Kewajiban Puasa

MANUSIA DAN KEWAJIBAN PUASA

Berkaitan dengan kewajiban berpuasa, manusia dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:

 Wanita Haidh Dan Nifas

Mereka diharamkan berpuasa, wajib berbuka, dan wajib pula menggan­ti (mengqadha’) di hari yang lain sebanyak hari yang ia tidak berpuasa.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Kami haidh pada zaman Rasulullah SAW, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ sholat. (HR Bukhari dan Muslim).

 Orang Sakit

sakitOrang yang sakit, mendapatkan rukhshah (kemurahan dan keringanan) untuk berbuka. Sakit yang dimaksud, menurut jumhur ulama’ adalah sakit yang membahayakan dan bertambah parah jika berpuasa, atau dikhawa­tirkan memperlambat kesembuhan.

Firman Allah SWT: Allah SWT menghendaki kemudahan pada kalian, dan tidak menghenda­ki kesulitan. (QS Al Baqarah [2]: 185).

Ayat ini menunjukkan bahwa maksud dari rukhshah adalah menghin­dari masyaqqot (kepayahan, kesulitan) dan bahaya, padahal ada sebagian penyakit yang tidak bisa sembuh kecuali dengan berpuasa.

Dengan alasan inilah jumhur ulama’ berpendapat : Wanita hamil dan menyususi. Jika wanita hamil mengkhawatirkan atas keselamatan dirinya, anaknya, atau diri dan anaknya sekaligus, ia berbuka dan tidak berpuasa, karena keduanya seperti orang yang sakit.

Sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah SWT menanggalkan separoh dari puasa dan sholat bagi orang yang bepergian, dan juga dari wanita hamil dan menyu­sui. (HR Abu Daud, At-Tirmidzi, AN-Nasa-i dan Ibnu Majah, dengan sanad jayyid).

Masalahnya adalah mereka (wanita hamil dan menyusui) wajib meng­qadha’ atau harus bagaimana ? Para ulama’ berbeda pendapat dalam hal ini, dan dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menurut imam Syafi’i dan Ahmad: Jika hanya mengkhawatirkan anaknya saja, lalu ia berbuka, maka wajib mengqadha’ dan membayar fidyah, yaitu memberi makan setiap hari yang ia tidak berpuasa sebanyak satu mud (6 ons) kepada fakir miskin, dari makanan yang ia biasa makan dalam kondisi biasa.

Jika keduanya mengkhawatirkan dirinya saja, atau diri dan anaknya sekaligus, maka keduanya hanya wajib mengqadha’ saja.

Menurut Abu Hanifah: Bagaimanapun juga alasan kekhawatirannya, keduanya hanya wajib mengqadha’ saja, dengan alasan keduanya satu hukum dengan orang yang sakit.

Khusus

Jika seorang wanita setahun hamil dan tahun berikutnya menyusui, lalu tahun depannya lagi hamil lagi, begitu seterusnya, maka ia hanya wajib membayar fidyah saja. (Yusuf Al Qardhawi, Fatawa Mu’ashirah juz 1, hal: 301), karena kapan saatnya ia harus meng­qadha’, kalaupun ada, maka sangatlah memberatkan dan Allah SWT SWT tidak menghendaki untuk memberatkan, wAllahu a’lam.

Orang Tua Renta Dan Pikun

tua-rentaOrang tua renta yang tidak mampu atau keberatan untuk berpuasa, begitu juga yang pikun, ia membayar fidyah sebanyak satu mud (6 Ons) kepada fakir miskin, dan berbuka (tidak berpuasa).Firman Allah SWT: Dan atas orang-orang yang kepayahan berpuasa, fidyah, memberi makan satu mud untuk orang miskin. (QS Al Baqarah [2]: 184).

Ibnu Abbas, ayat ini untuk orang tua (Bukhari).

 Musafir

Bagi orang yang bepergian dalam jarak tempuh yang diperbolehkan mengqoshor sholat, ia boleh berbuka, dan kalau ia berbuka maka wajib mengqadha’ di hari yang lain.

Firman Allah SWT: Barang siapa sakit, atau dalam bepergian, maka mengganti di hari-hari yang lain. (QS Al Baqarah [2]: 184, 185).

