Kewajiban Puasa

MANUSIA DAN KEWAJIBAN PUASA

Berkaitan dengan kewajiban berpuasa, manusia dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:

 Wanita Haidh Dan Nifas

Mereka diharamkan berpuasa, wajib berbuka, dan wajib pula menggan­ti (mengqadha’) di hari yang lain sebanyak hari yang ia tidak berpuasa.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Kami haidh pada zaman Rasulullah SAW, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ sholat. (HR Bukhari dan Muslim).

 Orang Sakit

sakitOrang yang sakit, mendapatkan rukhshah (kemurahan dan keringanan) untuk berbuka. Sakit yang dimaksud, menurut jumhur ulama’ adalah sakit yang membahayakan dan bertambah parah jika berpuasa, atau dikhawa­tirkan memperlambat kesembuhan.

Firman Allah SWT: Allah SWT menghendaki kemudahan pada kalian, dan tidak menghenda­ki kesulitan. (QS Al Baqarah [2]: 185).

Ayat ini menunjukkan bahwa maksud dari rukhshah adalah menghin­dari masyaqqot (kepayahan, kesulitan) dan bahaya, padahal ada sebagian penyakit yang tidak bisa sembuh kecuali dengan berpuasa.

Dengan alasan inilah jumhur ulama’ berpendapat : Wanita hamil dan menyususi. Jika wanita hamil mengkhawatirkan atas keselamatan dirinya, anaknya, atau diri dan anaknya sekaligus, ia berbuka dan tidak berpuasa, karena keduanya seperti orang yang sakit.

Sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah SWT menanggalkan separoh dari puasa dan sholat bagi orang yang bepergian, dan juga dari wanita hamil dan menyu­sui. (HR Abu Daud, At-Tirmidzi, AN-Nasa-i dan Ibnu Majah, dengan sanad jayyid).

Masalahnya adalah mereka (wanita hamil dan menyusui) wajib meng­qadha’ atau harus bagaimana ? Para ulama’ berbeda pendapat dalam hal ini, dan dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menurut imam Syafi’i dan Ahmad: Jika hanya mengkhawatirkan anaknya saja, lalu ia berbuka, maka wajib mengqadha’ dan membayar fidyah, yaitu memberi makan setiap hari yang ia tidak berpuasa sebanyak satu mud (6 ons) kepada fakir miskin, dari makanan yang ia biasa makan dalam kondisi biasa.

Jika keduanya mengkhawatirkan dirinya saja, atau diri dan anaknya sekaligus, maka keduanya hanya wajib mengqadha’ saja.

Menurut Abu Hanifah: Bagaimanapun juga alasan kekhawatirannya, keduanya hanya wajib mengqadha’ saja, dengan alasan keduanya satu hukum dengan orang yang sakit.

Khusus

Jika seorang wanita setahun hamil dan tahun berikutnya menyusui, lalu tahun depannya lagi hamil lagi, begitu seterusnya, maka ia hanya wajib membayar fidyah saja. (Yusuf Al Qardhawi, Fatawa Mu’ashirah juz 1, hal: 301), karena kapan saatnya ia harus meng­qadha’, kalaupun ada, maka sangatlah memberatkan dan Allah SWT SWT tidak menghendaki untuk memberatkan, wAllahu a’lam.

Orang Tua Renta Dan Pikun

tua-rentaOrang tua renta yang tidak mampu atau keberatan untuk berpuasa, begitu juga yang pikun, ia membayar fidyah sebanyak satu mud (6 Ons) kepada fakir miskin, dan berbuka (tidak berpuasa).Firman Allah SWT: Dan atas orang-orang yang kepayahan berpuasa, fidyah, memberi makan satu mud untuk orang miskin. (QS Al Baqarah [2]: 184).

Ibnu Abbas, ayat ini untuk orang tua (Bukhari).

 Musafir

Bagi orang yang bepergian dalam jarak tempuh yang diperbolehkan mengqoshor sholat, ia boleh berbuka, dan kalau ia berbuka maka wajib mengqadha’ di hari yang lain.

Firman Allah SWT: Barang siapa sakit, atau dalam bepergian, maka mengganti di hari-hari yang lain. (QS Al Baqarah [2]: 184, 185).

