Penghargaan ACF untuk SBY, AS Permainkan Indonesia

Penghargaan ACF untuk SBY, AS Permainkan Indonesia
Senin, 27 Mei 2013 23:57 wibMisbahol Munir – Okezone
Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA – Banyak pihak mengecam pemberian World Statesman Award atas upaya memajukan kekebasan beragama dan mencegah konflik antar-umat beragama oleh Appeal of Conscience Foundation (ACF) pada akhir Mei kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Bahkan, penghargaan ACF kepada Presiden SBY di Amerika Serikat (AS) tersebut, dinilai sebagai upaya Negeri Paman Sam itu untuk mempermainkan Indonesia.

Pemberian penghargaan itu dinilai mengherankan, bila diberikan ke Indonesia. Pasalnya, selama ini Amerika Serikat sering mengkritisi pelaksanaan HAM di Indonesia.

“Kan mereka yang sering mengkritisi kita (Indonesia). Tapi Amerika Serikat juga yang memberi penghargaan,” kata Ketua Komisi I DPR, MAHFUDZ SIDDIQ di Gedung DPR, Jakarta, Senin (27/5/2013).

Dia juga terkejut dengan sikap AS yang tiba-tiba memberikan penghargaan tersebut. Menurut politikus PKS tersebut, ada yang aneh dari pemberiaan penghargaan kepada Presiden SBY.

“Indonesia ini kayak barang mainan saja,” terang dia.

Sebelumnya, Presiden SBY didampingi ibu Ani Yudhoyono bertolak ke Amerika Serikat, Senin (27/5/2013) pagi. Sebelum ke Amerika, SBY akan melakukan kunjungan kenegaraan di Swedia.

Rangkaian kunjungan ke dua negara itu dilakukan pada 27 Mei hingga 2 Juni. Kunjungan kenegaraan ke Swedia dilakukan atas undangan Raja Carl XIV Gustav.

Sementara, kunjungan kerja ke AS adalah untuk menghadiri pertemuan kelima High-Level Panel of Eminent Persons on the Post-2015 Development Agenda dan menyampaikan laporan akhir Panel ke Sekretaris Jenderal PBB.

Selama di Amerika, Presiden SBY di New York akan mendapat penghargaan HAM dari organisasi nirlaba Appeal of Conscience Foundation (ACF) yang memberikan penghargaan World Statesman Award.

Rencana pemberian penghargaan terus menjadi polemik di Indonesia. Sejumlah tokoh dan pegiat pluralisme di Indonesia terus mengecam termasuk dari anggota DPR. Bahkan, tokoh pluralis Frans Magnis Suseno mengirimkan langsung surat protes ke Amerika, termasuk tokoh senior pakar hukum Adnan Buyung Nasution juga menyayangkan pemberian penghargaan tersebut.
(tbn)