Manakah yang lebih afdlol baginya? puasa atau berbuka ?

sang-musafirPara ulama’ berbeda pendapat dalam masalah ini:Kami sependapat dengan Umar bin Abdul Aziz, Mujahid dan Qotadah, yang mengatakan, yang afdlol adalah yang lebih mudah dan ringan antara puasa, dan berbuka dengan resiku wajib mengqadha’ menurut pandangan musafir itu. Pendapat inilah yang dianut Ibnul Mundzir (Al Majmu’ juz 6, hal : 266).

Mukallaf (baligh dan berakal sehat) yang tidak termasuk dalam kategori di atasMereka ini wajib berpuasa, dan tidak boleh menggantinya dengan fidyah.

Firman Allah SWT:Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu ber­puasa, sebagaimana telah diwajibkan atas ummat sebelummu, agar supaya engkau bertakwa. Pada beberapa hari tertentu. (QS Al Baqarah [2]: 183-184).

 Puasa anak kecil

Dalam shahih Bukhari:

puasa anak kecilDari Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata: Rasulullah SAW mengir­im utusan pada pagi hari tanggal 10 Muharrom ke perkampungan Anshor: “barang siapa pagi ini berbuka, maka selesaikanlah sisa harinya, dan barang siapa berpuasa, maka berpuasalah”, Rubayyi’ berkata: “maka kami berpuasa, dan melatih anak kecil kami berpua­sa, dan kami berikan kepada mereka mainan dari bulu, jika mereka menangis minta makan, kami berikan mainan itu sampai tiba waktu berbuka”. (Bukhari hadits no: 1960).

 Kapan Mulai Berpuasa ?

Puasa Ramadhan dimulai pada tanggal satu dari bulan tersebut, tidak boleh diawalkan atau diakhirkan.

Sabda Rasulullah SAW:

Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali ia seseorang yang biasa berpuasa pada hari itu (senin, kamis, puasa Daud dsb), maka berpuasalah. (HR Bukhari, no: 1914).

Untuk menetapkan satu Ramadhan dapat dilakukan dengan dua cara, sesuai dengan petunjuk dan ajaran Rasulullah SAW, yaitu:

Dengan melihat hilal tanggal satu Ramadhan, jika hilal tidak dapat dilihat, maka:

Menyempurnakan hitungan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Tentunya awal Sya’ban hendaknya ditetapkan juga dengan melihat hilal.

Rasulullah SAW tidak menerima penetapan awal bulan dengan hitun­gan.

Sabda Rasulullah SAW:

Berpuasalah karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal, jika hilal tidak terlihat oleh kalian, sempurnakan hitungan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. (HR Bukhari, no: 1909).

Sabda beliau yang lain: Kami ummat ummi, tidak bisa menulis dan berhitung, bulan adalah demikian, dan demikian, maksudnya: terkadang dua sembilan, terka­dang tiga puluh. (HR Bukhari, no: 1913).

Jadi jika ada informasi bahwa bulan sudah terlihat, dan informasi itu dapat dipertanggungjawabkan, maka kita wajib berpuasa, meski­pun kalender mengatakan belum tanggal satu Ramadhan, dan bila kita mendapat informasi yang bisa dipertanggungjawabkan bahwa bulan sudah dapat dilihat (Syawal), maka kita berbuka, meskipun kalender atau lainnya mengatakan lain.

 Yang Tidak Merusak Puasa ?

1.   Tetesan obat dan celak, jika rasanya tidak sampai di kerong­kongan.

2.   Berbekam (mengkop untuk mengeluarkan darah), yang dibekam dan yang membekam tidak batal puasanya.

3.   Jika masuk kedalam mulut sesuatu yang tidak bisa dihindari, seperti lalat, nyamuk, debu jalan, tebaran tepung, dan semacamnya waktu menyapu atau bekerja.

4.   Asap kayu, adapun menghisap rokok hukumnya haram dan membatal­kan puasa.

5.   Mencium minyak misik, mawar, bunga dan wewangian, selama tidak berasap, tetapi makruh.

6.   Mencium bau makanan.

7.   Suntik dengan segala macamnya, selama bukan suntikan makanan, jika memungkinkan mengakhirkan suntikan sampai malam, itu lebih baik.

8.   Masuk fajar masih dalam keadaan junub, lalu mandi setelah fajar, atau junub di siang hari, hendaklah ia mandi, dan tidak batal puasanya, begitu juga yang bersih dari haidh. Akan tetapi seorang yang junub hendaklah segera mandi untuk sholat di awal waktu.

