’, 10/392]

 Tanya : Bagaimana kedudukan orang yang berpuasa enam hari di bulan syawal padahal punya qadla(mengganti) Ramadhan ?

Jawab : Dasar puasa enam hari syawal adalah hadits berikut

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan enam hari Syawal maka ia laksana mengerjakan puasa satu tahun.”

Jika seseorang punya kewajiban qadla puasa lalu berpuasa enam hari padahal ia punya kewajiban qadla enam hari maka puasa syawalnya tak berpahala kecuali telah mengqadla ramadlannya (Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin)

 Hukum mengqadha enam hari puasa Syawal

Pertanyaan

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya : Seorang wanita sudah terbiasa

menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal setiap tahun, pada suatu tahun ia mengalami nifas karena melahirkan pada permulaan Ramadhan dan belum mendapat kesucian dari nifasnya itu kecuali setelah habisnya bulan Ramadhan, setelah mendapat kesucian ia mengqadha puasa Ramadhan. Apakah diharuskan baginya untuk mengqadha puasa Syawal yang enam hari itu setelah mengqadha puasa Ramadhan walau puasa Syawal itu dikerjakan bukan pada bulan Syawal ? Ataukah puasa Syawal itu tidak harus diqadha kecuali mengqadha puasa Ramadhan saja dan apakah puasa enam hari Syawal diharuskan terus menerus atau tidak ?

 Muslimah, Amin bin Yahya Al-Wazan)

Jawaban

Puasa enam hari di bulan Syawal, sunat hukumnya dan bukan wajib berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Artinya : Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian disusul dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka puasanya itu bagaikan puasa sepanjang tahun” [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya]

 Hadits ini menunjukkan bahwa puasa enam hari itu boleh dilakukan secara berurutan ataupun tidak berurutan, karena ungkapan hadits itu bersifat mutlak, akan tetapi bersegera melaksanakan puasa enam hari itu adalah lebih utama berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya) : “..Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)” [Thaha : 84]

 Juga berdasarakan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan kutamaan bersegera dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Tidak diwajibkan untuk melaksanakan puasa Syawal secara terus menerus akan tetapi hal itu adalah lebih utama berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus dikerjakan walaupun sedikit”

 Tidak disyari’atkan untuk mengqadha puasa Syawal setelah habis bulan Syawal, karena puasa tersebut adalah puasa sunnat, baik puasa itu terlewat dengan atau tanpa udzur.

Mengqadha enam hari puasa Ramadhan di bulan Syawal, apakah mendapat pahala puasa Syawal enam hari

Pertanyaan

Syaikh Abduillah bin Jibrin ditanya : Jika seorang wanita berpuasa enam  hari di bulan Syawal untuk mengqadha puasa Ramadhan, apakah ia mendapat pahala puasa enam hari Syawal ?

 Jawaban

Disebutkan dalam riwayat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda (yang artinya) : “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawal maka seakan-akan ia berpuasa setahun” Hadits ini menunjukkan bahwa diwajibkannya menyempurnakan puasa  Ramadhan yang merupakan puasa wajib kemudian ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal yang merupakan puasa sunnah untuk mendapatkan pahala puasa setahun. Dalam hadits lain disebutkan (yang artinya) : “Puasa Ramadhan sama dengan sepuluh bulan dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan dua bulan”

Yang berarti bahwa satu kebaikan mendapat sepuluh kebaikan, maka berdasarkan hadits ini barangsiapa yang tidak menyempurnakan puasa Ramadhan dikarenakan sakit, atau karena perjalanan atau karena haidh, atau karena nifas maka hendaknya ia menyempurnakan puasa Ramadhan itu dengan mendahulukan qadhanya dari pada puasa sunnat, termasuk puasa enam hari Syawal atau puasa sunat lainnya. Jika telah menyempurnakan qadha puasa Ramadhan,  baru disyariatkan untuk melaksanakan puasa enam hari Syawal agar bisa mendapatkan pahala atau kebaikan yang dimaksud. Dengan demikian

puasa qadha yang ia lakukan itu tidak bersetatus sebagai puasa sunnat Syawal.

Apakah suami berhak untuk melarang istrinya berpuasa Syawal

Pertanyaan

Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya : Apakah saya berhak untuk melarang istri saya jika ia hendak melakukan puasa sunat seperti puasa enam hari Syawal ? Dan apakah perbuatan saya itu berdosa ?