Manakah yang lebih afdlol baginya? puasa atau berbuka ?

sang-musafirPara ulama’ berbeda pendapat dalam masalah ini:Kami sependapat dengan Umar bin Abdul Aziz, Mujahid dan Qotadah, yang mengatakan, yang afdlol adalah yang lebih mudah dan ringan antara puasa, dan berbuka dengan resiku wajib mengqadha’ menurut pandangan musafir itu. Pendapat inilah yang dianut Ibnul Mundzir (Al Majmu’ juz 6, hal : 266).

Mukallaf (baligh dan berakal sehat) yang tidak termasuk dalam kategori di atasMereka ini wajib berpuasa, dan tidak boleh menggantinya dengan fidyah.

Firman Allah SWT:Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu ber­puasa, sebagaimana telah diwajibkan atas ummat sebelummu, agar supaya engkau bertakwa. Pada beberapa hari tertentu. (QS Al Baqarah [2]: 183-184).

 Puasa anak kecil

Dalam shahih Bukhari:

puasa anak kecilDari Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata: Rasulullah SAW mengir­im utusan pada pagi hari tanggal 10 Muharrom ke perkampungan Anshor: “barang siapa pagi ini berbuka, maka selesaikanlah sisa harinya, dan barang siapa berpuasa, maka berpuasalah”, Rubayyi’ berkata: “maka kami berpuasa, dan melatih anak kecil kami berpua­sa, dan kami berikan kepada mereka mainan dari bulu, jika mereka menangis minta makan, kami berikan mainan itu sampai tiba waktu berbuka”. (Bukhari hadits no: 1960).

 Kapan Mulai Berpuasa ?

Puasa Ramadhan dimulai pada tanggal satu dari bulan tersebut, tidak boleh diawalkan atau diakhirkan.

Sabda Rasulullah SAW:

Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali ia seseorang yang biasa berpuasa pada hari itu (senin, kamis, puasa Daud dsb), maka berpuasalah. (HR Bukhari, no: 1914).

Untuk menetapkan satu Ramadhan dapat dilakukan dengan dua cara, sesuai dengan petunjuk dan ajaran Rasulullah SAW, yaitu:

Dengan melihat hilal tanggal satu Ramadhan, jika hilal tidak dapat dilihat, maka:

Menyempurnakan hitungan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Tentunya awal Sya’ban hendaknya ditetapkan juga dengan melihat hilal.

Rasulullah SAW tidak menerima penetapan awal bulan dengan hitun­gan.

Sabda Rasulullah SAW:

Berpuasalah karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal, jika hilal tidak terlihat oleh kalian, sempurnakan hitungan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. (HR Bukhari, no: 1909).

Sabda beliau yang lain: Kami ummat ummi, tidak bisa menulis dan berhitung, bulan adalah demikian, dan demikian, maksudnya: terkadang dua sembilan, terka­dang tiga puluh. (HR Bukhari, no: 1913).

Jadi jika ada informasi bahwa bulan sudah terlihat, dan informasi itu dapat dipertanggungjawabkan, maka kita wajib berpuasa, meski­pun kalender mengatakan belum tanggal satu Ramadhan, dan bila kita mendapat informasi yang bisa dipertanggungjawabkan bahwa bulan sudah dapat dilihat (Syawal), maka kita berbuka, meskipun kalender atau lainnya mengatakan lain.

 Yang Tidak Merusak Puasa ?

1.   Tetesan obat dan celak, jika rasanya tidak sampai di kerong­kongan.

2.   Berbekam (mengkop untuk mengeluarkan darah), yang dibekam dan yang membekam tidak batal puasanya.

3.   Jika masuk kedalam mulut sesuatu yang tidak bisa dihindari, seperti lalat, nyamuk, debu jalan, tebaran tepung, dan semacamnya waktu menyapu atau bekerja.

4.   Asap kayu, adapun menghisap rokok hukumnya haram dan membatal­kan puasa.

5.   Mencium minyak misik, mawar, bunga dan wewangian, selama tidak berasap, tetapi makruh.

6.   Mencium bau makanan.

7.   Suntik dengan segala macamnya, selama bukan suntikan makanan, jika memungkinkan mengakhirkan suntikan sampai malam, itu lebih baik.

8.   Masuk fajar masih dalam keadaan junub, lalu mandi setelah fajar, atau junub di siang hari, hendaklah ia mandi, dan tidak batal puasanya, begitu juga yang bersih dari haidh. Akan tetapi seorang yang junub hendaklah segera mandi untuk sholat di awal waktu.

