Persiapan Menyambut Ramadhan

MENYAMBUT  RAMADHAN

ramadhanBulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia, bulan tarbiyah untuk mencapai derajat yang paling tinggi,  paling  mulia yaitu derajat taqwa. “Hai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa “ (2:183)

“Seungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling taqwa. “ (QS.49:13)

Persiapan Menyambut Ramadhan imagesPredikat taqwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Ia baru akan diperoleh manakala seseorang melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan itu dengan berbagai kegiatan yang baik dan mensikapinya dengan benar.

 1.        Persiapan Ruh dan Jasad

Dengan mengkondisikan diri pada bulan Sya’ban kita telah terbiasa berpuasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat dan tubuh sudah terlatih berpuasa. Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan kondisi ruh dan iman telah membaik yang selanjutnya dapat langsung menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini dengan berbagai amal dan kegiatan yang dianjurkan, dan di sisi lain tidak terjadi lagi gejolak fisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang yang pertama kali berpuasa seperti lemah, badan terasa panas, dsb. Rasulullah SAW menganjurkan agar memperbanyak puasa Sunnah di bulan Sya’ban ini dengan mencontohkannnya langsung : “Beliau tidak meninggalkannya”. Demikian dalam Riwayat Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa “Beliau melakukan puasa Sunnah bulan Sya’ban sebulan penuh, Beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan. “

Anjuran tersebut dikuatkan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, katanya :”Ya Rasulullah, saya tidak melihat Kamu berpuasa pada bulan-bulan lain sebnayak puasa di bulan Sya’ban ini. Beliau menjawab : itulah bulan yang dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkatnya amal perbuatan kepada ALLAH Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amal-Ku diangkat sedang Aku dalam keadaaan berpuasa. “ (HR. Nasa’i)

 2.        Persiapan Materi

Bulan Ramadhan merupakan bulan muwasat (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada oarng lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.

Rasulullah pada bulan Ramadhan ini sangat dermawan, sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah kepada masyarakat sampai merata. Lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda sekitarnya.

Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.

 3.        Persiapan Fikri (Persepsi)

Minimal persiapan persepsi ini meliputi dua hal yaitu :

1.     Mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaan bulan Ramadhan.

2.     Dapat memanfaatkan dan mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang secara logis dan kongkrit mengantarkannya mencapai ketaqwaan.

 Keutamaan Bulan Ramadhan

Mencermati khutbah rasulullah saw dalam menyambut ramadhan, setidaknya kita menempatkan bulan ramadhan dalam beberapa keutamaan berikut, diantaranya :

Bulan Kaderisasi Taqwa, Bulan Diturunkannya Al-Quran 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.(QS.2:183)  “Bulan Ramadhan-yang pada bulan itu Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk buat manusia dan penjelasan tentang petunjuk itu dan sebagi pemisah (yang haq dan bathil)”

 Bulan Paling Utama, Bulan Penuh Berkah

“Bulan yang paling utama adalah bulan Ramadhan dan hari yang paling uatama adalah adalah hari Juma’at. (HR. Thobroni)  “Dari Ubadah bin Shamit, bahwa Rosulululloh-pada suatu hari, ketika Ramadhan telah tiba, bersabda : Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah pada bulan itu Allah akan memberikan naungan-Nya kepad kalian, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan danDia kabulkan do’a. Pada bulan itu Allah Ta’ala aka melihat kalian yang berpacu melakukan kebaikan, para Malaikat beerbangga  dengan kalian dan perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat rahmat Allah Azza Wajalla “. (HR.Thobroni).

Bulan Ampunan Dosa , Bulan Peluang Emas Melakukan Ketaatan

“Antara sholat lima waktu, dari Juma’at, dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapuskan  dosa-dosa apabila dosa-dosa besar dihindari “. (HR. Muslim)  “Barang siapa yang melakukan ibadah di malam bulan Ramadhan, karena iman dan mengharapkan ridho Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.“ (Muttafaq Alaih) “Apabila Ramadhan datang maka pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaithon-syaithon dibelenggu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Bulan Dilipat Gandakannya Amal Sholeh

“Setiap  amal bani adam dilipat gandakan pahalanya, saatu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman : Kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai yang melindungi dari neraka. Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi dari parfum misik. Apabila orang bodoh berlaku jahil kepada seseorang kamu yang tengah berpuasa, hendaknya ia katakan : aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa “. (HR. Tirmizi)

Khutbah Rasulullah menyongsong bulan suci Ramadhan sebagai bulan ibadah, sabar, santunan, infaq, dan do’a :

“Dari Salman R.A. katanya : Rasulullah berkhutbah di tengah-tengah kami pada akhir Sya’ban, sabdanya : Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaungi kalian. Bulan yang didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Bulan yang padanya Allah mewajibkan berpuasa. Qiyamullail disunnahkan . Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan tujuh puluh kali kewajiban di bulan lainnya.