9.   Mandi dan berenang, selama air tidak masuk kerongkongan.

10. Menelan ludah dan lendir, selama belum mau dimuntahkan, kalau sudah mau dimuntahkan lalu ditelan tidak boleh menurut madzhab Syafi’i.

11. Muntah tidak sengaja.

12. Membersihkan telinga dengan kayu atau kapas dan meneteskan obat ke dalamnya, selama tidak sampai ke kerongkongan.

13. Makan dan minum karena lupa.

14. Masuknya sisa makanan yang terselip pada gigi tanpa sengaja.

15. Mencium (isteri), bermesraan (selain jima’), memandang, dan berfikir, selama tidak mengeluarkan sesuatu, akan tetapi makruh.

16. Berkumur, selama tidak ada air yang ditelan dengan sengaja, begitu juga gosok gigi, lebih baik gosok gigi sebelum fajar tiba.

17. Mencicipi makanan, atau melembutkan sesuatu dengan mulut untuk anak kecil, selama tidak ditelan, dan tidak ada sesuatu yang masuk ke perut, akan tetapi makruh.

Kasus Yang Sering Ditanyakan ?

 Bagi yang bersetubuh dengan istrinya di siang Ramadhan, ia wajib mengqadha dan membayar kaffaroh, secara urut yaitu:

–     Memerdekakan budak, kalau tidak mampu

–     Berpuasa dua bulan berturut-turut, kalau tidak mampu

–     Memberi makan enam puluh orang miskin.

Dan menurut madzhab imam Malik, yang sengaja membatalkan puasan­yapun terkena hukum seperti ini.

Qadha’ Ramadhan tidak disyaratkan terus menerus.

Boleh bagi wanita mengupayakan pengakhiran haidh, dengan syarat terjamin aman atas kesehatannya, dan kondisi normal lebih aman dan baik, Islam memberikan Rukhshah (keringanan) kepa­danya.

Bagi yang punya hutang puasa dan belum terbayar (terqadha) sampai datang lagi puasa berikutnya, ia tetap wajib mengqadha’ diluar bulan Ramadhan, tidak boleh berpuasa apapun pada bulan selain puasa Ramadhan tersebut, dan lebih baik lagi ia juga membayar fidyah disamping mengqadha’.

 Beberapa Adab Berpuasa

1.   Selama berpuasa hendaklah ia meninggalkan segala bentuk ma’­siat, karena puasa adalah larangan untuk sesuatu yang mubah, sudah semestinya yang aslinya haram lebih dilarang lagi.

2.   Hendaklah ia pada siang Ramadhan menyibukkan diri dengan berbagai bentuk ketaatan, seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya, dan janganlah ia menggunakan waktunya untuk bermain, bercanda, gaple, catur dan semacamnya, kalau terasa capek atau bosan dengan sesuatu tidur saja.

3.   Bersegera berbuka jika telah jelas maghrib tiba.

4.   Berdo’a saat berbuka, khususnya dengan do’a ma’tsur, yaitu:

 اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَبِكَ ءَامَنْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ، وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ، اَللَّهُمَّ يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ، اِغْفِرْ لِيْ

 Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan atas rizqi-Mu aku berbuka, rasa dahaga telah sirna, nadi-nadi darahku telah basah, dan pahala telah dikukuhkan insya Allah, ya Allah, Dzat yang Mahaluas pengampunan-Nya, ampunilah saya.

5.   Janganlah berbuka sampai kekenyangan, bukankah puasa untuk memberi rasa fakir dan lapar ?!, sunnahnya berbuka dengan kurma yang masih segar (ruthob), atau kurma, atau air, lalu sholat maghrib, baru makan besar.

6.   Disunnahkan mengakhirkan sahur, yang sunnah masih ada waktu antara sahur dan sholat subuh sepanjang bacaan lima puluh ayat.

7.   Dianjurkan waktu Ramadhan memperbanyak shadaqah dan infaq.

8.   Dianjurkan pula memberi buka kepada orang yang berpuasa, karena ia mendapatkan pahala seperti yang didapat oleh yang berpuasa, tanpa mengurangi pahalanya.