 Jawaban

Ada nash yang melarang seorang wanita untuk berpuasa sunat saat suaminya hadir di sisinya (tidak berpergian/safar) kecuali dengan izin suaminya, hal ini untuk tidak menghalangi kebutuhan biologisnya. Dan seandainya wanita itu berpuasa tanpa seizin suaminya maka boleh bagi suaminya untuk membatalkan puasa istrinya itu jika suaminyta ingin mencampurinya. Jika suaminya itu tidak membutuhkan hajat biologis kepada istrinya, maka makruh hukumnya bagi sang suami untuk melarang istrinya berpuasa jika puasa itu tidak membahayakan diri istrinya atau menyulitkan istrinya dalam mengasuh ataumenyusui anaknya, baik itu berupa puasa Syawal yang enam hari itu ataupun puasa-puasa sunnat lainnya.

 Hukum puasa sunnah bagi wanita bersuami

 Pertanyaan

Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya : Bagaimanakah hukum puasa sunat bagi

wanita yang telah bersuami ?

Jawaban

Tidak boleh bagi wanita untuk berpuasa sunat jika suaminya hadir (tidak musafir) kecuali dengan seizinnya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Tidak halal bagi seorang wanita unruk berpuasa saat suminya bersamanya kecuali dengan seizinnya” dalam riwayat lain disebutkan : “kecuali puasa Ramadhan”

Adapun jika sang suami memperkenankannya untuk berpuasa sunat, atau suaminya sedang tidak hadir (bepergian), atau wanita itu tidak bersuami, makadibolehkan baginya menjalankan puasa sunat, terutama pada hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa sunat yaitu : Puasa hari Senin dan Kamis, puasa tiga hari dalam setiap bulan, puasa enam hari di bulan Syawal, puasa pada sepuluh hari di bulan Dzulhijjah dan di hari ‘Arafah, puasa ‘Asyura serta puasa sehari sebelum atau setelahnya.

 (Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita

Muslimah, Amin bin Yahya Al-Wazan)

Fox News ‘Serang’ Akademisi Muslim karena Tulis Buku Soal Kristen

Reza Aslan – Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth

07/24/2013 7:00 pm

Watch Reza’s appearance on The Daily Show (7/17/13):

From the internationally bestselling author of No god but God comes Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth ($27.00), a fascinating and meticulously researched biography of Jesus of Nazareth.

Who was the Jewish peasant who, two thousand years ago, walked across what is now Palestine to gather followers with the goal of establishing the Kingdom of God? Weighing both gospel and historical truth, Reza Aslan crafts a startling biography about one of history’s littlest known but most influential figures: Jesus of Nazareth. By placing this charismatic preacher within the turbulent contexts of his time and closely examining the testimonies of those who knew him best-his disciples-Aslan sifts through myths and probabilities to reveal “the Jesus of history.” Elegantly written, rigorously researched and scrupulously detailed, Zealot provides a brilliant portrait of a time, a man, and the birth of a religion.

Reza Aslan is an internationally acclaimed writer and scholar of religions. His first book, No god but God: The Origins, Evolution, and Future of Islam, has been translated into thirteen languages and named by Blackwell as one of the hundred most important books of the last decade. He is also the author of How to Win a Cosmic War: God, Globalization, and the End of the War on Terror (published in paperback as Beyond Fundamentalism), as well as the editor of Tablet & Pen: Literary Landscapes from the Modern Middle East. Born in Iran, he lives in New York and Los Angeles with his wife and two sons.

Translate bahasa_English – Indonesia

Reza Aslan – Zealot: Kehidupan dan Jaman Yesus dari Nazaret

Dari internasional penulis buku laris No Tuhan selain Allah datang Zealot: Kehidupan dan Jaman Yesus dari Nazaret ($ 27,00), sebuah biografi yang menarik dan cermat diteliti Yesus dari Nazaret.