9.   Mandi dan berenang, selama air tidak masuk kerongkongan.

10. Menelan ludah dan lendir, selama belum mau dimuntahkan, kalau sudah mau dimuntahkan lalu ditelan tidak boleh menurut madzhab Syafi’i.

11. Muntah tidak sengaja.

12. Membersihkan telinga dengan kayu atau kapas dan meneteskan obat ke dalamnya, selama tidak sampai ke kerongkongan.

13. Makan dan minum karena lupa.

14. Masuknya sisa makanan yang terselip pada gigi tanpa sengaja.

15. Mencium (isteri), bermesraan (selain jima’), memandang, dan berfikir, selama tidak mengeluarkan sesuatu, akan tetapi makruh.

16. Berkumur, selama tidak ada air yang ditelan dengan sengaja, begitu juga gosok gigi, lebih baik gosok gigi sebelum fajar tiba.

17. Mencicipi makanan, atau melembutkan sesuatu dengan mulut untuk anak kecil, selama tidak ditelan, dan tidak ada sesuatu yang masuk ke perut, akan tetapi makruh.

Kasus Yang Sering Ditanyakan ?

 Bagi yang bersetubuh dengan istrinya di siang Ramadhan, ia wajib mengqadha dan membayar kaffaroh, secara urut yaitu:

–     Memerdekakan budak, kalau tidak mampu

–     Berpuasa dua bulan berturut-turut, kalau tidak mampu

–     Memberi makan enam puluh orang miskin.

Dan menurut madzhab imam Malik, yang sengaja membatalkan puasan­yapun terkena hukum seperti ini.

Qadha’ Ramadhan tidak disyaratkan terus menerus.

Boleh bagi wanita mengupayakan pengakhiran haidh, dengan syarat terjamin aman atas kesehatannya, dan kondisi normal lebih aman dan baik, Islam memberikan Rukhshah (keringanan) kepa­danya.

Bagi yang punya hutang puasa dan belum terbayar (terqadha) sampai datang lagi puasa berikutnya, ia tetap wajib mengqadha’ diluar bulan Ramadhan, tidak boleh berpuasa apapun pada bulan selain puasa Ramadhan tersebut, dan lebih baik lagi ia juga membayar fidyah disamping mengqadha’.

 Beberapa Adab Berpuasa

1.   Selama berpuasa hendaklah ia meninggalkan segala bentuk ma’­siat, karena puasa adalah larangan untuk sesuatu yang mubah, sudah semestinya yang aslinya haram lebih dilarang lagi.

2.   Hendaklah ia pada siang Ramadhan menyibukkan diri dengan berbagai bentuk ketaatan, seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya, dan janganlah ia menggunakan waktunya untuk bermain, bercanda, gaple, catur dan semacamnya, kalau terasa capek atau bosan dengan sesuatu tidur saja.

3.   Bersegera berbuka jika telah jelas maghrib tiba.

4.   Berdo’a saat berbuka, khususnya dengan do’a ma’tsur, yaitu:

 اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَبِكَ ءَامَنْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ، وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ، اَللَّهُمَّ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ، اِغْفِرْ لِيْ

 Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan atas rizqi-Mu aku berbuka, rasa dahaga telah sirna, nadi-nadi darahku telah basah, dan pahala telah dikukuhkan insya Allah, ya Allah, Dzat yang Mahaluas pengampunan-Nya, ampunilah saya.

5.   Janganlah berbuka sampai kekenyangan, bukankah puasa untuk memberi rasa fakir dan lapar ?!, sunnahnya berbuka dengan kurma yang masih segar (ruthob), atau kurma, atau air, lalu sholat maghrib, baru makan besar.

6.   Disunnahkan mengakhirkan sahur, yang sunnah masih ada waktu antara sahur dan sholat subuh sepanjang bacaan lima puluh ayat.

7.   Dianjurkan waktu Ramadhan memperbanyak shadaqah dan infaq.

8.   Dianjurkan pula memberi buka kepada orang yang berpuasa, karena ia mendapatkan pahala seperti yang didapat oleh yang berpuasa, tanpa mengurangi pahalanya.

9.   Pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan disunnahkan untuk I’tikaf dan mengencangkan semangat untuk beribadah.

Semoga Allah SWT memberi kesempatan kita untuk bertemu Ramadhan, diterima puasa kita, sholat kita, dan seluruh amal baik kita, serta diampuni seluruh dosa kita, sehingga kitapun terbebas dari neraka, aamin.