9.   Pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan disunnahkan untuk I’tikaf dan mengencangkan semangat untuk beribadah.

Semoga Allah SWT memberi kesempatan kita untuk bertemu Ramadhan, diterima puasa kita, sholat kita, dan seluruh amal baik kita, serta diampuni seluruh dosa kita, sehingga kitapun terbebas dari neraka, aamin.

Iklan

Hal Yang Membatalkan Puasa & Hal Yang Harus di Lakukan

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

puasaHal-hal yang membatalkan puasa dibagi dalam dua kelompok:

1.   Membatalkan Puasa dan wajib dibayar dengan puasa pula (qodlo’) saja, yaitu:

a.   Masuknya sesuatu ke dalam perut melalui rongga/lubang tubuh seperti makan, minum, menelan ludah yang sudah keluar dari mulut, suntikan melalui qubul atau dubur, tertelannya air kumur karena berlebihan dalam berkumur.

b.   Muntah yang mengandung adanya unsur kesengajaan seperti karena memasukkan jari ke dalam mulut. Adapun muntah karena tidak sengaja atau diluar kemauan maka tidak membatalkan puasa.

c.   Bersetubuh baik yang halal (suami istri) apalagi yang haram, naudzu billah.

d.   Keluar mani dengan unsur kesengajaan. Misalnya dengan onani, masturbasi dan sebagainya. Adapun yang tidak sengaja seperti hanya terlihat gambar atau bermimpi maka tidak membatalkan.

e.   Mengira sudah maghrib lalu berbuka, padahal belum maghrib.

f.    Murtad, seperti halnya gila, jiak orang ini masuk Islam kembali, maka terjadi perbedaan pendapat apakah wajib membayar puasa atau tidak.

g.   Haidl dan nifas.

f.    Gila, dalam hal ini ada perbedaan pendapat apakah dia wajib membayar qodlo puasanya atau tidak.

Keterangan : Seseorang yang membatalkan puasa karena sebab yang diharamkan, misalnya makan karena disengaja, onani dan sebagainya diwajibkan melakukan imsaak, menahan diri seperti layaknya orang yang berpuasa, dan dia tetap mendapat dosa. Adapun orang yang batal puasanya karena haidl, nifas dan gila maka hal itu tidak terkena dosa.

 2.   Hal-hal yang membatalkan puasa dan wajib dibayar dengan puasa (qodlo’) plus denda.

Bersetubuh (jima’). Orang yang puasa Ramadhan lalu bersetubuh di siang hari, maka batal puasanya, wajibmelakukan imsak sebagaimana orang yang berpuasa, wajib membayar puasa (qodlo’), dan wajib membayar kafaarat, yaitu puasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu wajib memerdekakan budak, dan jika tidak mampu maka wajib memberi makan kepada 60 orang miskin.

 HAL-HAL YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN (Sunnah-sunnah Puasa)

1.     Sahur, dan melakukannya sepagi mungkin menjelang subuh, sekitar 15 menit (50 ayat) sebelum adzan subuh.

2.     Menyegerakan berbuka, begitu masuk waktu maghrib langsung berbuka meskipun hanya minum saja.

3.     Berdo’a setelah berbuka. Anjuran berdo’a sebelum makan dan sesudah makan tetap berlaku seperti halnya di luar Ramadhan.

4.     Memberikan buka puasa kepada orang lain.

5.     Melakukan segala hal kebaikan, dan meninggalkan segala hal yang melalaikan dari dzikrullah, meskipun tidak termasuk haram. Seperti memperbanyak membaca Al Qur’an dan mengurangi menonton TV atau ngobrol yang tidak berfaidah.

 LAIN-LAIN

1.     Orang yang sedang junub/hadast besar di malam hari, ketika subuh belum mandi, maka puasanya tetap sah. Namun jangan sampai tidak sholat subuh.

2.     Orang yang makan dan minum atau bersetubuh dalam keadaan lupa, maka puasanya tidak batal. Teapi saat ingat, kegiatan ini harus di-stop.

3.     Keluarnya darah karena di tubuh orang yang berpuasa, adalah tidak membatalkan puasa.

4.     Keluarnya mani karena bermimpi tidak membatalkan puasa.

5.     Mendahulukan sholat maghrib kemudian berbuka adalah hal yang tidak baik.

6.     Makan dan minum adalah tidak membatalkan wudlu seseorang. Karenanya setelah berwudlu seseorang tetap boleh makan sahur atau berbuka, asal masih pada waktunya.