Siapa petani Yahudi yang, dua ribu tahun yang lalu, berjalan melintasi apa yang sekarang Palestina untuk mengumpulkan pengikut dengan tujuan membangun Kerajaan Allah?Beratnya baik Injil dan kebenaran sejarah, Reza Aslan kerajinan biografi mengejutkan tentang salah satu tokoh sejarah terkecil dikenal tetapi paling berpengaruh: Yesus dari Nazaret. Dengan menempatkan pengkhotbah karismatik ini dalam konteks bergolak waktu dan erat memeriksa kesaksian dari orang-orang yang mengenalnya terbaik nya murid-Aslan menyaring melalui mitos dan probabilitas untuk mengungkapkan “Yesus sejarah.” Elegan ditulis, diteliti secara seksama dan teliti rinci , Zelot menyediakan potret brilian waktu, seorang pria, dan kelahiran agama.

Reza Aslan adalah seorang penulis yang diakui dunia internasional dan sarjana agama. Buku pertamanya, ada Tuhan selain Allah: The Origins, Evolution, dan Masa Depan Islam, telah diterjemahkan ke dalam tiga belas bahasa dan dinamai oleh Blackwell sebagai salah satu dari seratus buku yang paling penting dari dekade terakhir. Ia juga penulis Bagaimana Memenangkan Perang Kosmis: Tuhan, Globalisasi, dan Akhir Perang Melawan Teror (diterbitkan dalam paperback sebagailuar Fundamentalisme), serta editor Tablet & Pen: Landscapes Sastra dari Tengah modern Timur.Lahir di Iran, ia tinggal di New York dan Los Angeles bersama istri dan dua anak.

Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth

 

ZEALOT: THE LIFE AND TIMES OF JESUS OF NAZARETH

 

 

Order now on Amazon

Order now from Barnes & Noble

Order now from IndieBound

From the internationally bestselling author of No god but God comes a fascinating, provocative, and meticulously researched biography that calls into question everything we thought we knew about Jesus of Nazareth.

Two thousand years ago, an itinerant Jewish preacher and miracle worker walked across the Galilee, gathering followers to establish what he called the “Kingdom of God.” The revolutionary movement he launched was so threatening to the established order that he was captured, tortured, and executed as a state criminal.

Two decades after his shameful death, his followers would call him God.

Sifting through centuries of mythmaking, Reza Aslan sheds new light on one of history’s most influential and enigmatic characters by examining Jesus through the lens of the tumultuous era in which he lived: first century Palestine, an age awash in apocalyptic fervor. Scores of Jewish prophets, preachers, and would-be messiahs traipse through the Holy Land, bearing messages from God. This is the age of zealotry—a fervent nationalism that made resistance to the Roman occupation a sacred duty incumbent on all Jews. And few figures better exemplified this principle than the charismatic Galilean who defied both the imperial authorities and their allies in the Jewish religious hierarchy.

Balancing the Jesus of the Gospels against the historical sources, Aslan explores this diverse and turbulent age and, in doing so, challenges the conventional portraits of Jesus of Nazareth. Aslan describes a man full of conviction and passion, yet rife with contradiction: a man of peace who exhorted his followers to arm themselves with swords; an exorcist and faith healer who urged his disciples to keep his identity a secret; and ultimately, the seditious “King of the Jews” whose promise of liberation from Rome went unfulfilled in his brief lifetime. Aslan explores the reasons why the early Christian church preferred to promulgate an image of Jesus as a peaceful spiritual teacher rather than a politically conscious revolutionary. And he grapples with the riddle of how Jesus understood himself, the mystery that is at the heart of all subsequent claims about his divinity.

Zealot questions what we thought we knew about Jesus of Nazareth—even as it affirms the radical and transformative nature of his life and mission. The result is a thought-provoking, elegantly written biography with the pulse of a fast-paced novel: a singularly brilliant portrait of a man, a time, and the birth of a religion.

 

NO GOD BUT GOD: THE ORIGINS, EVOLUTION, AND FUTURE OF ISLAM

 

 

 

Order now on Amazon

Order now from Barnes & Noble

In No god but God, internationally acclaimed scholar Reza Aslan explains Islam—the origins and evolution of the faith—in all its beauty and complexityThis updated edition addresses the events of the past decade, analyzing how they have influenced Islam’s position in modern culture. Aslan explores what the popular demonstrations pushing for democracy in the Middle East mean for the future of Islam in the region, how the Internet and social media have affected Islam’s evolution, and how the war on terror has altered the geopolitical balance of power in the Middle East. He also provides an update on the contemporary Muslim women’s movement, a discussion of the controversy over veiling in Europe, an in-depth history of Jihadism, and a look at how Muslims living in North America and Europe are changing the face of Islam. Timely and persuasive, No god but God is an elegantly written account that explains this magnificent yet misunderstood faith.