Ramadhan adalah bulan sabar, sabar itu balasannnya syurga. Bulan santunan, bulan ditambahkannya rezeki orang mu’min. siapa yang memberikan makanan untuk berbuka kepada seseorang yang berpuasa, balasannya ampunan terhadap dosa-dosanya, dirinya dibebaskan dari neraka, dan dia mendapatkan pahala sebesar orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut.

Sahabat berkomentar, kata mereka : Ya Rasulullah, tidak setiap kami memiliki makanan untuk berbuka yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa, sabda Rasulullah SAW : Pahala tersebut akan diberikan Allah sekalipun yang diberikan untuk berbuka bagi yang berpuasa hanya satu buah kurma, ataau seteguk air, atau sesendok susu asam.

Bulan Ramadhan awalnya rahmat, tengahnya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka, siapa yang memberikan keringanan bagi hamba sahayanya pada bulan itu akan Allah ampuni dosanya, dan dia dibebaskan dari neraka.

Pada bulan itu perbanyaklah empat hal, dua diantaranya membuat kamu diridhoi Robbmu dan dua yang lainnya suatu yang sangat kamu butuhkan.

Dua yang membuat kamu diridhoi Robbmu adalah: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan kamu meminta ampunan kepadanya. Sedangkan dua hal lainnya yang sangat kamu butuhkan adalah: Kamu meminta syurga kepada Allah dan kamu minta dilindungi dari neraka.  Siapa yang memberikan minum kepada orang yang berpuasa, Allah akan memberikan minuman kepadanya dari telagaku yang tidak akan menjadikan haus sampai dia masuk syurga “. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Ramadhan Bulan Jihad, Bulan Kemenangan

Sejarah mencatat, bahwa pada bulan suci Ramadhan inilah beberapa kesuksesan dan kemenangan besar diraih umat Islam, yang sekaligus membuktikan bahwa Ramadhan bukan bulan malas dan lemah, tapi merupakan bulan kuat, bulan jihad, bulan kemenangan.

Perang Badar Kubro yang diabadikan dalam al-Qur’an sebagai “ Yaumul Furqon “ dan umat Islam saat itu meraih kemnangna besar, terjadi pada tanggal 17 bualn Ramadhan. Dan ssaat itu pula gembong kebathilan Abu Jahal, terbunuh.

Pada bulan Ramadhan pula Futuh Makkah terjadi yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai  “ Fat-han Mubiinan “, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun delapan (8) Hijrah.

Serangkaian peristiwa besar lainnya juga terjadi pada bulan Ramadhan, seperti beberapa pertempuran dalam perang tabuk terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 Hijjrah, menghancurkan berhala Uzza tanggal 25 Ramadhan tahun 8 Hijrah, dihancurkannya berhala Latta pada bulan Ramadhan tahun 9 Hijrah.

Peperangan Ain Jalut yang dapat menaklukkan tentara mongol terjadi pada tanggal 25 Ramadhan tahun 658 Hijrah. Dan ditaklukkannya Andalusia di bawah pimpinan Tarik bin Ziyad pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijrah.

PUASA (SHAUM)

Shaum atau shiyam berarti al-imsaak yakni menahan diri. Adapun dalam istilah fiqh, shaum berarti “menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, berhubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menurut syar’i nya, puasa atau shaum berarti mencegah diri dari hal-hal yang membatalkannya pada waktu yang telah ditentukan, dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Sebagaimana Allah berfirman : “Dibolehkan kamu makan dan minum hingga terbit fajar kemudian teruskanlah puasa hingga malam hari.” QS.Al Baqarah:187

 Imam Al Ghazalli dalam Ihya Ulumuddin   membagi shaum dalam tiga tingkatan :

1.   Shaumnya orang awam, yaitu seperti pengertian shaum dalam ilmu fiqh, yaitu menahan diri dari hal-hal yangmembatalkan shaum seperti makan,minum dan sebagainya.

2.   Shaum khawash; Yaitu menahan mata, mulut, telinga tangan dan kaki serta seluruh anggota badan dari segala kemaksiatan dan dosa. Seseorang yang menahan diri dari makan dan minum, tetapi masih berbohong, mengumpat, mencuri, korupsi, bahkan makan yang digunakan untuk sahur dan bukanya adalah makanan yang haram, tidak menahan pandangan dari hal-hal yang terlarang, dan sebagainya. Maka sebenarnya dia belum melakukan shaum. Itulah yang disinggung rasulullah SAW bahwa banyak sekali orangyang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa di sisi Allah kecuali haus dan lapar.