7.     Melakukan maksiat seperti ghibah, mencuri, menyebar fitnah dan lain-lain tidak membatalkan status hukum puasa. Tetapi dapat membatalkan pahala puasa, namun ia wajib berpuasa selayaknya orang berpuasa.

8.     Mencium istri tidak membatalkan puasa, tetapi sebaiknya dihindari untuk menjaga hal-hal yang lebih khusus yang dapat membatalkan puasa.

9.     Mencicipi makanan tidaklah membatalkan puasa. Tetapi sebaiknya dihindari dan berhati-hati supaya jangan sampai tertelan.

10.   Berkumur saat berpuasa tidak boleh berlebihan (mubalagah), jika berlebihan dan tertelan airnya, maka dapat membatalkan puasa.

11.   Gosok gigi saat berpuasa memang disunnahkan sebelum dzuhur. Adapun setelah dzuhur sampai maghrib sebaiknya tidak dilakukan untuk menghindari masalah khilafiyah. Jika ingin melakukan gosok gigi, sebaiknya dilakukan sebelum fajar dan setelah maghrib untuk berhati-hati dari kemungkinan tertelannya pasta gigi yang dapat membatalkan puasa.

 Diantara amalan shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Adalah :

1.     Berilmu yang benar tentang shiyam dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya; “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi penghapus dosa-dosa yangpernah dilakukan sebelumnya. (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi)

2.     Tidak meninggalkannya; walaupun sehari dengan sengaja tanpa alasan  yang dibenarkan oleh syariat Islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa tidak berpuasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alas an rukhshoh atau sakit, maka itu (merupakan dosa besar) yang tidak dapat ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup.” (HR. At Turmudzi)

3.     Bersungguh-sungguh; dalam melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SWA : “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukannya. (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud).

4.     Hati-hati; menjauhi hal-hal yang dapt merusak nialai shiyam. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan menpraktekkannya, maka tidak ada nialinya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum“ (HR. Bukhori dan Muslim). Pada hadist yang lain “Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar nebinggalkan makan dan minum,melainkan meninggalkan hal yang sia-sia (tidak benilai) dan kata-kata bohong.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah)

5.     Sahur; disunnahkan mengakhirkan waktu dan melakukan sahur dengan makanan yang insya Allah berkah (al ghoda’ al mubarok). Dalam hal ini Rasulullah SAW. Pernah bersabda: “Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad).

6.     Iftor; atau berbuka puasa. Rasulullah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan ummat adalah manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan iftor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Sebagaimana sabda beliau : “Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai-Nya, ialah mereka yang menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Ahmad dan Turmudzi) Bahkan beliau mendahulukan iftor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengkal) atau tamr (kurma) atau air saja (HR. Abu Daud dan Ahmad).

7.     Berdo’a; stelah seharian berpusa,kemudian berbuka puasa, sebagai rasa syukur, dianjurkan berdo’a. Bahkan Rasulullah mensyariatkan agar orang-orang yang berpuasa  banyakmemanjatkan do’a, sebab do’a mereka akan dikabulkan Allah SWT “Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah orang-orangyang berpuasa hingga mereka berbuka.” (HR. Ahmad dan Turmudzi) 

Persiapan Menyambut Ramadhan

MENYAMBUT  RAMADHAN

ramadhanBulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia, bulan tarbiyah untuk mencapai derajat yang paling tinggi,  paling  mulia yaitu derajat taqwa. “Hai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa “ (2:183)

“Seungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling taqwa. “ (QS.49:13)

Persiapan Menyambut Ramadhan imagesPredikat taqwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Ia baru akan diperoleh manakala seseorang melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan itu dengan berbagai kegiatan yang baik dan mensikapinya dengan benar.