 

TABLET & PEN: LITERARY LANDSCAPES FROM THE MODERN MIDDLE EAST

 

 

Order now on Amazon

Order now from Barnes & Noble

The countries that stretch along the broad horizons of the Middle East—from Morocco to Iran, from Turkey to Pakistan—boast different cultures, different languages, and different religions. Yet the literary landscape of this dynamic part of the world has been bound together not by borders and nationalities, but by a common experience of Western imperialism. Keenly aware of the collected scars left by a legacy of colonial rule, the acclaimed writer Reza Aslan, with a team of four regional editors and seventy-seven translators, cogently demonstrates with Tablet and Pen how literature can, in fact, be used to form identity and serve as an extraordinary chronicle of the disrupted histories of the region.

Acting with Words Without Borders, which fosters international exchange through translation and publication of the world’s finest literature, Aslan has purposefully situated this volume in the twentieth century, beyond the familiar confines of the Ottoman past, believing that the writers who have emerged in the last hundred years have not received their full due. This monumental collection, therefore, of nearly two hundred pieces, including short stories, novels, memoirs, essays and works of drama—many of them presented in English for the first time—features translated works from Arabic, Persian, Urdu, and Turkish. Organized chronologically, the volume spans a century of literature—from the famed Arab poet Khalil Gibran to the Nobel laureates Naguib Mahfouz and Orhan Pamuk, from the great Syrian-Lebanese poet Adonis to the grand dame of Urdu fiction, Ismat Chughtai—connected by the extraordinarily rich tradition of resplendent cultures that have been all too often ignored by the Western canon.

By shifting America’s perception of the Middle Eastern world away from religion and politics, Tablet and Pen evokes the splendors of a region through the voices of its writers and poets, whose literature tells an urgent and liberating story. With a wealth of contextual information that places the writing within the historical, political, and cultural breadth of the region, Tablet & Pen is transcendent, a book to be devoured as a single sustained narrative, from the first page to the last. Creating a vital bridge between two estranged cultures, “this is that rare anthology: cohesive, affecting, and informing” (Publishers Weekly).

Includes the writings of Kahlil Gibran, Tawfiq al-Hakim, Nâzim Hikmet, Ismat Chughtai, Muhammad Iqbal, Faiz Ahmed Faiz, Forugh Farrokhzad, Ahmet Hamdi Tanpınar, Yaşar Kemal, Ghassan Kanafani, Mahmoud Darwish, Adonis, Ahmad Shamloo, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, and more.

 

HOW TO WIN A COSMIC WAR

 

 

Order now on Amazon

Order now from Barnes & Noble

The wars in the Middle East have become religious wars in which God is believed to be directly engaged on behalf of one side against the other. The hijackers who attacked America on September 11, 2001, thought they were fighting in the name of God. According to award-winning writer and scholar of religions Reza Aslan, the United States, by infusing the War on Terror with its own religiously polarizing rhetoric, is fighting a similar war—a war that can’t be won.

The book is both an in-depth study of the ideology fueling al-Qa‘ida, the Taliban, and like-minded militants throughout the Muslim world and an exploration of religious violence in Judaism, Christianity, and Islam. At a time when religion and politics increasingly share the same vocabulary and function in the same sphere, Aslan writes that we must strip the conflicts of our world of their religious connotations and address the earthly grievances that always lie at its root.

How do you win a religious war? By refusing to fight in one.

Featuring new content and updated analysis. Originally published as How to Win a Cosmic War. Published in paperback as Beyond Fundamentalism.