3.   Shaum khawashshul khawash; Yaitu menahan hati dari keinginan-keinginan duniawi dan menahan diri dari memikirkan hal-hal yang duniawiyah. Menahan hati dan pemikiran dari selain Allah SWT. Hati dan fikirannya hanya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT secara totalitas.

SIAPA SAJAKAH YANG WAJIB BERPUASA DI BULAN RAMADHAN ?

(Syarat Wajib Berpuasa).

Setiap orang yang memenuhi syarat-syarat di bawah ini,maka ia termasuk orang yang wajib berpuasa.

  1. Muslim atau beragama Islam. Bila seseorang berpuasa sebelum Islam, maka puasanya tidak sah. Dan bagi yang baru masuk Islam, maka tidak wajib baginya “qadha” puasa semasa kekafirannya. Sebagaimana Allah berfirman : “Katakanlah kepada orang-orang kafir, juka mereka berhenti (dari kekafirannya), maka diampunilah dosa-dosa mereka yang telah lalu.” QS.Al Anfaal:38
  2. Dewasa atau baligh. Anak yang belum dewasa belum wajib berpuasa. Namun puasanya tetap sah jika dilakukan. Rasulullah SAW. Bersabda dalam hal ini : “Tiga orang dilepaskan dari taklif (kewajiban) dan tanggung jawab, ya’ni orang gila hingga sembuh (sadar), orang tidur hingga terjaga dan anak-anak hingga baligh (dewasa).” HR. Abu Dau, Ahmad dan Tirmizi

Sungguhpun demikian anak-anak hendaklah dididik berpuasa sesuai dengan kemampuannya, sebagai latihan agar saat dewasanya nanti sudah terbiasa, sebagaimana hadist: “Dan kami suruh anak-anak kami yang kecil berpuasa” HR. Bukhari Muslim

  1. Berakal, dengan demikian orang yang tidak berakal atau gila tidak diwajibkan berpuasa.
  2. 4.     Kuasa atau sanggup, dari segi fisik. Orang yang sakit atau lanjut usia dan tidak mampu melakukan puasa tidak diwajibkan berpuasa. Sebagaimana firman Allah : ”Dan Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan” QS. Al Hajj:78

Namun bagi mereka yang tidak mampu, wajib menggantinya di saat ia mampu. Bagi mereka yang lanjut usianya dan tidak mampu, diwajibkan membayar “fidyah” sebagaiman firman Allah: “Dan wajib atas mereka yang berat menunaikannya (jika tidak berpuasa) membayar fidyah” QS. Al Baqarah:184

  1. Tidak sedang berudzur; adapun udzur yang dibenarkan adalah sebagai berikut:
    1. Bepergian jauh atau musafir, tetapi jika seseorang musafir itu melakukan shaum di bulan Ramadhlan, maka itu lebih baik, dan jika tidak shaum, maka dia wajib menggantinya setelah bulan Ramadhan.
    2. Sakit; yang kalau dia berpuasa akan terancam jiwanya, atau kalau ia berpuasa semakin parah sakitnya atau semakin lama sembuhnya.
    3. Wanita yang sedang haidl atau nifas; Dia bahkan tidak boleh shaum dan harus membayarnya setelah Ramadhan.
    4. Wanita hamil atau menyusui; hampir sama dengan musafir, sebaiknya berpuasa kalau memang tidak membahayakan diri atau janinnya. Dan apabila tidak puasa, maka wajib membayarnya dengan puasa pula setelah Ramadhan, bahkan dalam mazhab Syafi’i,  dia wajib membayar puasa plus fidyah (memberi makan orang satu miskin / hari) apabila ia mampu berpuasa tetapi khawatir keselamatan janin/anaknya. Kesalahan yang  sering terjadi adalah wanita hamil/menyusui hanya membayar fidyah saja dan tidak mau membayar puasanya, ini adalah kesalahan besar.
    5. Sangat lanjut usia dan tidak mungkin berpuasa.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN (RUKUN) ORANG YANG BERPUASA ?

1.   Niat Puasa; Untuk puasa Ramadhan, niat bisa dilakukan setiap malam (niat untuk puasa esok harinya) atau menurut Imam Malik, dapat juga dilakukan satu kali saja pada permulaan Ramadhan.

2.   Imsak; Yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Baca artikel terkait : khotbah Rasulullah Tentang Ramadhan, Hal-Hal yang Membatalkan Puasa dan Hal yang Harus di lakukan