 1.        Persiapan Ruh dan Jasad

Dengan mengkondisikan diri pada bulan Sya’ban kita telah terbiasa berpuasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat dan tubuh sudah terlatih berpuasa. Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan kondisi ruh dan iman telah membaik yang selanjutnya dapat langsung menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini dengan berbagai amal dan kegiatan yang dianjurkan, dan di sisi lain tidak terjadi lagi gejolak fisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang yang pertama kali berpuasa seperti lemah, badan terasa panas, dsb. Rasulullah SAW menganjurkan agar memperbanyak puasa Sunnah di bulan Sya’ban ini dengan mencontohkannnya langsung : “Beliau tidak meninggalkannya”. Demikian dalam Riwayat Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa “Beliau melakukan puasa Sunnah bulan Sya’ban sebulan penuh, Beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan. “

Anjuran tersebut dikuatkan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, katanya :”Ya Rasulullah, saya tidak melihat Kamu berpuasa pada bulan-bulan lain sebnayak puasa di bulan Sya’ban ini. Beliau menjawab : itulah bulan yang dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkatnya amal perbuatan kepada ALLAH Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amal-Ku diangkat sedang Aku dalam keadaaan berpuasa. “ (HR. Nasa’i)

 2.        Persiapan Materi

Bulan Ramadhan merupakan bulan muwasat (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada oarng lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.

Rasulullah pada bulan Ramadhan ini sangat dermawan, sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah kepada masyarakat sampai merata. Lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda sekitarnya.

Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.

 3.        Persiapan Fikri (Persepsi)

Minimal persiapan persepsi ini meliputi dua hal yaitu :

1.     Mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaan bulan Ramadhan.

2.     Dapat memanfaatkan dan mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang secara logis dan kongkrit mengantarkannya mencapai ketaqwaan.

 Keutamaan Bulan Ramadhan

Mencermati khutbah rasulullah saw dalam menyambut ramadhan, setidaknya kita menempatkan bulan ramadhan dalam beberapa keutamaan berikut, diantaranya :

Bulan Kaderisasi Taqwa, Bulan Diturunkannya Al-Quran 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.(QS.2:183)  “Bulan Ramadhan-yang pada bulan itu Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk buat manusia dan penjelasan tentang petunjuk itu dan sebagi pemisah (yang haq dan bathil)”

 Bulan Paling Utama, Bulan Penuh Berkah

“Bulan yang paling utama adalah bulan Ramadhan dan hari yang paling uatama adalah adalah hari Juma’at. (HR. Thobroni)  “Dari Ubadah bin Shamit, bahwa Rosulululloh-pada suatu hari, ketika Ramadhan telah tiba, bersabda : Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah pada bulan itu Allah akan memberikan naungan-Nya kepad kalian, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan danDia kabulkan do’a. Pada bulan itu Allah Ta’ala aka melihat kalian yang berpacu melakukan kebaikan, para Malaikat beerbangga  dengan kalian dan perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat rahmat Allah Azza Wajalla “. (HR.Thobroni).

Bulan Ampunan Dosa , Bulan Peluang Emas Melakukan Ketaatan

“Antara sholat lima waktu, dari Juma’at, dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapuskan  dosa-dosa apabila dosa-dosa besar dihindari “. (HR. Muslim)  “Barang siapa yang melakukan ibadah di malam bulan Ramadhan, karena iman dan mengharapkan ridho Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.“ (Muttafaq Alaih) “Apabila Ramadhan datang maka pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaithon-syaithon dibelenggu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Bulan Dilipat Gandakannya Amal Sholeh

“Setiap  amal bani adam dilipat gandakan pahalanya, saatu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman : Kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai yang melindungi dari neraka. Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi dari parfum misik. Apabila orang bodoh berlaku jahil kepada seseorang kamu yang tengah berpuasa, hendaknya ia katakan : aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa “. (HR. Tirmizi)

Khutbah Rasulullah menyongsong bulan suci Ramadhan sebagai bulan ibadah, sabar, santunan, infaq, dan do’a :

“Dari Salman R.A. katanya : Rasulullah berkhutbah di tengah-tengah kami pada akhir Sya’ban, sabdanya : Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaungi kalian. Bulan yang didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Bulan yang padanya Allah mewajibkan berpuasa. Qiyamullail disunnahkan . Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan tujuh puluh kali kewajiban di bulan lainnya.

Ramadhan adalah bulan sabar, sabar itu balasannnya syurga. Bulan santunan, bulan ditambahkannya rezeki orang mu’min. siapa yang memberikan makanan untuk berbuka kepada seseorang yang berpuasa, balasannya ampunan terhadap dosa-dosanya, dirinya dibebaskan dari neraka, dan dia mendapatkan pahala sebesar orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut.