Ucapan Idul Fitri

Di Indonesia setiap hari Lebaran (Idul Fitri) tiba semua orang mengucapkan selamat dengan bermacam-macam cara. Ada yang dengan pantun serius, pantun plesetan, ungkapan yang sangat puitis, dll. Nah, bagaimana yang dilakukan Nabi? Hampir semua ucapan yang beredar tidak ada riwayatnya kepada Rasulullah kecuali ucapan: Taqabbalallahu minaa wa minka, yang maknanya, “Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.” Maksudnya menerima di sini adalah menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan. Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar[Fathul Bari 2/446] : “Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata (yang artinya) : Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”. Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : Taqabbalallahu minnaa wa minka. Beberapa shahabat menambahkan ucapan shiyamana wa shiyamakum, yang artinya puasaku dan puasa kalian. Jadi ucapan ini bukan dari Rasulullah, melainkan dari para sahabat. Kemudian, untuk ucapan minal ‘aidin wal faizin itu sendiri adalah salah satu ungkapan yang seringkali diucapkan pada hari raya fithri. Sama sekali tidak bersumber dari sunnah nabi, melainkan merupakan ‘urf (kebiasaan) yang ada di suatu masyarakat, dalam hal ini ya di Indonesia saja. Sering kali kita salah kaprah mengartikan ucapan tersebut, karena biasanya diikuti dengan “mohon maaf lahir dan batin”. Jadi seolah-olah minal ‘aidin wal faizin itu artinya mohon maaf lahir dan batin. Padahal arti sesungguhnya bukan itu. Kata minal aidin wal faizin itu sebenarnya sebuah ungkapan harapan atau doa. Tapi masih ada penggalan yang terlewat. Seharusnya lafadz lengkapnya adalah ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin, artinya semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang). Sedangkan Makna Minal `Aidin wal Faizin menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab dari buku Lentera Hati “Minal `aidin wal faizin,” demikian harapan dan doa yang kita ucapkan kepada sanak keluarga dan handai tolan pada Idul Fitri. Apakah yang dimaksud dengan ucapan ini ? Sayang, kita tidak dapat merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kata `aidin, karena bentuk kata tersebut tidak bisa kita temukan di sana. Namun dari segi bahasa, minal `aidin berarti “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali.” Kembali di sini adalah kembali kepada fitrah, yakni “asal kejadian”, atau “kesucian”, atau “agama yang benar”. Setelah mengasah dan mengasuh jiwa – yaitu berpuasa – selama satu bulan, diharapkan setiap Muslim dapat kembali ke asal kejadiannya dengan menemukan “jati dirinya”, yaitu kembali suci sebagai mana ketika ia baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar. Ini semua menuntut keserasian hubungan, karena – menurut Rasulullah – al-aidin al-mu’amalah, yakni keserasian dengan sesama manusia, lingkungan, dan alam. Sementara itu, al-faizin diambil dari kata fawz yang berarti “keberuntungan” . Apakah “keberuntungan” yang kita harapkan itu Di sini kita dapat merujuk pada Al-Quran, karena 29 kali kata tersebut, dalam berbagai bentuknya, terulang. Menarik juga untuk diketengahkan bahwa Al-Quran hanya sekali menggunakan bentuk afuzu (saya beruntung). Itupun menggambarkan ucapan orang-orang munafik yang memahami “keberuntungan” sebagai keberuntungan yang bersifat material (baca QS 4:73) Bila kita telusuri Al-Quran yang berhubungan dengan konteks dan makna ayat-ayat yang menggunakan kata fawz, ditemukan bahwa seluruhnya (kecuali QS 4:73) mengandung makna “pengampunan dan keridhaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi.” Kalau demikian halnya, wal faizin harus dipahami dalam arti harapan dan doa, yaitu semoga kita termasuk orang-orang yang memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT sehingga kita semua mendapatkan kenikmatan surga-Nya. Salah satu syarat untuk memperoleh anugerah tersebut ditegaskan oleh Al-Quran dalam surah An-Nur ayat 22, yang menurut sejarah turunnya berkaitan dengan kasus Abubakar r.a. dengan salah seorang yang ikut ambil bagian dalam menyebarkan gosip terhadap putrinya sekaligus istri Nabi, Aisyah. Begitu marahnya Abubakar sehingga ia bersumpah untuk tidak memaafkan dan tidak memberi bantuan apapun kepadanya. Tuhan memberi petunjuk dalam ayat tersebut: Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 24:22). Marilah kita saling berlapang dada, mengulurkan tangan dan saling mengucapkan minal `aidin wal faizin. semoga kita dapat kembali mendapatkan jati diri kita semoga kita bersama memperoleh ampunan,ridha, dan kenikmatan surgawi. Amin.