Sahabat berkomentar, kata mereka : Ya Rasulullah, tidak setiap kami memiliki makanan untuk berbuka yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa, sabda Rasulullah SAW : Pahala tersebut akan diberikan Allah sekalipun yang diberikan untuk berbuka bagi yang berpuasa hanya satu buah kurma, ataau seteguk air, atau sesendok susu asam.

Bulan Ramadhan awalnya rahmat, tengahnya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka, siapa yang memberikan keringanan bagi hamba sahayanya pada bulan itu akan Allah ampuni dosanya, dan dia dibebaskan dari neraka.

Pada bulan itu perbanyaklah empat hal, dua diantaranya membuat kamu diridhoi Robbmu dan dua yang lainnya suatu yang sangat kamu butuhkan.

Dua yang membuat kamu diridhoi Robbmu adalah: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan kamu meminta ampunan kepadanya. Sedangkan dua hal lainnya yang sangat kamu butuhkan adalah: Kamu meminta syurga kepada Allah dan kamu minta dilindungi dari neraka.  Siapa yang memberikan minum kepada orang yang berpuasa, Allah akan memberikan minuman kepadanya dari telagaku yang tidak akan menjadikan haus sampai dia masuk syurga “. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Ramadhan Bulan Jihad, Bulan Kemenangan

Sejarah mencatat, bahwa pada bulan suci Ramadhan inilah beberapa kesuksesan dan kemenangan besar diraih umat Islam, yang sekaligus membuktikan bahwa Ramadhan bukan bulan malas dan lemah, tapi merupakan bulan kuat, bulan jihad, bulan kemenangan.

Perang Badar Kubro yang diabadikan dalam al-Qur’an sebagai “ Yaumul Furqon “ dan umat Islam saat itu meraih kemnangna besar, terjadi pada tanggal 17 bualn Ramadhan. Dan ssaat itu pula gembong kebathilan Abu Jahal, terbunuh.

Pada bulan Ramadhan pula Futuh Makkah terjadi yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai  “ Fat-han Mubiinan “, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun delapan (8) Hijrah.

Serangkaian peristiwa besar lainnya juga terjadi pada bulan Ramadhan, seperti beberapa pertempuran dalam perang tabuk terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 Hijjrah, menghancurkan berhala Uzza tanggal 25 Ramadhan tahun 8 Hijrah, dihancurkannya berhala Latta pada bulan Ramadhan tahun 9 Hijrah.

Peperangan Ain Jalut yang dapat menaklukkan tentara mongol terjadi pada tanggal 25 Ramadhan tahun 658 Hijrah. Dan ditaklukkannya Andalusia di bawah pimpinan Tarik bin Ziyad pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijrah.

PUASA (SHAUM)

Shaum atau shiyam berarti al-imsaak yakni menahan diri. Adapun dalam istilah fiqh, shaum berarti “menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, berhubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menurut syar’i nya, puasa atau shaum berarti mencegah diri dari hal-hal yang membatalkannya pada waktu yang telah ditentukan, dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Sebagaimana Allah berfirman : “Dibolehkan kamu makan dan minum hingga terbit fajar kemudian teruskanlah puasa hingga malam hari.” QS.Al Baqarah:187

 Imam Al Ghazalli dalam Ihya Ulumuddin   membagi shaum dalam tiga tingkatan :

1.   Shaumnya orang awam, yaitu seperti pengertian shaum dalam ilmu fiqh, yaitu menahan diri dari hal-hal yangmembatalkan shaum seperti makan,minum dan sebagainya.

2.   Shaum khawash; Yaitu menahan mata, mulut, telinga tangan dan kaki serta seluruh anggota badan dari segala kemaksiatan dan dosa. Seseorang yang menahan diri dari makan dan minum, tetapi masih berbohong, mengumpat, mencuri, korupsi, bahkan makan yang digunakan untuk sahur dan bukanya adalah makanan yang haram, tidak menahan pandangan dari hal-hal yang terlarang, dan sebagainya. Maka sebenarnya dia belum melakukan shaum. Itulah yang disinggung rasulullah SAW bahwa banyak sekali orangyang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa di sisi Allah kecuali haus dan lapar.

3.   Shaum khawashshul khawash; Yaitu menahan hati dari keinginan-keinginan duniawi dan menahan diri dari memikirkan hal-hal yang duniawiyah. Menahan hati dan pemikiran dari selain Allah SWT. Hati dan fikirannya hanya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT secara totalitas.

SIAPA SAJAKAH YANG WAJIB BERPUASA DI BULAN RAMADHAN ?

(Syarat Wajib Berpuasa).

Setiap orang yang memenuhi syarat-syarat di bawah ini,maka ia termasuk orang yang wajib berpuasa.

  1. Muslim atau beragama Islam. Bila seseorang berpuasa sebelum Islam, maka puasanya tidak sah. Dan bagi yang baru masuk Islam, maka tidak wajib baginya “qadha” puasa semasa kekafirannya. Sebagaimana Allah berfirman : “Katakanlah kepada orang-orang kafir, juka mereka berhenti (dari kekafirannya), maka diampunilah dosa-dosa mereka yang telah lalu.” QS.Al Anfaal:38
  2. Dewasa atau baligh. Anak yang belum dewasa belum wajib berpuasa. Namun puasanya tetap sah jika dilakukan. Rasulullah SAW. Bersabda dalam hal ini : “Tiga orang dilepaskan dari taklif (kewajiban) dan tanggung jawab, ya’ni orang gila hingga sembuh (sadar), orang tidur hingga terjaga dan anak-anak hingga baligh (dewasa).” HR. Abu Dau, Ahmad dan Tirmizi

Sungguhpun demikian anak-anak hendaklah dididik berpuasa sesuai dengan kemampuannya, sebagai latihan agar saat dewasanya nanti sudah terbiasa, sebagaimana hadist: “Dan kami suruh anak-anak kami yang kecil berpuasa” HR. Bukhari Muslim

  1. Berakal, dengan demikian orang yang tidak berakal atau gila tidak diwajibkan berpuasa.
  2. 4.     Kuasa atau sanggup, dari segi fisik. Orang yang sakit atau lanjut usia dan tidak mampu melakukan puasa tidak diwajibkan berpuasa. Sebagaimana firman Allah : ”Dan Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan” QS. Al Hajj:78

Namun bagi mereka yang tidak mampu, wajib menggantinya di saat ia mampu. Bagi mereka yang lanjut usianya dan tidak mampu, diwajibkan membayar “fidyah” sebagaiman firman Allah: “Dan wajib atas mereka yang berat menunaikannya (jika tidak berpuasa) membayar fidyah” QS. Al Baqarah:184

  1. Tidak sedang berudzur; adapun udzur yang dibenarkan adalah sebagai berikut:
    1. Bepergian jauh atau musafir, tetapi jika seseorang musafir itu melakukan shaum di bulan Ramadhlan, maka itu lebih baik, dan jika tidak shaum, maka dia wajib menggantinya setelah bulan Ramadhan.
    2. Sakit; yang kalau dia berpuasa akan terancam jiwanya, atau kalau ia berpuasa semakin parah sakitnya atau semakin lama sembuhnya.
    3. Wanita yang sedang haidl atau nifas; Dia bahkan tidak boleh shaum dan harus membayarnya setelah Ramadhan.
    4. Wanita hamil atau menyusui; hampir sama dengan musafir, sebaiknya berpuasa kalau memang tidak membahayakan diri atau janinnya. Dan apabila tidak puasa, maka wajib membayarnya dengan puasa pula setelah Ramadhan, bahkan dalam mazhab Syafi’i,  dia wajib membayar puasa plus fidyah (memberi makan orang satu miskin / hari) apabila ia mampu berpuasa tetapi khawatir keselamatan janin/anaknya. Kesalahan yang  sering terjadi adalah wanita hamil/menyusui hanya membayar fidyah saja dan tidak mau membayar puasanya, ini adalah kesalahan besar.
    5. Sangat lanjut usia dan tidak mungkin berpuasa.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN (RUKUN) ORANG YANG BERPUASA ?

1.   Niat Puasa; Untuk puasa Ramadhan, niat bisa dilakukan setiap malam (niat untuk puasa esok harinya) atau menurut Imam Malik, dapat juga dilakukan satu kali saja pada permulaan Ramadhan.

2.   Imsak; Yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Baca artikel terkait : khotbah Rasulullah Tentang Ramadhan, Hal-Hal yang Membatalkan Puasa dan Hal yang Harus di lakukan